Iran menolak menyerah di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat.
Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak akan memberikan konsesi, tetapi juga tidak ingin perang kembali pecah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak berniat memberikan konsesi kepada AS.
Namun, di saat yang sama, ia menyerukan agar situasi “tidak perang, tidak damai” antara Iran dan AS segera diakhiri.
Menurut IRNA, para pejabat Iran hampir setiap hari membahas cara keluar dari kondisi tersebut tanpa mengorbankan prinsip dan nilai-nilai negara.
Upaya itu juga dilakukan untuk mencegah pihak yang dianggap musuh mempertimbangkan serangan baru terhadap Iran.
Pezeshkian menilai perang tidak akan menyelesaikan persoalan dan justru dapat memperburuk kondisi yang sudah sulit.
Ketidakpastian mengenai kemungkinan konflik baru juga disebut terus memberikan tekanan terhadap perekonomian Iran.
Menurutnya, investasi akan sulit masuk ke Iran selama ancaman perang masih membayangi negara tersebut.
Karena itu, Pezeshkian mendorong penyelesaian melalui pendekatan rasional sambil tetap mempertahankan kekuatan Iran.
Ia juga membela nota kesepahaman yang sebelumnya dicapai antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut Pezeshkian, kesepakatan tersebut tidak berarti Iran menyerah atau harus memberikan konsesi kepada Washington.
Nota kesepahaman itu ditandatangani Iran dan AS pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar.
Kesepakatan tersebut sempat membuka jalan bagi penghentian permusuhan dan kelanjutan negosiasi menuju kesepakatan akhir.
Namun, perundingan berikutnya terhenti akibat perselisihan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman tersebut.
Persoalan juga muncul terkait pengaturan navigasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Kini Teheran berusaha mempertahankan kekuatannya sekaligus mencari jalan keluar dari kebuntuan dengan Washington.
Jika kondisi “tidak perang, tidak damai” terus berlangsung, tekanan ekonomi dan ancaman konflik baru akan tetap membayangi Iran.