Di Balik Tradisi Nganggung di Bangka Belitung, Ada Kisah Palagan 12 dan Maulid Nabi
Ardhina Trisila Sakti August 24, 2026 02:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Nganggung bukan sekadar tradisi membawa dulang berisi makanan ke masjid, surau atau tempat berkumpul.

Bagi masyarakat Bangka, tradisi ini juga menjadi bagian dari cara merayakan hari-hari besar keagamaan, termasuk Maulid Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap 12 Rabiulawal.

Namun, ada satu kisah sejarah yang membuat tanggal tersebut memiliki makna lain bagi masyarakat Bangka. Pada 12 Rabiulawal 1365 Hijriah atau 14 Februari 1946, terjadi pertempuran antara pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) melawan pasukan Sekutu dan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) Belanda di kawasan Kilometer 12, antara Petaling dan Cengkong Abang.

Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Palagan 12.

Sejarawan dan budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato’Akhmad Elvian, menjelaskan, peristiwa Palagan 12 memiliki keterkaitan dengan suasana perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di tengah masyarakat Bangka kala itu.

Pada setiap 12 Rabiulawal, masyarakat Bangka lazim memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan tradisi Nganggung. Warga membawa dulang berisi hidangan dari rumah masing-masing untuk disantap dan dinikmati bersama di masjid, langgar maupun surau.

Bahkan, dalam tradisi masyarakat Bangka, perayaan Maulid Nabi memiliki suasana yang meriah dan penuh suka cita, hampir seperti perayaan hari raya Idulfitri maupun Iduladha.

Namun, suasana berbeda terjadi pada 12 Rabiulawal 1365 Hijriah.

Di tengah persiapan masyarakat menyambut Maulid Nabi, wilayah kampung-kampung di sekitar lokasi pertempuran justru berada dalam suasana mencekam.

"Kedatangan pasukan Sekutu dan NICA Belanda serta pecahnya pertempuran membuat tradisi Nganggung di sejumlah kampung tidak dapat dilaksanakan semeriah biasanya," kata Elvian kepada Bangkapos.com, Senin (24/8/2026).

Masyarakat bahkan mempercepat pelaksanaan Nganggung sebagai bentuk penyesuaian dengan situasi keamanan yang sedang genting.

Di saat sebagian masyarakat tengah memperingati Maulid Nabi, para pejuang Bangka justru berada di garis depan mempertahankan wilayah dari pasukan Belanda.

Pertempuran berlangsung di kawasan Kampung Puding, Petaling hingga Kilometer 12 menuju Pangkalpinang.

Pasukan TRI dari sejumlah kesatuan bersama pasukan Barisan Berani Mati berupaya menghadang laju pasukan NICA yang bergerak menuju Pangkalpinang. Perlawanan tersebut berlangsung sengit.

Namun, kekuatan pasukan NICA akhirnya berhasil melumpuhkan pertahanan pasukan TRI Belinyu, Barisan Berani Mati serta pasukan TRI dari Pangkalpinang. Pasukan Belanda kemudian dapat bergerak menuju kawasan Bukit Ma Andil.

Sebanyak 12 pejuang gugur dalam pertempuran tersebut.

"Mereka adalah Suardi Marsam, Abdul Somad Tholib, Adam Cholik, Salim Adok, Sulaiman Saimin, Abdul Majid Gambang, Karto Saleh, Kamsen, Ali Samid, Apip Adi, Saman Samin dan Jamher. Mereka berasal dari berbagai kesatuan, mulai dari Kompi TRI Belinyu, Pasukan Berani Mati, TRI dari Aik Duren hingga TRI Pangkalpinang," jelasnya.

Angka 12 kemudian menjadi bagian kuat dari ingatan kolektif masyarakat Bangka. Sebanyak 12 pejuang gugur dalam pertempuran yang berlangsung di Kilometer 12, sekitar pukul 12.00, dan bertepatan dengan 12 Rabiulawal.

Dari rangkaian angka tersebut, para pejuang yang gugur kemudian dikenang sebagai Pahlawan 12.

Catatan sejarah lokal juga menyebutkan bahwa pertempuran di Kilometer 12 terjadi pada 12 Rabiulawal atau 14 Februari 1946 sekitar pukul 12 siang.

Sejumlah sumber sejarah sebelumnya sempat mencatat tanggal berbeda, tetapi penelitian yang mencocokkan penanggalan Hijriah dan Masehi menyimpulkan 12 Rabiulawal 1365 Hijriah bertepatan dengan Kamis, 14 Februari 1946.

Seiring waktu, kisah Palagan 12 menjadi bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Bangka. Sementara itu, tradisi Nganggung tetap hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

"Nganggung pada dasarnya bukan hanya tentang makanan yang dibawa menggunakan dulang. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, kepedulian dan silaturahmi," ujar Elvian.

Setiap keluarga membawa hidangan dari rumah. Setelah dikumpulkan di tempat yang telah ditentukan, makanan tersebut kemudian disantap bersama.

Tradisi itu menggambarkan filosofi Sepintu Sedulang dari setiap pintu rumah, masyarakat membawa satu dulang untuk kemudian dinikmati bersama.

"Nilai inilah yang membuat Nganggung tetap relevan meski zaman terus berubah.

Bagi masyarakat Bangka Belitung, Maulid Nabi juga menjadi salah satu momentum penting untuk menjaga tradisi tersebut. Di sejumlah daerah, peringatan Maulid Nabi disambut dengan suka cita dan semarak, layaknya suasana hari raya," pungkasnya.

Karena itu, Nganggung tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk bertemu, berbagi makanan, mempererat hubungan dan merawat identitas budaya.

Semangat menjaga tradisi tersebut juga akan kembali terlihat di Kota Pangkalpinang. Pemerintah Kota Pangkalpinang melalui Dinas Pariwisata akan menggelar Festival Nganggung 2026 di Masjid Raya Tua Tunu, Selasa, 25 Agustus 2026.

Festival tahun ini mengusung tema "1000 Pintu, 1000 Dulang".

Tema tersebut mengambil filosofi Sepintu Sedulang, dengan 1.000 pintu merepresentasikan masyarakat yang datang dari berbagai latar belakang, sementara 1.000 dulang menjadi simbol kontribusi dan kebersamaan masyarakat.

Melalui festival tersebut, Nganggung tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi, tetapi juga dikemas menjadi bagian dari daya tarik wisata budaya Pangkalpinang.

Dengan demikian, masyarakat tidak sekadar diajak mengenal Nganggung sebagai tradisi membawa makanan, tetapi juga memahami nilai yang ada di baliknya, berbagi, bergotong royong dan duduk bersama tanpa melihat perbedaan.

Di tengah kehidupan yang semakin modern, nilai-nilai tersebut justru menjadi semakin penting.

Sebab, Nganggung pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang ada di dalam dulang. Ia juga bercerita tentang bagaimana masyarakat Bangka menjaga kebersamaan dari generasi ke generasi.

Dan di balik tradisi yang terlihat sederhana itu, tersimpan pula kisah sejarah tentang para pejuang yang gugur mempertahankan tanah Bangka pada sebuah hari yang bertepatan dengan Maulid Nabi.

12 Rabiulawal menjadi saksi. Di satu sisi, masyarakat memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan Nganggung.

Di sisi lain, 12 pejuang gugur dalam pertempuran di Kilometer 12. Dari sanalah nama Pahlawan 12 terus hidup dalam ingatan masyarakat Bangka.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.