Oleh : Bruder Pio Hayon SVD
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Hari Selasa Biasa Pekan XXI– 25 Agustus 2026 dari Bruder Pio Hayon SVD berjudul “Celakalah Kalian”.
Renungan Harian Katolik dari Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I: 2Tes. 2: 1-3a.13b-17
Injil: Mat. 23: 23-26.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Di tengah semangat hidup rohani, kita mudah tergelincir pada dua hal: merasa “sudah benar” karena melakukan hal-hal lahiriah, atau menjadikan agama sekadar formalitas.
Baca juga: Renungan Harian Katolik 23 Agustus 2026, Pertanyaan Iman Itu Privat, Jawabannya Pun Sangat Personal
Namun Yesus hari ini mengejutkan dengan kata-kata keras: “celakalah kalian”. Ini bukan karena Ia membenci mereka, melainkan karena Ia ingin menyelamatkan hati yang sedang tersesat. Injil mengajak kita kembali ke pusat iman: keadilan, belas kasih, dan kemurnian batin.
Saudara-saudari terkasih.
Paulus dalam bacaan ini (2Tes.2:1-3a.13b-17) meneguhkan jemaat yang gelisah, seolah-olah Hari Tuhan sudah tiba. Ia mengingatkan agar mereka tidak mudah goyah oleh penyesatan.
Lalu Paulus memberi penghiburan: Allah memilih dan memanggil mereka untuk keselamatan, dan memberi penguatan melalui kasih karunia-Nya. Iman tidak boleh hidup dari ketakutan dan rumor, tetapi dari pengharapan yang berakar pada kasih Allah dan karya-Nya.
Dalam Injil (Mat. 23:23-26), Yesus mengecam orang-orang yang teliti memenuhi hal-hal kecil (persembahan dan aturan), tetapi mengabaikan yang lebih penting: keadilan, belas kasih, dan kesetiaan. Ia juga menyingkap kemunafikan: mereka membersihkan bagian luar, tetapi batin masih penuh ketamakan dan kebusukan.
Refleksi permenungan kita adalah “Jangan tertipu”: Ketaatan yang dilakukan tanpa keadilan dan belas kasih mudah berubah menjadi topeng.
Keprihatinan Injil hari ini: apakah tindakan rohani kita sungguh melahirkan cara hidup yang lebih adil dan lebih manusiawi terhadap orang lain? “Pusat iman”: Yesus tidak menolak ibadat dan kerapian hidup; Ia menegur bila semuanya menjadi “angka” di luar hati.
Maka kita perlu menilai kembali: apa yang menjadi motivasi terdalam: kasih dan kesetiaan, atau ingin dianggap hebat dan “paling benar”? “Pengharapan”: Paulus menguatkan agar jemaat tidak goyah oleh ketakutan atau penyesatan.
Dalam cara yang sama, Injil mengajak kita untuk membangun iman dari kasih karunia Allah, sehingga kita tidak berubah menjadi keras-keras secara luar namun rapuh di dalam.
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, “Celakalah kalian” adalah panggilan untuk keluar dari kemunafikan rohani.
Kedua, yang paling penting adalah keadilan, belas kasih, dan kemurnian hati.
Ketiga, kasih karunia Allah menguatkan kita agar iman tidak goyah dan hidup kembali menjadi bersih. Tuhan memberkati kita. (*)