Bayi Prematur Tak Berhenti Berjuang Setelah Keluar NICU, Ini Pentingnya Pendampingan Tumbuh Kembang
Kemal Setia Permana August 24, 2026 12:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Upaya mencegah kelahiran prematur ternyata tidak cukup dilakukan ketika seorang perempuan sudah hamil. Kondisi kesehatan sejak remaja, terutama pada calon ibu, turut menentukan risiko kehamilan dan kelahiran bayi di kemudian hari.

Dokter Spesialis Anak, dr. I.G.A. Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS, mengatakan kesehatan perempuan perlu diperhatikan sejak sebelum memasuki masa kehamilan. 

Sebab sejumlah kondisi yang banyak dialami remaja perempuan dapat menjadi faktor risiko kelahiran prematur.

"Jadi, kesehatan ibu itu penting. Di Indonesia ini masih banyak ibu atau remaja perempuan yang nanti akan menjadi ibu menderita anemia, kegemukan, obesitas. Itu adalah calon-calon yang bisa membuat prematur, ya," ujarnya dalam acara Bedah Buku Bayi Prematur Menjemput Harapan, Minggu (23/8/2026). 

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko masalah selama kehamilan.

Menurut dr. Partiwi, pola hidup sejak masa anak-anak juga ikut berpengaruh. Kurikulum sekolah yang padat dan membuat anak kurang bergerak dapat berkontribusi terhadap masalah berat badan ketika mereka beranjak remaja.

"Remaja perempuan dengan berat badan berlebih, juga berisiko mengalami PCOS. Ketika kemudian hamil, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan diabetes selama kehamilan.
Jadi, artinya mulai sekarang harus terus menjaga kualitas itu bukan saat hamil saja, tapi dari sebelum kehamilan," katanya.

Baca juga: Klarifikasi Dedi Mulyadi Disindir Korban Bencana di Sukabumi: Kejadian Sebelum Jabat Gubernur

Partiwi mengatakan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan menjadi bagian penting setelah bayi prematur pulang dari rumah sakit. 

Menurut dia, kemampuan tersebut tidak hanya perlu dimiliki dokter spesialis anak, tetapi juga tenaga kesehatan yang berada dekat dengan keluarga.

"Semua dokter anak sebetulnya mampu melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan," ujar dr. Partiwi.

Ia berharap tenaga kesehatan, termasuk dokter puskesmas, bidan, mahasiswa kedokteran, maupun dokter yang sedang menjalani pendidikan spesialis anak, dapat memberikan pendampingan kepada ibu yang melahirkan bayi prematur.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Neonatologi, DR. dr. Tetty Yuniarti, Sp.A(K), M.Kes., mengatakan orang tua perlu memperhatikan fasilitas rumah sakit ketika harus menjalani persalinan dengan risiko kelahiran prematur.

"Kalau sudah prematur tentu saja sebaiknya kita mencari rumah sakit yang punya fasilitas-fasilitas ICU," ujar dr.Tetty.

Ia mengatakan fasilitas NICU kini telah tersedia di banyak rumah sakit. Namun, selain fasilitas, kemampuan tenaga medis dalam menangani bayi prematur juga menjadi faktor penting.

"Jadi, dengan penanganan yang tepat, dokter-dokternya juga memang sudah terbiasa merawat prematur, insyaallah nanti bayinya juga keluar dengan baik, dengan kualitas baik," katanya.

Pendampingan tersebut diperlukan karena bayi prematur memiliki perjalanan tumbuh kembang yang perlu diperhatikan secara berkelanjutan. 

Orang tua juga perlu mendapatkan pemahaman mengenai nutrisi, stimulasi, serta pemantauan perkembangan anak setelah keluar dari rumah sakit. Pasalnya, bayi prematur masih membutuhkan pemantauan hingga masa kanak-kanak dan remaja. 

Kajian tersebut tertuang dalam buku Bayi Prematur Menjemput Harapan, karya Prof. dr. Tono Djuwantono, Sp.OG(K), M.Kes., DR. dr. Tetty Yuniarti, Sp.A(K), M.Kes., dan dr. I.G.A. Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS.
 
Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas itu membahas perjalanan bayi prematur mulai dari masa kehamilan, perawatan intensif di NICU, hingga pendampingan setelah bayi kembali ke rumah.

Salah satu pendekatan yang dibahas adalah Family Integrated Care (FiCare), yang menempatkan orang tua sebagai bagian dari proses perawatan bayi selama berada di NICU.

Baca juga: Derita Korban Banjir di Sukabumi: Terpaksa Cicil Tanah Relokasi, Janji Bantuan KDM Tak Kunjung Tiba

Dengan pendekatan tersebut, orang tua tidak hanya menunggu di luar ruang perawatan, tetapi dilibatkan setelah mendapatkan edukasi dan pendampingan dari tenaga kesehatan. 

Keterlibatan itu dapat dimulai dari pemberian kolostrum dan ASI hingga pendampingan setelah bayi pulang.

Tetty mengatakan keberhasilan perawatan bayi prematur kini tidak lagi hanya dilihat dari kemampuan bayi bertahan hidup di NICU.

"Teknologi membantu bayi bertahan hidup. Namun, kehadiran keluarga membantu mereka bertumbuh," ujarnya.

Karena itu, perjalanan bayi prematur tidak berhenti ketika bayi keluar dari NICU. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan tetap diperlukan agar bayi memiliki kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.