19 Ribu Lebih Halaman Manuskrip Aceh Diselamatkan Lewat Digitalisasi DREAMSEA dan Pedir Museum
Ansari Hasyim August 24, 2026 02:39 PM

19 Ribu Lebih Halaman Manuskrip Aceh Diselamatkan Lewat Digitalisasi DREAMSEA dan Pedir Museum

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sebanyak 19 ribu lebih halaman manuskrip atau naskah kuno Aceh tengah diselamatkan melalui preservasi nonfisik dengan metode digitalisasi.

Upaya tersebut dilakukan melalui program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA).

Program ini menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga warisan intelektual Aceh yang keberadaannya semakin rentan akibat faktor usia, bencana, hingga risiko kehilangan dan perpindahan kepemilikan.

Direktur Pedir Museum sekaligus Project Leader Misi Aceh DREAMSEA, Masykur Syafruddin, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya pelestarian manuskrip di kawasan Asia Tenggara.

DREAMSEA dilaksanakan oleh Pusat Studi Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta) bekerja sama dengan Pusat Studi Budaya Manuskrip (CSMC) di Universitas Hamburg, Jerman.

"Dalam proyek ini, Pedir Museum menjadi mitra pelaksana Misi Aceh," kata Masykur, Minggu (23/8/2026).

Menurutnya, lebih dari 19 ribu halaman manuskrip yang didigitalisasi berasal dari tujuh pemilik koleksi individu maupun lembaga yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Aceh.

Di Kabupaten Pidie, koleksi berasal dari Dayah At-Thahiriyah, Gampong Paloh Jurong Pande, serta koleksi Ahmad Zaki di Gampong Sentosa Beureunuen.

Selanjutnya, di Aceh Besar terdapat koleksi Mukhtaruddin di Gampong Tantuha, Lamkrak.

Sementara di Banda Aceh, digitalisasi dilakukan terhadap koleksi Muhammad Iqbal dan Adhitya Iskandar.

Adapun di Kabupaten Aceh Jaya, koleksi yang dipreservasi berasal dari Dayah Bustanul Aidarusiyah.

"Naskah yang dipreservasi ini open-source dan bisa diakses secara daring oleh kalangan masyarakat umum, akademisi, dan pengkaji manuskrip demi keperluan berbagai penelitian dan ilmu pengetahuan," kata Masykur yang juga Project Leader.

Masykur mengatakan setiap naskah yang didigitalisasi melalui proses metadata, baik dari aspek kandungan bahasa naskah (filologis) maupun kondisi fisik naskah (kodikologis).

Proses digitalisasi dilakukan oleh tim yang terdiri dari; Masykur Syafruddin sebagai Academic expert, Istiqmatunnisak dan Raudhatul Jannah sebagai Assistant Academic Expert.

Sementara itu, Muhammad Hidayatul Qarimah sebagai photografher, Rahmat Riski, dan Khairul Hidayat sebagai Assistant photografher.

Masa kerja, kata Masykur, berlangsung dari 14 Juli hingga 8 September 2026, dengan durasi 57 hari atau 39 hari kerja yang dibagi dalam 2 fase yaitu 20 hari dan 19 hari.

Masykur menjelaskan, saat ini pelestarian manuskrip melalui preservasi, baik fisik maupun nonfisik, penting dilakukan karena keberadaannya terancam dimakan usia.

Selain itu, manuskrip juga rentan terdampak bencana alam dan kejadian tidak terduga seperti kebakaran atau kehilangan.

"Aceh sendiri cukup banyak manuskrip yang tersebar di seluruh dunia dan itu merupakan khazanah intelektual pendahulu kita. Penyelamatan lewat digitalisasi sebenarnya momen penting untuk menyelamatkan warisan tersebut,”

“Mengingat keberadaan manuskrip Aceh juga sekarang sudah banyak berpindah tangan bahkan diperjualbelikan ke luar negeri," katanya.

Oleh karena itu, tambah Masykur, masyarakat Aceh sendiri, baik secara personal maupun kelembagaan, memiliki hak untuk menjaga dan melestarikan warisan sejarah Aceh.

Sebab, di dalamnya cukup banyak terkandung ilmu pengetahuan yang bisa diekstrak dan dikaji untuk berbagai cabang keilmuan lainnya

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.