TRIBUNTRENDS.COM - Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama musim kemarau 2026 masih perlu menjadi perhatian. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Yogyakarta menetapkan seluruh wilayah DIY dalam kategori awas terhadap ancaman karhutla.
Kewaspadaan tersebut tercantum dalam peringatan dini BMKG yang berlaku mulai 23 hingga 29 Agustus 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Yogyakarta Feriomex Hutagalung mengatakan kondisi atmosfer saat ini mendukung meningkatnya potensi kebakaran di lahan yang kering.
"Dari informasi dinamika atmosfer, adapun wilayah DIY masuk dalam kategori awas terkait waspada karhutla pada musim kemarau," kata Feriomex melalui keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).
Status awas tersebut mencakup seluruh kabupaten di DIY, yakni Gunungkidul, Bantul, Kulon Progo, dan Sleman. Kota Yogyakarta juga masuk dalam wilayah yang perlu mewaspadai potensi karhutla.
Baca juga: Pemkab Sleman Yogyakarta Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan, Antisipasi Kebakaran Hutan
BMKG menjelaskan, potensi karhutla tidak terlepas dari kondisi iklim yang semakin kering selama musim kemarau. Berdasarkan hasil pemantauan Dasarian Agustus 2026, indeks IOD dasarian tercatat sebesar +0,457, meningkat dibandingkan Juli yang berada di angka +0,242.
Sementara itu, nilai SSTA di wilayah Nino3.4 secara dasarian tercatat +2,77, naik dari +2,20 pada Juli. Kondisi tersebut menunjukkan fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Kondisi yang kering tersebut membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di sekitar lahan kering. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan karena api dapat dengan mudah merambat ketika kondisi lingkungan kering.
Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di area yang memiliki banyak rumput atau vegetasi kering.
Feriomex turut meminta para orangtua mengawasi anak-anak agar tidak bermain dengan api.
"Selalu awasi anak-anak agar tidak bermain api, dan segera laporkan apabila melihat titik api atau kebakaran," pungkasnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan mengajukan 5000 tangki untuk tambahan dropping tahun ini. Hal ini karena kemarau diperkirakan akan sampai bulan November.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, anggaran tahun ini 800 tangki dan diperkirakan akan habis pertengahan September.
Sampai Jumat (21/8/2026) sudah disalurkan sebanyak 484 tangki atau setara 2,67 juta liter.
Untuk mengantisipasi, pihaknya berencana mengajukan penambahan anggaran melalui belanja tak terduga (BTT) milik Pemkab Gunungkidul.
"Bencana hidrometerologi kekeringan sejak Juni lalu. Dengan status ini, maka bisa mengakses anggaran BTT untuk menambah anggaran," kat Purwono saat dihubungi wartawan melalui telepon, Senin (24/8/2026).
Jika mengacu pada prediksi Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau berlangsung hingga November. Selain itu, permintaan dropping air dari setiap kapanewon yang terdampak kekeringan.
Purwono menyebut, awal musim hujan diperkirakan tetap menyalurkan bantuan air bersih karena air milik masyarakat yang ditampung di bak penampungan air hujan belum mencukupi. Jadi, diperkirakan dropping pada awal Desember.
"Kami ajukan penambahan anggaran untuk 5.000 tangki," kata Purwono.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih memastikan pelayanan bantuan air bersih tetap dilaksanakan, dan siap memberikan anggaran untuk dropping air.
"Sudah siap dan bisa diakses kapan saja," kata Endah.
(TribunTrends)