SURYAMALANG.COM, BLITAR - Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini menembus angka 100 jiwa per Senin (24/8/2026) setelah sejumlah korban luka berat gagal diselamatkan di fasilitas kesehatan.
Di tengah duka yang melanda puluhan ribu pengungsi serta kerusakan puluhan ribu rumah di tujuh kabupaten, aksi solidaritas datang dari para peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Pemerintah Kabupaten Blitar bersama 14 koperasi peternak melepas bantuan logistik berupa 8,8 ton telur serta ratusan kilogram sambal pecel menuju wilayah terdampak pada Selasa (25/8/2026).
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menjelaskan penambahan angka kematian korban gempa NTT berasal dari korban yang sebelumnya dirawat akibat luka berat.
Peristiwa gempa yang melanda NTT sendiri terjadi pada Sabtu (15/8/2026) lalu.
"(Terkait) Jumlah meninggal, perlu kami tegaskan bahwa yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat yang dirawat di fasilitas kesehatan ini tidak berhasil diselamatkan, sehingga yang semula di hari pertama, kedua ada 48 meninggal dunia, angka hari ini total menjadi 100 yang meninggal dunia," kata Suharyanto dalam keterangan Update Penanganan Pasca Gempa Bumi NTT, Senin sore.
Dari total 100 korban jiwa tersebut, sebarannya meliputi Kabupaten Manggarai sebanyak 38 jiwa, Manggarai Timur 34 jiwa, Nagekeo 13 jiwa, Sikka 6 jiwa, Ngada 5 jiwa, Ende 3 jiwa, dan Manggarai Barat 1 jiwa.
Baca juga: Jam Kerja 40 Jam dan Berkas TPG Bikin Guru Susah Napas, Dindik Jatim Sebut Aturan Sudah Fleksibel
Dari tujuh kabupaten yang terdampak, wilayah Manggarai dan Manggarai Timur tercatat sebagai daerah dengan kerusakan terparah.
Selain korban meninggal, BNPB mencatat sebanyak 1.603 orang mengalami luka-luka dan 180.327 warga terpaksa mengungsi di berbagai titik posko.
Tingginya jumlah pengungsi ini dipicu oleh kecemasan warga akibat gempa susulan berintensitas tinggi yang masih sering terjadi.
Kerusakan infrastruktur akibat gempa juga terbilang masif.
Data sementara mencatat sebanyak 73.818 unit rumah warga mengalami kerusakan, dengan rincian 23.276 unit rusak berat, 17.563 unit rusak sedang, dan 32.979 unit rusak ringan.
Tak hanya pemukiman, sebanyak 1.915 fasilitas umum (fasum) turut terdampak, mulai dari fasilitas kesehatan, sekolah, kantor pemerintahan, tempat ibadah, pasar, jembatan, hingga ruas jalan.
"(Ada) sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintahan, dan infrastruktur-infrastruktur lainnya, ini ada 1.915 unit. Ini data sementara, seiring berjalannya waktu data akan semakin lengkap," tambah Suharyanto.
Duka warga terdampak di NTT memantik empati dari Jawa Timur.
Para peternak ayam petelur yang tergabung dalam 14 koperasi di Blitar Raya menggalang bantuan pangan berupa 8,8 ton telur untuk dikirimkan ke lokasi bencana.
Pelepasan bantuan dipimpin langsung oleh Bupati Blitar, Rijanto, di halaman Kantor Bupati Blitar, Kanigoro, Selasa (25/8/2026).
Ketua Koperasi Bina Peternak Karya Bersama sekaligus Koordinator Rumah Kebersamaan Peternak Layer Mandiri, Eti Marlina, mengungkapkan aksi sosial ini lahir dari kepedulian bersama meski para peternak sendiri saat ini sedang dihimpit krisis akibat anjloknya harga telur dan tingginya harga pakan.
Baca juga: 33 Mahasiswa UB Malang Terdampak Gempa NTT, Kampus Kaji Bantuan dan Keringanan UKT
"Sebenarnya, kami, para peternak saat ini juga sedang mengalami kesulitan, tapi, apa pun itu jiwa sosial kami terpanggil. Dari 14 koperasi di Blitar Raya, kami bersama-sama sodaqoh bantu korban gempa di NTT dengan mengirimkan sekitar 8,8 ton telur," kata Eti.
Eti menyebut harga telur di tingkat peternak saat ini hanya berkisar Rp21.000 hingga Rp21.500 per kilogram, berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp24.000 hingga Rp26.500 per kilogram.
"Harapan kami, harga telur segera membaik sesuai HAP. Sekarang harga telur di peternak sekitar Rp 21.000-Rp 21.500 per kilogram," tuturnya.
Apresiasi tinggi disampaikan Bupati Blitar Rijanto atas kepedulian para pengusaha dan peternak lokal.
Selain 8,8 ton telur, Pemerintah Kabupaten Blitar bersama pelaku UMKM juga menyalurkan 356,5 kilogram sambal pecel khas Blitar, 2,6 ton beras, 2 ton gula, serta 627 dus susu, dengan total nilai bantuan mencapai Rp300 juta.
"Ini dari koperasi peternak ayam petelur, dari pengusaha telur. Padahal peternak telur saat ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja, tapi mereka empati melihat saudara-saudaranya yang terkena musibah dan memberikan bantuan telur," puji Rijanto.
Baca juga: Perjuangan Ibu Melahirkan di Bawah Pohon saat Gempa NTT, 5 Bayi Baru Lahir Tidur Beratap Terpal
Seluruh logistik bantuan diberangkatkan menuju Kantor BPBD Provinsi Jawa Timur terlebih dahulu, sebelum diberangkatkan dari Surabaya menuju NTT menggunakan kapal laut pada Rabu (26/8/2026).
"Semua bantuan ini dari para pelaku usaha di Kabupaten Blitar. Kalau dinominalkan uang, semua bantuan yang kami kirim ke korban gempa NTT sekitar Rp 300 juta" terangnya.
"Harapan kami, bantuan yang dari warga Blitar ini segera dimanfaatkan untuk para korban, terutama telur. Jangan sampai bantuan telur terlambat mendistribusikan," pungkas Rijanto.
(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, Tribunflores.com/Arnol Welianto)