TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hilirisasi kelapa sawit membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas akses ke pasar ekspor.
Pengembangan produk turunan sawit berorientasi ekspor dapat menjadi salah satu strategi mewujudkan industri sawit nasional yang berkelanjutan.
Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha Maghfiruha Rachbini, mengatakan potensi pengembangan UMKM berbasis kelapa sawit di Indonesia sangat besar. Ia mengatakan, para pelaku UMKM dapat mengembangkan berbagai produk turunan sawit mulai dari bidang pangan (oleofood), bahan kimia (oleochemical), hingga bioenergi.
Baca juga: Sensor Cerdas, AI, dan IoT: Masa Depan Industri Kelapa Sawit RI
Hingga saat ini program hilirisasi kelapa sawit telah menghasilkan lebih dari 193 jenis produk turunan. Perkembangan tersebut memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional mulai dari peningkatan harga TBS di tingkat petani, perluasan lapangan kerja, serta penciptaan efek ekonomi berantai yang lebih luas.
“Potensi UMKM berbasis kelapa sawit sangat besar. Ke depan perlu ditingkatkan UMKM yang mampu memberikan nilai tambah dari produk atau komoditas kelapa sawit,” katanya di Jakarta, Senin (24/8/2026).
Eisha Rachbini mendorong pelaku UMKM berbasis kelapa sawit untuk meningkatkan daya saing dan berani masuk ke pasar internasional. Ia menjelaskan, saat ini kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor nasional masih relatif rendah yakni sekitar 15 persen.
Ia meyakini, komoditas kelapa sawit dapat menjadi salah satu sektor yang mendorong peningkatan kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor. Apalagi, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia.
“Kontribusi UMKM terhadap ekspor hanya sekitar 15 persen dan nilainya stagnan, tidak berkembang. Ke depan perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Peraih gelar doktoral dalam studi kebijakan ekonomi internasional dari Universitas Waseda, Jepang, tersebut juga mendorong pelaku UMKM dapat menjadi bagian dari rantai pasok global produk berbasis kelapa sawit.
Ia menjelaskan, keterlibatan UMKM dalam rantai pasok global dapat mendorong transformasi usaha, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat kualitas produk sesuai dengan standar global.
“Karena ketika UMKM masuk pasar global baik menjadi eksportir atau pemasok rantai nilai global maka akan berproduksi dengan standar dan kualifikasi pasar global. Hal itu akan mendorong UMKM untuk lebih efisien dalam produksi dan mendorong mereka naik kelas,” paparnya.
Eisha meyakini pelaku UMKM berbasis kelapa sawit memiliki peluang untuk memenuhi standar dan kualifikasi pasar global tersebut. Apalagi jika berkaca kepada keberhasilan program hilirisasi sawit yang sukses meningkatkan nilai tambah (added value) produk secara signifikan.
Secara umum hilirisasi sawit dapat meningkatkan nilai ekonomi produk antara tiga hingga 10 kali lipat. Bahkan, nilai tambah untuk produk bernilai tinggi seperti vitamin E dan oleokimia tertentu dapat mencapai lebih dari 30 kali lipat.
Meski demikian, ia mengharapkan pemerintah tetap memberi pendampingan dan dukungan kepada UMKM yang beriorientasi ekspor.
Dukungan tersebut dapat mencakup penguatan kapasitas keuangan, pemberian insentif, hingga bantuan teknis (technical assistance) untuk mendorong produktivitas dan menurunkan biaya produksi.
“Tantangan menjadi eksportir cukup besar bagi UMKM. Terlebih, untuk menembus pasar global yang mana memiliki barrier cukup besar di tengah keterbatasan kapasitas finansial dan produksi dari UMKM,” ujarnya.
Selama ini pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong pengembangan UMKM berbasis kelapa sawit yang berorientasi ekspor. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat industri sawit nasional sekaligus mendorong pengembangan industri yang berkelanjutan.
Eisha menambahkan, pemerintah dapat memperkuat dukungan kepada UMKM berorientasi ekspor melalui pemetaan pasar potensial, pencarian calon pembeli (potential buyer), serta memfasilitasi business matching antara pelaku UMKM dengan mitra usaha di pasar global.
“Perwakilan Indonesia di luar negeri, atase perdagangan, dan ITPC perlu lebih aktif melakukan pemetaan potensi pasar bagi UMKM ekspor,” pungkasnya.