Tradisi Grebeg Maulid Hidup Lagi di Madiun, Gunungan Jaler-Estri Jadi Rebutan Warga
Januar August 25, 2026 01:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Setelah vakum selama sekitar enam tahun, tradisi Grebeg Maulid Nabi Muhammad Saw kembali digelar di Kota Madiun, Selasa (25/8/2026).

Rangkaian peringatan hari kelahiran Rasulullah Saw itu dimulai dari Masjid Kuno Taman atau Masjid Donopuran, Jalan Asahan, Kelurahan Taman, Kecamatan Taman, Kota Madiun.

Dua tumpeng berbentuk gunungan, yakni Gunungan Jaler dan Gunungan Estri, dikirab dari halaman masjid menuju Alun-alun Kota Madiun. Keduanya menempuh rute sekitar lima kilometer.

Baca juga: Tradisi Grebeg Maulid di Kepuhkembeng Jombang, Warga Semringah Berebut Perabotan Rumah Tangga

Kirab melintasi Jalan Panglima Sudirman, Jalan dr Soetomo, Jalan Pahlawan, hingga akhirnya tiba di Alun-alun Kota Madiun.

Tradisi yang kembali dihidupkan tersebut berlangsung meriah. Sekitar 1.000 peserta ikut ambil bagian dalam kirab, mulai dari siswa-siswi SMP dan MTs hingga Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Madiun.

Sesampainya di Alun-alun Kota Madiun, dua gunungan disambut lantunan musik Gamelan Sekaten. Gunungan kemudian diserahterimakan dari Camat Taman kepada Plt Wali Kota Madiun, Bagus Panuntun.

Setelah didoakan oleh para tokoh agama, kedua gunungan kemudian dipurak atau diperebutkan masyarakat.

Gunungan Jaler terbuat dari sayur mayur dan hasil bumi sedangkan Gunungan Estri berisi kue tradisional, jajan pasar, dan aneka makanan ringan lainnya.

 Tradisi tersebut menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu dalam rangkaian Grebeg Maulid.

Seorang warga, Erlin mengaku senang bisa ikut purak gunungan. Ia bersama suami dan anaknya berhasil mendapatkan sejumlah sayur mayur mulai dari jagung, kacang panjang, pare, hingga wortel.

"Tadi ikut rebutan desak-desakan, saya ambil saka, asyik. Setelah ini langsung dimasak," kata warga Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun itu.

Erlin berharap tradisi tersebut bisa dilaksanakan setiap tahun karena sangat menghibur. 

Sementara itu, Plt Wali Kota Madiun Bagus Panuntun mengatakan, kembalinya Grebeg Maulid bukan sekadar menghadirkan kembali sebuah tradisi yang sempat vakum. Lebih dari itu, momentum tersebut diharapkan menjadi sarana untuk memaknai dan meneladani sifat-sifat Rasulullah Saw.

"Dari pemerintah kota, satu, bagaimana momen ini kita memaknai sifat-sifat Nabi Rasulullah. Yang kedua, budaya yang ada di Grebeg Maulid ini harus tetap kita jaga karena beberapa tahun terakhir kita tidak melaksanakan kegiatan seperti ini," ujarnya.

Menurut Bagus, pelestarian budaya lokal juga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Ia berharap Grebeg Maulid dapat berkembang menjadi salah satu ikon budaya dan pariwisata Kota Madiun. Dengan begitu, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi tontonan bagi masyarakat, tetapi juga mampu menarik wisatawan dari luar daerah.

"Semoga bisa menjadi tuntunan dan tontonan yang menarik dan bisa dinikmati oleh seluruh elemen masyarakat Kota Madiun yang tentunya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ucap Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jawa Timur itu 

Bagus menambahkan, budaya lokal merupakan pondasi penting dalam perkembangan budaya nasional. Karena itu, tradisi seperti Grebeg Maulid perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar kecintaan terhadap budaya sendiri tetap tumbuh.

"Dengan berkembangnya budaya lokal ini, kita harapkan dapat membangun jati diri masyarakat kita, sehingga kekayaan tradisi dapat berkembang dan lestari guna menciptakan generasi muda masa kini untuk bangkit mencintai budaya sendiri," tuturnya.

Ia juga mengapresiasi para tokoh agama dan masyarakat yang mendorong Pemkot Madiun kembali menggelar Grebeg Maulid.

Bagus menyebut, pelaksanaan tahun ini menjadi momentum awal untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut setelah vakum cukup lama. Ke depan, pihaknya akan melakukan evaluasi dan pembenahan agar penyelenggaraan Grebeg Maulid semakin baik.

"Karena ini yang pertama setelah hampir 10 tahun, nantinya akan banyak koordinasi evaluasi untuk ke depannya. Saya berharap Grebeg Maulid ini menjadi salah satu ikon budaya di Kota Madiun yang harapannya nanti ke depannya bisa mendatangkan para wisatawan luar di Kota Madiun," jelasnya.

Termasuk tradisi gembrungan yang selama ini lekat dengan rangkaian peringatan Maulid Nabi di Madiun. Bagus memastikan aspek budaya tersebut akan menjadi bagian yang diperhatikan dalam penyelenggaraan berikutnya.

"Semua tidak ada yang sempurna, tetapi poin-poin sudah ada catatan dari teman-teman Disbudparpora, yang nanti untuk tahun depan harus kita laksanakan lagi, kita sempurnakan, supaya nanti lebih dari yang tahun ini," pungkasnya.


Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.