In This Economy, Nikah Makin Belakangan di Solo
Lailatun Niqmah August 24, 2026 04:39 PM

TRIBUNWOW.COM - Viral di media sosial tangkapan layar data tingginya angka perempuan yang belum menikah di Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, Sabtu (8/8/2026), warganet ramai memberikan tanggapan, termasuk setuju dengan penundaan menikah karena beragam hal, dari ekonomi, UMK yang rendah, hingga sejumlah kekhawatiran lainnya.

"Ada yang masuk di angka 44,03? Coba komen siapa tau ketemu jodohnya disini. Kota Surakarta mencatat persentase penduduk berstatus belum kawin tertinggi di Jawa Tengah pada 2025, yakni 44,03 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Posisi berikutnya ditempati Kota Magelang sebesar 40,96% dan Kota Pekalongan 40,58%," tulis akun tersebut dalam captionnya.

Lantas, bagaimana fakta di balik fenomena ini? Berikut ini tanggapan dari Badan Pusat Statistik Kota Surakarta, konselor pernikahan, hingga pandangan Gen Z dan Milenial di Kota Surakarta.

Baca juga: Viral Isu Haji Isam Ditunjuk Pimpin Penanganan Karhutla Kalimantan, Istana Tegaskan Itu Tidak Benar

Nikah Bukan Lagi Prioritas

Yosi, warga berusia 24 tahun asal Banjarsari, Surakarta mengatakan dalam kondisi ekonomi seperti ini, menikah bukan lagi prioritas, apalagi kewajiban. Oleh karena itu ia memilih menyiapkannya dengan matang dan enggan buru-buru membangun rumah tangga. Mental dan finansial menjadi pertimbangan terbesar sebelum memutuskan menikah.

"Pernikahan itu salah satu pilihan hidup yang harus dipertimbangkan dan disiapkan secara matang, bukan sekadar kewajiban karena kejar kejaran usia. Untuk saat ini pertimbangan terbesar masih mental dan finansial. Faktor ekonomi berpengaruh sangat besar terutama kestabilan pekerjaan, karena di satu hal itu berpengaruh ke dua indikator lainnya," ujarnya saat dihubungi TribunWow.com melalui pesan WhatsApp, Jumat (21/8/2026).

Lebih lanjut, perempuan yang sehari-hari menjadi gamers (live streaming) ini mengaku tidak tertekan dengan pertanyaan 'kapan nikah' yang biasa dilontarkan orang lain. Bagi Yosi, pertanyaan seperti itu hanya angin lalu dan tidak diambil ke hati. "Kalau pertanyaan saja sih enggak begitu bikin pressure ya, justru kalau dapat pertanyaan seperti itu dijawab dengan jawaban ngasal saja dibawa fun tapi juga yang tidak bikin penanyanya merasa kalau kita menjawab dengan tidak sopan," ungkapnya.

Di sisi lain, Ambar (34), warga di Surakarta mengaku lebih fokus dan nyaman dengan pekerjaannya, alih-alih menikah. Bagi Ambar, kondisi ekonomi yang naik-turun menjadi pertimbangan tersendiri sebelum memutuskan membangun rumah tangga. Selain itu Ambar menyebut kondisi finansial sangat penting bagi seseorang yang memutuskan menikah, apalagi jika nanti memutuskan memiliki anak.

"(Menikah) bagus buat yang mampu, tapi buat saya tidak terlalu memikirkan, mungkin karena fokus ke pekerjaan. Ekonomi yang masih naik turun, mencari pasangan yang sekufu, dan juga lingkungan yang tidak memungkinkan. (Ekonomi) sangat penting, apalagi kalau sampai punya anak," kata Ambar kepada TribunWow.com saat ditemui di kawasan Semarang, Jawa Tengah, Jumat (21/8/2026).

