TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tabuhan rebana dan gerak ritmis para penari memecah suasana akhir pekan di kawasan Tiyasan, Condongcatur, Kabupaten Sleman.
Bukan sekadar keriuhan sesaat, panggung hiburan ini menjadi penanda bangkitnya denyut nadi kesenian tradisional warga setempat yang telah lama mendambakan ruang untuk kembali unjuk gigi dan melestarikan warisan leluhur mereka.
Pemandangan tersebut terekam nyata dalam perhelatan Suadesa Festival 2026 yang diinisiasi oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, pada Sabtu (22/8/2026) hingga Minggu (23/8/2026).
Festival yang berlangsung selama dua hari ini terbukti tidak hanya memutar roda perputaran ekonomi melalui pemberdayaan UMKM kuliner, tetapi juga sukses membuka ruang pelestarian budaya bagi seniman lokal Tiyasan.
Geliat budaya dalam festival ini telah terasa sejak hari pertama melalui rangkaian kirab budaya yang menampilkan gunungan hasil bumi, Bregodo Lombok Abang, hingga barisan prajurit perempuan.
Kemeriahan berlanjut pada hari kedua yang diisi oleh penampilan memukau dari Seni Kasidah Badui Walisongo Gandok Tambakan. Kelompok ini memadukan unsur tari, musik, dan vokal dengan lantunan lagu-lagu bernuansa religi serta kebangsaan.
Ketua Seni Kasidah Badui Walisongo Gandok Tambakan, Mukholid Hidayat, menjelaskan bahwa kelompoknya hadir memenuhi undangan pemerintah desa dengan membawa formasi besar, yakni 16 penari, 12 musisi, dan lima vokalis.
Mereka membawakan delapan repertoar, termasuk karya bersejarah Husein Mutahar, Hari Merdeka. Mukholid menyadari panggung ini adalah peluang emas untuk kembali mengenalkan seni yang nyaris tak terdengar.
“Ini satu-satunya kesenian religi yang memiliki tari dan gerakan khas yang ada di Kabupaten Sleman. Di luar Sleman belum ada Badui seperti ini,” ujar Mukholid.
Ia menambahkan, festival ini membukakan jalan bagi kelompok seni lokal untuk kembali mendapatkan panggung pertunjukan secara rutin.
Lebih dari sekadar pelestarian seni, perhelatan ini juga berdampak signifikan terhadap kohesi sosial masyarakat. Titik M, salah satu pelaku seni yang terlibat, merasakan kebanggaan tersendiri karena dapat berbagi panggung dengan musisi nasional seperti The Rain dan Jikustik. Proses latihan dan persiapan yang intens diakuinya telah merekatkan kembali interaksi dan kerja sama antarwarga.
“Dengan adanya event ini membuat kebersamaan warga semakin meningkat dan warga makin guyub,” ungkap Titik.
Gairah serupa turut memantik semangat kelompok Hadroh Azzahra Gandok Tambakan. Daronah, salah satu anggota kelompok tersebut, menilai Suadesa Festival telah mendorong pelaku seni di wilayah Gandok Tambakan hingga Tiyasan untuk kembali aktif berkegiatan. Ia menaruh harapan besar agar kegiatan serupa dapat menjadi agenda rutin tahunan.
Ketersediaan panggung ekspresi ini juga dinilai krusial untuk regenerasi budaya. Mursinah, anggota Hadroh Asyifa Pojok Tiyasan, menyoroti bahwa keterlibatan masyarakat dalam kesenian kini tidak hanya didominasi oleh kaum ibu, melainkan mulai menarik minat lintas generasi.
“Keterlibatan anak-anak dan generasi muda sangat penting agar kesenian tradisional tidak berhenti pada generasi yang sudah lebih dahulu berkecimpung di dalamnya,” tutup Mursinah.