OMC di Riau Masih Dilanjutkan, 9 Ton Garam Siap Disemai untuk Hujan Buatan
Firmauli Sihaloho August 25, 2026 02:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pemerintah memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Riau hingga 29 Agustus 2026.

Namun, tambahan waktu tersebut tidak otomatis membuat hujan buatan bisa dilakukan setiap saat.

Sebab tim harus berpacu dengan kemunculan awan potensial yang menjadi syarat utama penyemaian garam agar dapat menghasilkan hujan buatan. 

Sebanyak 9 ton garam telah disiapkan untuk OMC tahap keempat ini. Namun, garam itu baru bisa disemai ketika kondisi awan memungkinkan untuk dilakukan intervensi atau penyemaian.

Satgas udara terus memantau keberadaan awan potensial setiap jam. Ketika kondisi mendukung, penyemaian dapat dilakukan untuk mendorong terjadinya hujan di wilayah yang memungkinkan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Provinsi Riau, M. Edy Afrizal, mengatakan perpanjangan OMC menjadi bagian dari upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Riau.

"OMC di Riau sudah kembali diperpanjang hingga 29 Agustus mendatang. Stok garam siap semai ada 9 ton," kata Edy, Selasa (25/8/2026).

Baca juga: Kabut Asap Makin Menyengat, Pemkab Kuansing Belum Putuskan Sekolah Libur atau Daring

Baca juga: Aksi Menegangkan, Buron Narkoba dan Polisi Baku Tembak di Lampung: 3 Terluka, Pelaku Tewas

Dengan OMC yang diperpanjang hingga 29 Agustus tersebut, pemerintah kini memiliki tambahan waktu untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan awan.

Sebanyak 9 ton garam siap disemai, tetapi kapan dan di mana penyemaian dilakukan tetap akan ditentukan oleh kondisi atmosfer.

Selama awan potensial belum muncul, tim harus menunggu sembari terus melakukan pemantauan. Di saat bersamaan, penanganan karhutla di darat dan antisipasi terhadap pergerakan asap tetap dilakukan.

Situasi inilah yang membuat beberapa hari ke depan menjadi penting. Riau tidak hanya berpacu dengan upaya memadamkan kebakaran, tetapi juga dengan cuaca dan kemunculan awan yang menentukan kesempatan untuk menurunkan hujan buatan.

Jadi meski persediaan garam tersedia, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi cuaca. Tim tidak bisa menentukan lokasi hujan buatan hanya berdasarkan daerah yang sedang mengalami kebakaran.

Artinya, ketika karhutla terjadi di suatu wilayah, pesawat OMC belum tentu dapat langsung melakukan penyemaian di atas daerah tersebut. Tim terlebih dahulu harus menemukan awan yang memiliki potensi untuk disemai.

"Untuk penyemaian garam harus melihat awan potensial dulu. Jadi tidak bisa diarahkan di daerah mana, seperti difokuskan di daerah yang sedang terjadi karhutla. Karena tetap harus ada awan potensial," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pemantauan cuaca menjadi bagian penting dalam operasi. Pergerakan dan pertumbuhan awan terus diperhatikan untuk menentukan kapan dan di mana penyemaian dapat dilakukan.

OMC menjadi salah satu upaya pemerintah membantu penanganan karhutla dari udara. Hujan yang dihasilkan diharapkan dapat membantu membasahi kawasan rawan terbakar dan mendukung proses pemadaman di lapangan.

Namun, ketergantungan terhadap awan membuat OMC tidak dapat berdiri sendiri sebagai solusi penanganan karhutla. Upaya pemadaman darat dan penanganan langsung di lokasi kebakaran tetap berjalan, sementara modifikasi cuaca digunakan ketika kondisi atmosfer mendukung.

Di tengah perpanjangan OMC tersebut, Riau juga menghadapi persoalan lain. Asap tidak hanya berasal dari kebakaran yang terjadi di dalam provinsi, tetapi juga bergerak dari sejumlah wilayah di bagian selatan Pulau Sumatera.

Berdasarkan pemantauan BPBD Riau bersama BMKG, arah angin bergerak dari selatan menuju utara. Kondisi tersebut memungkinkan asap dari wilayah di selatan terbawa melintasi Riau.

Edy mengatakan asap dari Lampung, Sumatera Selatan dan Jambi terpantau bergerak menuju Riau. Asap tersebut kemudian bercampur dengan asap yang berasal dari kebakaran di Kerumutan, Kabupaten Pelalawan.

"Ini asap kiriman dari Lampung, Sumatera Selatan dan Jambi yang masuk ke Riau, bercampur dengan asap yang dari Kerumutan Riau," kata Edy.

Pergerakan asap tersebut, menurutnya, bahkan telah terpantau hingga wilayah Sumatera Utara. Meski demikian, tidak seluruh sebaran asap tersebut masuk ke kawasan permukiman.

"Asapnya juga sudah sampai ke Sumatera Utara, cuma belum sampai masuk ke permukiman karena memang arah anginnya dari selatan ke utara, ke sana," ujarnya.

Arah angin menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan karena menentukan ke mana asap bergerak. Perubahan arah maupun kecepatan angin dapat memengaruhi daerah yang terdampak sebaran asap.

Kondisi ini membuat penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan upaya memadamkan api. Pemerintah juga harus mengantisipasi dampak asap terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Perhatian terutama diberikan kepada kelompok yang lebih rentan terhadap paparan asap, seperti ibu hamil, bayi dan balita. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang didorong untuk mengurangi risiko paparan.

"Untuk mengantisipasi, jangan sampai masyarakat terdampak. Kita perlu ada pembagian masker juga di sana," kata Edy. (Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.