Kisah Jumriyah, Petani Desa Kadugampit Pandeglang Operasi Katarak Tanpa Biaya Berkat BPJS
Abdul Rosid August 24, 2026 04:02 PM

 

Laporan Jurnalis TribunBanten.com, Ahmad Haris

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Ada sedikit rasa sakit yang dirasakan Jumriyah (51) ketika menjalani operasi katarak. Ya, rasa tegang dan takut juga sempat menyelimuti dirinya.

Maklum, bagi perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai petani di Kampung Saketi, Desa Kadugampit, Kabupaten Pandeglang, itu merupakan pengalaman pertamanya menjalani operasi katarak.

Namun, rasa khawatir tersebut perlahan sirna. Proses operasi yang dijalaninya di Klinik Utama Mata Seruni berlangsung lancar dan aman.

Yang membuat Jumriyah semakin lega, seluruh proses pengobatan hingga operasi tersebut dapat dijalaninya tanpa harus mengeluarkan biaya.

Baca juga: Pakai BPJS, Tati Senang Ibunya Usia 70 Tahun Bisa Operasi Katarak di Klinik Mata Seruni Pandeglang

Ia cukup menggunakan kepesertaan BPJS Kesehatan kelas 3 yang diperolehnya melalui pemerintah desa.

"Pas operasi, sakit mah ada sedikit, ada tegangnya juga, agak takut, tapi lancar dan aman," kata Jumriyah, Senin (24/8/2026).

Bagi Jumriyah, kesempatan menjalani operasi katarak menggunakan BPJS menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Sebagai seorang petani, biaya pengobatan tentu menjadi salah satu hal yang dipikirkannya. Apalagi, operasi katarak bukanlah sesuatu yang sebelumnya pernah ia jalani.

Informasi mengenai layanan operasi tersebut justru diketahuinya dari lingkungan sekitar. Seorang tetangganya pernah menjalani operasi katarak dengan menggunakan BPJS.

Dari cerita tersebut, Jumriyah kemudian mengetahui bahwa dirinya juga dapat memperoleh layanan serupa.

"Pertama kali operasi, karena tetangga juga ada yang pernah operasi katarak juga pakai BPJS, ternyata bisa di sini," ujarnya.

Dengan ditemani saudara, Jumriyah kemudian datang ke Klinik Seruni. Tidak ada banyak persiapan yang diceritakannya, selain keberanian untuk menjalani tindakan yang sebelumnya sempat membuatnya merasa takut.

Kekhawatiran mengenai biaya pun akhirnya terjawab. Jumriyah mengatakan dirinya tidak perlu membayar biaya operasi tersebut.

"Alhamdulillah enggak bayar sama sekali, gratis semua," katanya.

Bukan hanya soal biaya, pengalaman selama mendapatkan pelayanan juga meninggalkan kesan tersendiri bagi Jumriyah.

Ia merasa tidak mendapatkan perlakuan yang berbeda meskipun datang sebagai peserta BPJS. Menurutnya, pelayanan yang diterima tetap sama.

"Pelayanan di sini enggak dibeda-bedain, mau umum atau BPJS sama saja," tuturnya.

Kini, setelah operasi selesai dijalani, Jumriyah merasakan perubahan yang paling ia tunggu-tunggu.
Penglihatannya menjadi lebih jelas.

Bagi seorang petani yang menjalani aktivitas sehari-hari, kemampuan melihat dengan lebih baik tentu menjadi hal yang sangat berarti. Rasa takut yang sempat muncul sebelum operasi pun kini berganti dengan rasa lega.

Jumriyah mengaku bersyukur bisa mendapatkan kesempatan menjalani operasi tanpa terbebani biaya.
Ia bahkan teringat bagaimana kondisi dirinya jika tidak memiliki kepesertaan BPJS.

"Terima kasih buat para peserta BPJS. Kalau enggak ada BPJS, gimana bayarnya, enggak ada biaya," ucapnya.

Kini, Jumriyah bisa kembali menatap aktivitas sehari-harinya dengan penglihatan yang lebih jelas.

Pengalaman tersebut sekaligus menjadi cerita penting baginya, bahwa kepesertaan BPJS yang dimilikinya melalui pemerintah desa dapat membantunya mendapatkan layanan operasi katarak yang sebelumnya belum pernah ia jalani.

Operasi yang awalnya disambut dengan sedikit rasa takut itu akhirnya berakhir dengan rasa syukur. Bagi Jumriyah, tidak perlu mengeluarkan biaya dan bisa kembali melihat lebih jelas menjadi hal yang sangat berarti.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.