Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, masih belum sepenuhnya padam.
Baca Juga: Kebakaran di Zona Penyangga TNWK, Gubernur Lampung Pastikan Api Tak Meluas
Staf Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, Faresha Revanza mengatakan, hingga Selasa (25/8/2026) masih ditemukan sejumlah titik api di kawasan TNWK.
Upaya pemadaman terus dilakukan untuk mencegah api kembali menyebar.
"Per hari ini masih ada titik-titik api. Tapi tim tetap melakukan pemadaman," kata Faresha saat dihubungi, Selasa, (25/8/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan perkembangan terbaru, luasan area yang terdampak kebakaran bertambah sekitar 100,75 hektare.
Sebelumnya, luas lahan yang terbakar tercatat sekitar 673 hektare.
Dengan adanya penambahan tersebut, total luasan area yang terbakar kini diperkirakan mencapai sekitar 774 hektare.
Faresha menyebut, penyebab kebakaran hingga kini masih dalam proses penyelidikan oleh tim di lapangan.
"Masih diusut. Apakah ada faktor kesengajaan atau tidak, masih diusut sama orang lapangan," ujarnya.
Menurutnya, petugas saat ini masih memprioritaskan pemadaman karena titik api yang belum benar-benar padam berpotensi kembali menyala dan menyebar dalam beberapa hari ke depan.
Faresha mengungkapkan, salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla di TNWK adalah sulitnya akses menuju titik api.
Petugas harus menyusuri kawasan hutan untuk memastikan titik-titik api benar-benar padam.
Selain itu, keterbatasan peralatan juga menjadi tantangan.
Pemantauan titik panas selama ini dilakukan melalui data satelit, helikopter, drone, hingga pengamatan visual petugas di lapangan.
Namun, metode tersebut dinilai belum cukup untuk mendeteksi api yang masih berada di bawah permukaan atau tertutup asap tipis.
"Harusnya memang menggunakan kamera termal. Karena di atasnya cuma asap sedikit, tapi kita tidak tahu di dalamnya mungkin masih ada apinya," jelasnya.
Karena keterbatasan kamera termal, petugas harus melakukan penyisiran secara langsung ke sejumlah area untuk memastikan bara atau api yang tersisa benar-benar padam.
Penanganan karhutla TNWK kini juga diperkuat dengan penggunaan helikopter water bombing.
Faresha mengatakan, helikopter tersebut mulai digunakan untuk membantu memadamkan titik-titik api berukuran besar.
"Jadi hari ini sudah penggunaan pemadaman helikopter water bombing untuk meredamkan atau memadamkan titik hotspot yang besar-besar," katanya.
Meski demikian, water bombing juga memiliki keterbatasan karena pemadaman dari udara masih sangat bergantung pada pengamatan visual.
Titik api kecil atau bara yang tersembunyi tetap harus diperiksa secara langsung oleh petugas di lapangan.
Selain water bombing, BPBD Lampung juga berkoordinasi untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Faresha menyebut OMC direncanakan mulai dilakukan pada Rabu (26/8/2026) dengan melibatkan BMKG, BNPB, Lanud, serta tim terkait lainnya.
Ia menjelaskan, OMC berbeda dengan water bombing.
Water bombing dilakukan dengan menjatuhkan air langsung dari helikopter ke lokasi kebakaran.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)