TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi dilaporkan mengalami 16 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-31 mm dan lama gempa 50.87-126.44 detik.
Selain itu tercatat pula 18 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-31 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 9.85-36.36 detik.
Serta 3 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 4-80 mm, dan lama gempa 11.16-18.97 detik.
Dan 1 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 12 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 131.63 detik.
Hal itu berdasarkan hasil laporan terakhir BPPTKG Yogyakarta sepanjang periode pengamatan hingga siang ini, Senin (24/8/2026), hingga pukul 12.00 WIB.
Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan Level III (Siaga) untuk gunung berapi aktif di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut.
Untuk pengamatan visual, Gunung api tertutup Kabut 0-II hingga tertutup Kabut 0-III.
Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 525 meter dari puncak.
Cuaca teramati berawan, angin tenang ke arah timur.
Suhu udara sekitar 21.7-25.9°C. Kelembaban 72.4-81 persen. Tekanan udara 876.1-921.11 mmHg.
Baca juga: Polresta Sleman Ringkus Terduga Pelaku Pembuangan Bayi di Pasar Sleman
Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat juga agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya, dan mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Selain itu, masyarakat juga diimbau agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)