Pergeseran Makna Pernikahan

Konselor Pernikahan Dr. Zamzami Sabiq SPsi, MPsi menyebut saat ini ada pergeseran makna pernikahan di kalangan anak muda. Menurutnya saat ini Gen Z melihat pernikahan adalah sebuah hal yang harus dipersiapkan matang. Selain itu, meningkatnya kesadaran Gen Z terkait diri sendiri, juga menjadi hal yang membuat mereka memutuskan menunda pernikahan.

"Jadi, secara psikologis memang generasi muda cenderung menunda pernikahan itu karena ada beberapa faktor ya. Yang pertama, ada perubahan makna pernikahan. Jadi generasi sebelumnya mungkin kan melihat pernikahan itu sebagai tahap kehidupan yang memang harus untuk dijalani gitu ya," ujar penulis buku 'Psikologi Pernikahan: Memaknai Bersatunya Dua Hati, Dua Jiwa, Dua Karakter dan Dua Pikiran' itu saat dihubungi TribunWow.com via pesan WhatsApp, Jumat (21/8/2026).

"Sedangkan generasi saat ini atau Gen Z, itu melihat pernikahan itu sebagai pilihan hidup yang harus betul-betul dipersiapkan secara matang gitu lho. Sehingga mereka tidak hanya bertanya, 'Kapan saya menikah?' gitu lho. Tetapi yang mereka tanyakan itu, 'Apakah saya siap kira-kira hidup bersama orang lain?' gitu yang tentu karakternya berbeda. Ini menjadi faktor pertama bagaimana dia menunda pernikahan," sambungnya.

Lebih lanjut, Zamzami Sabiq menyebut bahwa finansial juga berperan besar dalam keputusan menunda menikah di kalangan anak muda. Menurutnya, saat ini Gen Z lebih melihat menikah sebagai proyek bersama. Oleh karena itu, faktor seperti pendapatan, pekerjaan, cicilan, gaya hidup, menjadi pertimbangan sebelum memutuskan menikah.

"Faktor ekonomi ini sangat besar pengaruhnya gitu bagi anak-anak saat ini, sehingga Gen Z-Gen Z itu banyak menunda pernikahan gitu. Terutama karena pernikahan sekarang itu dipersepsikan bukan hanya sebagai penyatuan dua individu antara pria dan wanita, tetapi juga sebagai proyek kehidupan bersama gitu kan. Sehingga kekhawatiran yang muncul biasanya biaya tempat tinggal nanti bagaimana, kestabilan pekerjaan bagaimana, kebutuhan anak, pendidikan anak katakanlah, atau cicilan, utang, tuntutan gaya hidup. Nah, ini menjadi pemikiran sehingga mereka berpikir untuk menunda pernikahan," ungkap Zamzami Sabiq.

"Yang menarik, secara psikologis bukan hanya kondisi ekonomi objektif yang berpengaruh, tetapi persepsi seseorang terhadap keamanan finansialnya. Makanya ini yang akhirnya mereka berpikir kembali untuk menikah, akhirnya terjadilah penundaan pernikahan. Jadi, persoalannya bukan semata-mata apakah bagi anak Gen Z ya, apakah mereka itu sudah kaya untuk menikah, tetapi apakah mereka itu mampu mengelola kehidupan ekonomi bersama pasangannya dengan realistis gitu lho. Nah, ini yang akhirnya membuat mereka berpikir lebih terkait dengan kondisi ekonomi," pungkasnya.

