Seminggu Kebakaran di Desa Wailulu dan UPT SP2 Maluku Tengah, Belum Tahu dari Mana Api Berasal 
Fandi Wattimena August 24, 2026 12:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

MALUKU TENGAH, TRIBUNAMBON.COM - Sudah satu minggu lebih kebakaran melanda hutan dan kebun warga di Desa Wailulu, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah.

Namun, asal api masih menjadi tanda tanya. 

Kepala Pemerintah Desa Wailulu, Muslim Tounussa, melalui sambungan telepon WhatsApp dengan Reporter TribunAmbon.com pada Minggu (23/8/2026), mengaku belum mengetahui penyebab pasti kebakaran yang menghanguskan ratusan hektare kawasan hutan dan kebun warga tersebut.

"Beta seng tau sumber kebakaran," kata Muslim.

Namun dugaan sementara mereka mungkin berasal dari puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Apalagi, kata dia, saat ini masyarakat menghadapi musim kemarau panjang sehingga kondisi kawasan hutan dan kebun cukup mudah terbakar.

"Barangkali ada orang yang isap rokok buang karena ini kan musim kemarau panjang," duganya.

Baca juga: Proyek PT Balam Energy di Bula, Warga Desak Kontraktor dan Pekerja Lokal Jadi Prioritas

Baca juga: Tak Perlu Tunggu Tanpa Kepastian, Warga Rasakan Manfaat Pengukuran Terjadwal Saat Sertipikasi Tanah

Meski sumber api belum diketahui, warga sudah berulang kali melakukan pemadaman.

Api yang telah berhasil dijinakkan kembali muncul di titik lainnya.

"Beberapa kali juga sudah diatasi. Beta dengan masyarakat padamkan, jadi kita padamkan beberapa kali, habis itu terbakar lai," katanya.

Kebakaran disebut telah terjadi sejak sebelum 17 Agustus 2026.

Bahkan saat kembali mengonfirmasi pada Senin (24/8/2026) sekitar pukul 12.55 WIT, Kepala Pemerintah Negeri Wailulu, mengakui api masih menjalar. 

Saat ini bersama dengan warganya masih melakukan pemadaman di kawasan kebun.

Pemadam diakui sulit dilakukan, mengingat keterbatasan sumber air. 

Warga harus memikul air dan berjalan kaki kurang lebih sekilo. 

Dalam insiden kebakaran ini tidak ada korban jiwa. 

Namun, kejadian itu membuat warga alami kerugian cukup banyak karena ratusan hektar kebun menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat hangus terbakar. 

Ribuan tanaman produktif seperti cengkeh, kelapa dan cokelat terbakar habis. 

Namun diakui, hingga kini ia belum dapat merampung data pasti mengenai jumlah tanaman yang rusak.

“Kalau mau hitung seluruhnya ribu, karena ini hitung dua negeri," ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.