TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan mengambil langkah tegas menutup total akses Jalan Amal Lama, jalur Universitas Borneo Tarakan menuju Pantai Amal, Kalimantan Utara (Kaltara) mulai Senin (24/8/2026).
Langkah darurat ini diambil setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merambat ke bawah permukaan dan membakar lapisan endapan batu bara di bawah badan jalan.
Wali Kota Tarakan, Khairul, meninjau langsung lokasi terdampak bersama unsur Forkopimda, termasuk Kapolres Tarakan, Dandim 0907/Tarakan, perwakilan Kodaeral XIII, serta instansi teknis terkait.
Dari peninjauan tersebut, ditemukan rongga berbahaya di bawah jalan yang berisiko membuat badan jalan runtuh jika terus dilintasi kendaraan.
"Ya, langkah ya saya kira yang pertama kita sudah lihat sama-sama ini, hadir semua ada Pak Dandim, Pak Kapolres, tadi Koderal juga. Terus dari beberapa pelayanan yang ada seperti sekolah SMPN 10 dan Puskesmas yang akan terdampak. Jadi keputusan kita bahwa ini jalan kita tutup sementara ya, sampai dilakukan penanganan secara menyeluruh," tegas Khairul.
Ia menjelaskan terbakarnya material batu bara di bawah konstruksi jalan membuat struktur penyangga di bawahnya terkikis hingga berongga.
"Sudah kroak ya, sudah kosong di bawah ini. Kita khawatir runtuh. Kita khawatir ya kalau pas ada orang lewat kan bahaya," bebernya.
Baca juga: 4 Titik Karhutla di Tarakan Mengandung Batu Bara, BPBD Siapkan Mitigasi Khusus
Khairul mengibaratkan kondisi terbakar di bawah tanah ini seperti fenomena api dalam sekam yang merambat perlahan tetapi membahayakan keselamatan pengguna jalan.
"Luasan lahan di bawah ini mungkin 5 meter, tapi itu yang kelihatan, kalau kita kan enggak tahu di dalam merembetnya. Api merembetnya pelan-pelan seperti sekam. Api dalam sekam. Ini sama, api dalam batu bara," jelas Khairul.
Atas masukan teknis dari pihak Sucofindo dan Pertamina yang berpengalaman menangani kasus serupa, Pemkot Tarakan berencana memutus total struktur jalan yang terdampak untuk menghentikan perambatan api.
"Nanti penanganannya jalan akan diputus, supaya tidak merembet," kata Khairul.
"Badan jalan ini diputus. Jalannya dikeruk, isi batu baranya dikeruk lalu ditimbun lagi, disiram, dan yang sudah terbakar dimatikan," lanjut Wali Kota Tarakan.
Selain pengerukan, penanganan juga dilengkapi dengan pembuatan kolam-kolam resapan air kecil di area sekitarnya untuk memadamkan bara api secara perlahan dan mencegah timbulnya percikan baru.
"Yang kedua, di sekitarnya itu tadi saran dari Sucofindo, saran dari Pertamina ya, yang sudah pengalaman menangani masalah begini, itu dibuat kolam-kolam kecil nanti untuk peresapan air supaya memadamkan api secara pelan-pelan," ungkap Khairul.
Baca juga: Termasuk Kaltara, Bareskrim Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla, Kejar Aliran Dana
Untuk menjamin kelancaran mobilitas warga, pelajar SMPN 10, serta pengunjung Puskesmas, Pemkot Tarakan menyiapakan skema pengalihan arus lalu lintas melalui beberapa jalur alternatif.
"Nanti yang ke Pantai Amal biasa lewat di depan Marinir itu ada jalan rigid betonisasi di situ, nanti lewat jembatan, menyusur di kawasan wisata Pantai Amal, lurus," ucapnya.
Pengendara dari arah Amal (RT 1 dan RT 2) juga disarankan melintasi jalur Kampung Karungan (Mamburungan Timur) atau menggunakan akses jalan TMMD buatan Kodim 0907 yang tembus ke depan Mako Marinir.
Penanganan darurat ini dilakukan secara terpadu. Dinas PU bertindak sebagai pelaksana pengerukan dan pemulihan jalan, Universitas Borneo Tarakan (UBT) memfasilitasi suplai air, serta PJT membantu pembuatan kolam resapan.
Sementara itu, BPBD Tarakan disiagakan di lokasi untuk terus mengawasi potensi munculnya titik api selama proses pengerjaan.
(*)
Penulis: Andi Pausiah