Iran Sebut Perkuat Industri Senjata sebagai Strategi Pertahanan, Klaim Produksi Naik Dua Kali Lipat
Tribun-video August 24, 2026 12:42 PM
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baruTRIBUN-VIDEO.COM - Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei-Nik, mengatakan penguatan kemampuan militer menjadi dasar strategi pencegahan Iran.Menurutnya, Teheran terus memperkuat industri pertahanan dalam negeri.Langkah tersebut dilakukan untuk menghadapi pihak yang dinilai ingin menguasai Iran atau kawasan.Talaei-Nik juga mengatakan industri pertahanan Iran terus meningkatkan produksi. Dalam keterangannya dirilis Viory (24/8/2026) produksi senjata, peralatan, dan amunisi Iran disebut meningkat dua kali lipat dalam setahun terakhir.Peningkatan tersebut disebut terjadi meski sejumlah bagian terbatas dari industri pertahanan Iran menjadi sasaran dalam perang selama 12 hari."Produksi kami dalam setahun terakhir meningkat dua kali lipat dalam hal senjata dan peralatan pertahanan yang diproduksi di negara kami," kata Talaei-Nik.Ia juga menyebut sebagian produk pertahanan strategis mengalami peningkatan produksi lebih dari tiga kali lipat selama perang.Talaei-Nik menekankan kemampuan Iran untuk memproduksi dan mengganti senjata menjadi salah satu keunggulan industri pertahanan negaranya.Menurutnya, produksi tetap berjalan bersamaan dengan penggunaan senjata dan peralatan Iran di medan perang.Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei-Nik, juga mengatakan industri pertahanan kini melibatkan perusahaan berbasis pengetahuan dan sektor swasta.Ia menyebut dua pertiga subsistem, komponen, dan bahan baku yang digunakan dalam senjata serta peralatan industri pertahanan diproduksi oleh perusahaan tersebut."Hari ini, dua pertiga dari subsistem, bagian, dan bahan baku yang digunakan dalam senjata dan peralatan industri pertahanan diproduksi oleh perusahaan berbasis pengetahuan dan sektor swasta," ujarnya.Menurut Talaei-Nik, penguatan produksi dalam negeri membuat Iran dapat terus memenuhi kebutuhan pertahanannya.Ia juga mengklaim biaya produksi senjata, peralatan, dan amunisi militer Iran lebih rendah dibandingkan produk asing yang sejenis."Dibandingkan dengan senjata dan amunisi serupa yang digunakan oleh musuh-musuh kita dalam perang yang dipaksakan ini, kami mencapai biaya produksi yang jauh lebih rendah dari perspektif ekonomi," kata Talaei-Nik.Ia menyebut biaya produksi akhir sejumlah senjata, peralatan, dan amunisi militer Iran dapat mencapai 10 hingga 20 kali lebih rendah dibandingkan produk asing yang setara."Biaya produksi akhir senjata, peralatan, dan amunisi militer di Iran adalah 10 hingga 20 kali lebih rendah dari padanan asing mereka," lanjutnya.Talaei-Nik juga menilai kemampuan produksi dalam negeri penting untuk menjaga keberlanjutan industri pertahanan Iran.Ia mengatakan kemampuan tersebut memungkinkan Iran tetap memproduksi kebutuhan militernya di tengah tekanan dan konflik.Sementara itu, Penjabat Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Ibn al-Reza, mengatakan strategi pertahanan Iran tidak berorientasi pada agresi.Menurutnya, pencegahan dilakukan dengan memastikan setiap serangan terhadap Iran mendapat respons tegas."Kami percaya bahwa pencegahan yang efektif dibangun bukan melalui agresi, tetapi dengan memaksakan biaya yang tak tertahankan pada agresor dan memastikan respons yang menentukan yang mencegah kekambuhannya," ujar Ibn al-Reza.Ia mengatakan konsep tersebut telah diterapkan Iran dalam perang terbaru.Ibn al-Reza juga menilai posisi strategis dan bobot geopolitik Iran membuat negaranya menjadi sasaran ambisi kekuatan global."Sepanjang sejarah, Iran selalu menjadi fokus dan target ambisi kekuatan global karena posisi strategis, kepentingan, dan bobot geopolitiknya di kawasan dan sistem internasional," katanya.Dalam pertemuan dengan para atase militer asing di Teheran, Ibn al-Reza juga mengkritik lembaga internasional dan organisasi hak asasi manusia.Ia menilai pelanggaran hukum humaniter selama konflik menunjukkan lemahnya lembaga-lembaga tersebut."Dalam perang baru-baru ini melawan Republik Islam, pelanggaran semua norma etika, prinsip, dan hukum kemanusiaan menunjukkan keruntuhan dan inefisiensi lembaga dan organisasi internasional," tegasnya.(Tribun-Video.com)Program: Tribunnews UpdateHost: Thalia IzaEditor Video: Daniel Dwi YUploader: #VIORY