TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penyerang anyar PSIM Yogyakarta, Adrian Dalmau, merasa proses adaptasinya bersama Laskar Mataram berjalan positif.
Salah satu faktornya adalah keberadaan pelatih Jean-Paul van Gastel yang sama-sama berasal dari Belanda.
Dalmau yang pernah berkarier selama beberapa musim di kompetisi Belanda menilai gaya latihan dan permainan yang diterapkan Van Gastel memiliki banyak kesamaan dengan apa yang selama ini dikenalnya di Belanda maupun Eropa.
“Ya, seperti yang saya katakan, itu adalah sesuatu yang sangat saya sukai. Saya menganggap semua latihan dan gaya bermain akan mirip dengan apa yang biasa saya lakukan di Belanda dan Eropa, tidak ada perbedaan besar,” kata Dalmau, Selasa (25/8/2026).
Menurutnya, karakter permainan tersebut cocok dengan gaya bermainnya sebagai pemain yang mengandalkan kemampuan menyerang dan kombinasi.
“Jadi itu sempurna untuk gaya bermain saya sebagai pemain tipikal menyerang dan kombinasi ini. Apa yang saya lihat di minggu-minggu pertama latihan kemarin, saya sangat menyukainya,” ujarnya.
Dalmau sendiri baru menandatangani kontrak selama satu musim bersama PSIM Yogyakarta.
Durasi tersebut menurutnya menjadi kesempatan bagi kedua pihak untuk terlebih dahulu melihat bagaimana proses adaptasi dan kerja sama berjalan.
“Saya baru menandatangani kontrak selama satu tahun. Saya pikir dari kedua belah pihak perlu saling melihat dulu,” kata Dalmau.
Penyerang asal Spanyol itu membuka peluang untuk melanjutkan kerja sama setelah kontraknya berakhir.
Namun, untuk saat ini, ia memilih fokus beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus membuktikan kontribusinya untuk PSIM.
“Maksud saya, jika adaptasinya berjalan baik dan semuanya lancar, setelah itu kami bisa berbicara lagi. Tapi sekarang ini lebih tentang beradaptasi dengan banyak hal baru dan menunjukkan bahwa saya bisa memberikan nilai bagi klub,” tuturnya.
Dalmau menilai sejauh ini proses tersebut berjalan sesuai harapan. Ia pun optimistis bisa memberikan kontribusi lebih besar setelah semakin memahami lingkungan dan permainan tim.
“Kita lihat saja nanti di bulan-bulan mendatang, tapi di minggu-minggu pertama ini semuanya terlihat sempurna,” katanya.
Sebelumnya, Adrian Dalmau, juga mengakui mulai merasakan tantangan baru setelah beberapa pekan berada di Indonesia.
Pemain asal Spanyol itu menyebut cuaca menjadi hal utama yang harus diadaptasi sebelum menjalani musim Super League 2026/2027.
Dalmau sebelumnya menghabiskan tujuh tahun terakhir berkarier di Belanda dan Polandia. Perbedaan suhu dan kelembapan dengan Eropa membuat kondisi cuaca di Indonesia menjadi pengalaman yang cukup berbeda baginya.
“Ya, saya pikir hal yang paling khusus adalah cuacanya. Saya bermain selama 7 tahun terakhir di Belanda dan Polandia, jadi cuacanya sangat berbeda dengan di sini,” kata Dalmau.
Menurutnya, adaptasi tidak hanya berkaitan dengan suhu panas, tetapi juga kelembapan dan kondisi pernapasan ketika menjalani aktivitas di lapangan.
“Ini tentang beradaptasi dengan suhu, kelembapan, dan pernapasan. Ini salah satu kendala yang harus kami hadapi,” ujarnya.
Meski demikian, Dalmau tidak melihat faktor tersebut sebagai persoalan besar. Di luar cuaca, ia justru mengaku menikmati makanan, budaya, serta lingkungan di Indonesia.
“Namun sisanya mudah bagi saya, makanan, budaya, dan lingkungannya saya sangat menyukainya. Jadi ini hanya tentang beradaptasi dengan hal-hal tersebut, sisanya akan baik-baik saja,” katanya.
Dalmau sebenarnya tidak sepenuhnya asing dengan iklim panas. Ia berasal dari Mallorca, wilayah Spanyol yang juga memiliki karakter cuaca hangat.
“Ya, saya berasal dari Mallorca, cuacanya mirip dengan di sini. Tapi sudah lama tidak bermain dalam kondisi seperti ini,” tutur Dalmau.
Karena itu, striker berkaki kanan tersebut memilih fokus menjalani proses adaptasi. Ia yakin tubuhnya akan segera terbiasa dengan kondisi Yogyakarta dan atmosfer sepak bola Indonesia.
“Ini tentang beradaptasi, tapi semuanya akan baik-baik saja,” kata Dalmau.