TRIBUNTRENDS.COM - Komika Pandji Pragiwaksono menyoroti kondisi politik dan pemerintahan Indonesia saat ini. Kritik dari masyarakat terhadap pemerintah seolah tak habis disuarakan.
Pandji menilai penggantian presiden tidak lantas menyelesaikan masalah. Kali ini Pandji menyebut tiga persoalan yang menurutnya menjadi masalah besar Indonesia saat ini, yakni hukum, etika, dan komunikasi.
Sementara Hendri Satrio memiliki urutan berbeda dan menempatkan ekonomi, hukum, serta komunikasi sebagai persoalan utama.
Pandji sendiri menempatkan hukum sebagai masalah nomor satu.
"Dari startnya aja udah obok-ngobok hukum soalnya," kata Pandji.
Ia menyoroti dugaan perubahan atau penyesuaian aturan untuk mengakomodasi kepentingan tertentu. Menurutnya, persoalan hukum tidak hanya menyangkut hasil akhir, tetapi juga proses bagaimana seseorang dapat menduduki jabatan tertentu.
"Kita kan ngomong tata cara untuk naruh seseorang di situ ya. Pokoknya akhirnya si aturannya diubah-ubah deh," ujarnya.
Baca juga: Soroti Kondisi Indonesia, Pandji Nilai Ganti Presiden Bukan Solusi: Arah yang Benar tapi Belum Baik
Masalah kedua yang disoroti Pandji adalah etika. Ia menilai sesuatu yang secara hukum diperbolehkan belum tentu secara etika dapat dibenarkan.
"Betul, tapi kalau tidak baik apa? Iya kita lakuin gitu," katanya.
Menurut Pandji, prinsip "baik dan benar" semestinya berjalan bersamaan. Ia mengkritik pola pikir yang hanya berpegang pada anggapan bahwa selama tidak melanggar aturan, sebuah tindakan dianggap selesai.
"Jangan berhenti di enggak salah dong. Capai sesuatu yang benar dan pada saat yang bersamaan baik," ujarnya.
Pandji kemudian menyinggung persoalan pengisian jabatan yang menurutnya perlu mempertimbangkan kompetensi, bukan sekadar kedekatan dengan pemimpin.
"Etikanya datang eh tidak ada etikanya datang dari memberikan orang yang tidak kompeten di jabatan hanya karena kedekatan dengan yang memimpin," katanya.
Pandji juga menilai persoalan yang terjadi saat ini tidak terlepas dari apa yang ia sebut sebagai kelemahan kepemimpinan Prabowo-Gibran.
"Karena kelemahan kepemimpinan Prabowo Gibran," ujar Pandji ketika ditanya mengapa kondisi politik Indonesia terasa semakin rumit.
Ia mengatakan publik belum sepenuhnya yakin bahwa Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka benar-benar bekerja secara solid sebagai satu kepemimpinan.
"Publik enggak yakin dan publik enggak PD bahwa berdua ini nyatu," katanya.
Meski demikian, Pandji menilai secara teori berbagai persoalan pemerintahan tetap dapat diperbaiki tanpa harus mengganti presiden. Menurut dia, hal tersebut sangat bergantung pada kemauan politik dan kesediaan pemimpin untuk mengakui kekeliruan.
"Secara teori harusnya bisa," ujar Pandji.
Persoalan ketiga yang disoroti Pandji adalah komunikasi pemerintah kepada masyarakat. Menurut dia, sejumlah pernyataan pejabat publik justru dapat memicu polemik karena tidak mempertimbangkan sensitivitas masyarakat.
"Ya gitulah karena dari atas komunikasinya atau tidak peduli dengan komunikasi turun ke bawah komunikasinya enggak dipikirin gitu," katanya.
Pandji menilai masalah komunikasi semakin besar di era media sosial karena masyarakat dapat merespons pernyataan pejabat dengan cepat.
"Internet membuat orang lebih cepat untuk tersinggung, lebih cepat untuk marah," ujarnya.
Karena itu, menurut Pandji, pejabat publik seharusnya lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan kepada masyarakat.
(TribunTrends)