Singapura Tempati Peringkat Terendah Indeks Ketenangan Dunia
GH News August 24, 2026 11:08 AM
Jakarta -

Singapura ternyata bukan tempat terbaik bagi wisatawan yang mencari ketenangan. Negara itu mencatat skor ketenangan terendah di dunia, menurut Noise-Free Nations Index yang disusun Go2Africa.

Dikutip dari Senin (24/8/2026), Singapura memperoleh Quiet Score hanya 6,78 dari 100, menjadi skor terendah dalam pemeringkatan tersebut. Indeks itu tidak mengukur kebisingan secara langsung menggunakan satuan desibel.

Go2Africa menilai tingkat ketenangan suatu negara melalui tujuh indikator, yakni kepadatan penduduk, jumlah wisatawan, luas wilayah pedesaan, kawasan lindung, kepadatan kendaraan bermotor, keberadaan bandara, dan jaringan kereta api.

Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tenang kondisi sebuah negara. Sebaliknya, skor rendah menunjukkan semakin banyak faktor yang berpotensi membuat suatu destinasi terasa padat dan jauh dari ketenangan.

Salah satu faktor yang membuat Singapura berada di posisi terbawah adalah keterbatasan wilayah yang bisa menjadi ruang tenang. Area pedesaan hanya mencakup sekitar 30 persen dari total wilayah negara.

Di sisi lain, Singapura memiliki kepadatan penduduk sekitar 8.436 orang per kilometer persegi. Jumlah wisatawan yang datang juga sangat besar jika dibandingkan dengan luas wilayahnya, sehingga aktivitas manusia terkonsentrasi di area yang relatif kecil.

Kondisi tersebut membuat kesempatan untuk menemukan kawasan yang benar-benar jauh dari aktivitas perkotaan menjadi lebih terbatas.

Infrastruktur transportasi Singapura juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam indeks. Negara itu memiliki jaringan kendaraan, kereta api, dan penerbangan dengan tingkat kepadatan yang tinggi.

Mass Rapid Transit (MRT) Singapura telah berkembang pesat sejak pertama kali beroperasi pada 1987. Saat ini, jaringan tersebut mencakup lebih dari 170 stasiun dalam enam jalur utama dan melayani lebih dari tiga juta penumpang setiap hari.

Bandara Changi juga menjadi bagian penting dari tingginya mobilitas di Singapura. Bandara tersebut memiliki empat terminal dengan luas keseluruhan lebih dari satu juta meter persegi, atau kira-kira setara dengan 156 lapangan sepak bola.

Besarnya arus wisatawan turut menjadi faktor lain dalam penilaian. Pariwisata merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian Singapura.

Sepanjang 2025, Singapura menerima sekitar 16,9 juta wisatawan internasional, meningkat 2,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kunjungan tersebut menghasilkan rekor pendapatan pariwisata sebesar USD 32,8 miliar.

Dengan tingginya jumlah penduduk, wisatawan, serta aktivitas transportasi dalam wilayah yang relatif kecil, Singapura dinilai memiliki lebih banyak faktor yang mengurangi peluang terciptanya suasana tenang.

Dalam pemeringkatan Go2Africa, Maladewa berada di posisi kedua sebagai negara dengan tingkat ketenangan paling rendah, diikuti Barbados di posisi ketiga. Sementara itu, posisi keempat ditempati Qatar, sedangkan Lebanon berada di urutan kelima.

Di ujung berlawanan, Bhutan dinobatkan sebagai negara paling tenang dalam indeks tersebut. Negara kecil di kawasan Himalaya itu memperoleh Quiet Score jauh lebih tinggi, yang mencerminkan kondisi yang dinilai lebih mendukung bagi wisatawan yang ingin menjauh dari kepadatan dan hiruk-pikuk kehidupan modern.

Dengan demikian, predikat "paling bising" dalam indeks ini sebaiknya dipahami sebagai hasil penilaian terhadap berbagai faktor kepadatan dan infrastruktur, bukan sebagai klaim bahwa Singapura memiliki tingkat kebisingan suara dalam desibel paling tinggi di dunia.

Peringkat negara terbising di dunia

  1. Singapura - Quiet score 6,78
  2. Maldives - 8,48
  3. Barbados - 10,12
  4. Qatar - 15,45
  5. Lebanon - 18,13
Femi Diah
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.