Tren Pernikahan Turun 5 Tahun Terakhir

NIKAH MAKIN SEDIKIT - Tren penurunan angka pernikahan di Surakarta dalam lima tahun terakhir. Sumber: BPS berdasarkan data dari Kementerian Agama RI (Dirjen Bimas Islam) dan Mahkamah Agung (Dirjen Badan Peradilan Agama), diakses 24 Agustus 2026. Grafis visual dibuat dengan bantuan Gemini AI.
NIKAH MAKIN SEDIKIT - Tren penurunan angka pernikahan di Surakarta dalam lima tahun terakhir. Sumber: BPS berdasarkan data dari Kementerian Agama RI (Dirjen Bimas Islam) dan Mahkamah Agung (Dirjen Badan Peradilan Agama), diakses 24 Agustus 2026. Grafis visual dibuat dengan bantuan Gemini AI. (BPS)

Di sisi lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta, Ratna Setyowati, S.Si., M.A., M.T, mengonfirmasi memang terjadi angka penurunan pernikahan dalam lima tahun terakhir. Tak hanya itu, angka perempuan usia produktif yang belum menikah di Surakarta juga meningkat, bahkan menjadi yang tertinggi di Jawa Tengah. Tingkat pendidikan hingga ekonomi menjadi alasan penundaan pernikahan.

"Secara rata-rata dari tren 5 tahunan, terdapat penurunan persentase pemuda menurut usia perkawinan pertamanya. Untuk kelompok usia 20-24 tahun terjadi penurunan dari 62,19 persen di tahun 2024, menjadi lebih sedikit pemuda yang nikah pertama di usia 20-24 tahun, yaitu menjadi 44,82 persen. Tetapi untuk kelompok umur 25-30 mengalami kenaikan persentase, artinya ada pergeseran usia perkawinan pertama menuju kelompok 25-30 tahun," ungkap Ratna Setyowati saat dihubungi TribunWow.com, Jumat (21/8/2026).

"Anomali yang terjadi untuk kelompok di bawah 20 tahun terjadi pada masyarakat yang rentan dengan faktor ekonomi, sehingga pernikahan menjadi solusi untuk mengurangi beban ekonomi. Tingkat pendidikan berbanding lurus dengan mundurnya usia perkawinan pertama. Pada lulusan SMA atau PT fenomena akhir menunjukkan kecenderungan menghabiskan masa mudanya di angka sekolah atau magang kerja," sambungnya.

BELUM NIKAH TERTINGGI - Persentase Penduduk Perempuan Berumur 15–49 Tahun Menurut Kabupaten/Kota dan Status Perkawinan (Belum Kawin) (Top 10 Tertinggi di Jawa Tengah). Sumber: BPS, Survei Sosial Ekonomi Nasional dikutip dari Publikasi Statistik Sosial dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah Hasil Susenas, 25 Juni 2026. Grafis visual dibuat dengan menggunakan bantuan Gemini AI.
BELUM NIKAH TERTINGGI - Persentase Penduduk Perempuan Berumur 15–49 Tahun Menurut Kabupaten/Kota dan Status Perkawinan (Belum Kawin) (Top 10 Tertinggi di Jawa Tengah). Sumber: BPS, Survei Sosial Ekonomi Nasional dikutip dari Publikasi Statistik Sosial dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah Hasil Susenas, 25 Juni 2026. Grafis visual dibuat dengan menggunakan bantuan Gemini AI. (BPS)

Lebih lanjut, Ratna Setyowati menjelaskan bahwa konsumsi anak muda mengalami peningkatan. Hal ini menjadi indikator bahwa pendapatan di bawah UMK akan membuat mereka berpikir ulang untuk memutuskan menikah. Ketakutan menjadi beban atau terbebani oleh pasangan juga menjadi alasan menunda membangun rumah tangga.

"Dari data konsumsi tahun ke tahun menunjukkan adanya kenaikan. Mereka sadar jika bekerja tanpa skill atau pendidikan cukup, sudah yang diterima juga bisa dibilang sebesar UMK. Artinya mereka akan berpikir ulang utk segera menikah, yang berarti menambah beban keluarga (pasangan dan anak) tanpa adanya kebaikan pendapatan. Oleh karena itu menunda pernikahan hingga mampu secara finansial menjadi pertimbangan mereka," pungkas Ratna Setyowati.

(TribunWow.com/Lailatun Niqmah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.