Sosok Kesya Tawaris, Pelajar asal Bitung yang Ingin Lestarikan Budaya Sulut Melalui Tari Kawasaran
Jumadi Mappanganro August 25, 2026 03:22 PM

PERKENALKAN, namanya Marlina Kesya Tawaris. 

Remaja asal Kota Bitung, Sulawesi Utara, ini bukan hanya aktif sebagai pelajar, tetapi juga mulai menemukan panggungnya untuk mengembangkan diri sekaligus memperkenalkan budaya Minahasa.

Saat ini Kesya duduk di kelas XI Jurusan Akomodasi Perhotelan di SMK Negeri 1 Kota Bitung.

Pada 31 Mei 2026, ia terpilih Harapan 1 Puteri Remaja Bitung-Minahasa Utara.

Malam puncak ajang itu diselenggarakan Putera Puteri Remaja Bitung - Minahasa Utara itu di Kantor Wali Kota Bitung. Berjarak kurang lebih 50 km dari Kota Manado. 

Bagi Kesya, pencapaian tersebut terasa istimewa. Sebab, ajang itu merupakan pengalaman pertamanya mengikuti pageant.

Putri pasangan Jenly Tawaris dan Maria Ulfrida Sigarlaki tersebut mengaku awalnya mengikuti kontes itu karena mendapat dorongan dari keluarga dan guru.

"Dukungan dan doa dari mereka membuat saya lebih percaya diri untuk mencoba dan tidak takut gagal," tuturnya kepada Tribun Manado melalui WhatsApp, Selasa (25/8/2026).

Bagi Kesya, pageant bukan sekadar kompetisi kecantikan. 

Ia melihatnya sebagai ruang untuk mengembangkan diri, membangun mental, sekaligus melatih kemampuan berbicara di depan banyak orang.

Ada satu hal lain yang membuatnya tertarik. Kesya ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata Kota Bitung kepada khalayak yang lebih luas.

"Sekaligus menjadi wadah untuk mempromosikan budaya dan pariwisata Kota Bitung kepada khalayak yang lebih luas," kata cucu Yulianus Tawaris dan Meity Rumayar ini.

Mengikuti pageant atau kontes kecantikan membuat Kesya mendapatkan banyak pengalaman baru.

Ia belajar berbagai hal, mulai dari cara berjalan di atas catwalk, public speaking, hingga bagaimana menghargai setiap proses.

Namun, ada satu pelajaran yang menurutnya paling penting.

"Paling penting saya belajar kalau jadi seorang duta itu bukan cuma soal cantik, tapi juga harus punya isi dan cinta sama diri sendiri," ujarnya.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin percaya diri.

Ia menyadari bahwa menjadi seorang figur publik, terlebih duta remaja, juga membutuhkan wawasan, karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Di luar kesibukannya sebagai pelajar, Kesya masih menyempatkan diri menjalani sejumlah hobinya, seperti foto model, traveling dan menari.

Dari berbagai hobinya itu, menari memiliki tempat khusus di hatinya.

KAWASARAN - Marlina Kesya Tawaris saat mengenakan busana Tari Kawasaran dan saat terima mengikuti pemilihan Puteri Remaja Bitung-Minahasa Utara 2026. Siswi SMK Negeri 1 Kota Bitung ini belajar Tari Kawasaran di Pinaesa'an Wewene Witung.
KAWASARAN - Marlina Kesya Tawaris saat mengenakan busana Tari Kawasaran dan saat terima mengikuti pemilihan Puteri Remaja Bitung-Minahasa Utara 2026. Siswi SMK Negeri 1 Kota Bitung ini belajar Tari Kawasaran di Pinaesa'an Wewene Witung. (Tribun Manado)

Tari Kawasaran

Sejak Oktober 2025, Kesya belajar Tari Kawasaran di Pinaesa'an Wewene Witung.

Tari Kawasaran atau sering juga disebut Tari Kabasaran adalah tarian perang tradisional suku Minahasa, etnis terbesar yang menghuni Sulawesi Utara. 

Tarian ini melambangkan keberanian, kekuatan, dan semangat ksatria. Pada masa lalu, tarian ini ditarikan oleh para Waranei atau penjaga keamanan desa sebelum dan sesudah pergi berperang untuk melindungi tanah Minahasa.

Ketertarikannya dengan Tari Kawasaran tumbuh dari kecintaannya terhadap adat dan budaya Minahasa.

Bagi Kesya, Kawasaran bukan sekadar pertunjukan seni. Tarian tersebut memiliki makna tentang keberanian dan semangat juang tou Minahasa.

"Kawasaran itu bukan tarian biasa, ini tarian perang yang penuh makna keberanian orang Minahasa," paparnya.

Karena itu, Kesya merasa bangga bisa menjadi bagian dari generasi muda yang ikut menjaga sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Utara.

Menurutnya, seni tari tradisional di Bumi Nyiur Melambai memiliki potensi besar untuk diperkenalkan kepada generasi yang lebih luas, termasuk hingga ke mancanegara.

Namun, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Minat sebagian generasi muda terhadap kesenian tradisional mulai berkurang, salah satunya karena kuatnya pengaruh budaya pop asing.

Kesya menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengajak anak muda untuk belajar tari tradisional. 

Cara penyajiannya juga perlu dibuat lebih kreatif dan relevan dengan zaman. Dengan begitu, budaya tradisional tetap memiliki tempat di hati generasi muda.

"Sebagai remaja yang lahir dari dua suku yang berdampingan yakni Talaud dan Minahasa, saya tidak akan menyerah untuk melestarikan adat dan budaya daerah kami," tegasnya.

Kesya memang masih muda. Namun, ia sudah menemukan dua panggung untuk dirinya: panggung model untuk membangun kepercayaan diri dan panggung budaya untuk merawat identitas daerah.

Di masa depan, ia bercita-cita menjadi pramugari. 

Apa pun profesi yang kelak dipilihnya, satu hal tampaknya sudah ia tanamkan sejak sekarang: melangkah maju tanpa meninggalkan akar budaya tempat ia berasal. (jum)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.