TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah Indonesia membuka peluang memperluas kerja sama industri dan teknologi dengan Rusia. Pembicaraan awal mengenai perluasan kerja sama kedua negara sebelumnya sudah di bahas dalam INNOPROM 2026.
Sejumlah teknologi yang ditawarkan antara lain drone untuk kebutuhan sipil, robotika bawah air, sistem komunikasi mandiri saat kondisi darurat, hingga teknologi pengolahan limbah.
Peluang tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral antara Kementerian Perindustrian dan Senator Federasi Rusia Ilyas Umakhanov di Jakarta.
Baca juga: Bilateral Indonesia–Thailand: Prabowo Optimis Perdagangan Tembus 20 Miliar Dolar AS pada 2030
Kerja sama yang dijajaki tidak hanya berfokus pada perdagangan, tetapi juga investasi, transfer teknologi, serta pengembangan kapasitas industri di dalam negeri.
"Indonesia memandang Rusia sebagai mitra strategis dalam membangun industri yang lebih maju dan berdaya saing. Kami ingin hubungan kedua negara tidak berhenti pada perdagangan, tetapi berkembang menjadi kerja sama investasi, transfer teknologi, dan pengembangan kapasitas industri yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara," tutur Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).
Selain teknologi tersebut, kedua pihak turut membahas potensi kemitraan di sektor peralatan telekomunikasi, agrokimia, otomatisasi industri dan pengolahan limbah.
Pertemuan itu juga dihadiri Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Perwakilan Perdagangan Rusia, serta sejumlah pelaku industri dari Rusia.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Tri Supondy menyebut, kerja sama perlu menghasilkan nilai tambah bagi industri nasional.
"Kerja sama Indonesia dan Rusia perlu diarahkan pada hal-hal yang menghasilkan manfaat nyata bagi industri, baik melalui investasi, alih teknologi, maupun kemitraan yang menghubungkan perusahaan kedua negara," ungkap Tri.
Kemenperin menilai, hubungan bilateral yang telah terjalin perlu diterjemahkan menjadi kerja sama ekonomi yang lebih konkret, termasuk dengan mengembangkan teknologi yang sesuai dan dapat dilokalkan di Indonesia.
Senator Federasi Rusia Ilyas Umakhanov menyatakan, Indonesia memiliki karakteristik yang cocok untuk pengembangan sejumlah teknologi Rusia, terutama robotika bawah air mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan.
"Kami melihat banyak peluang untuk mengembangkan kerja sama teknologi dengan Indonesia. Rusia memiliki teknologi drone untuk kebutuhan sipil, robotika bawah air yang sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan, sistem komunikasi mandiri untuk kondisi darurat, serta teknologi pengolahan limbah yang dapat menghasilkan sumber daya yang bermanfaat bagi pertanian dan peternakan. Kami berharap teknologi tersebut dapat dikembangkan melalui kerja sama dan lokalisasi bersama di Indonesia," terang Ilyas Umakhanov.
Ke depan, tawaran teknologi tersebut akan menjadi bagian dari penjajakan lebih lanjut untuk menilai kesesuaiannya dengan kebutuhan industri nasional.
Pemerintah berharap kerja sama internasional tidak hanya menghasilkan masuknya produk dari luar negeri, tetapi juga mendorong penguasaan teknologi, peningkatan kapasitas produksi, dan penciptaan nilai tambah di Indonesia.
Penguatan hubungan industri Indonesia dan Rusia sebelumnya juga tercermin melalui keikutsertaan Indonesia sebagai Official Partner Country dalam ajang INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia.