SURYA.co.id, MALANG - Harga daging sapi di Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mulai mengalami kenaikan pada Agustus 2026.
Kini, pedagang menjual daging sapi di kisaran Rp 135 ribu per kilogram, naik Rp 5 ribu dibandingkan harga sebelumnya.
Kenaikan harga tersebut disebut terjadi karena pasokan sapi dari peternak terbatas.
Kondisi itu membuat jumlah sapi yang tersedia untuk dipotong ikut berkurang.
Pedagang daging sapi di Pasar Kepanjen, Muhammad Ridwan, mengatakan harga sebelumnya berada di angka Rp130 ribu per kilogram.
Kenaikan mulai terasa pada awal Agustus 2026 dengan selisih sekitar Rp5 ribu per kilogram.
"Mulai naik itu perkiraan di awal bulan (Agustus, red.), ada kenaikan Rp5 ribu per kilogramnya," kata Ridwan saat dikonfirmasi SURYA.co.id, Selasa (25/8/2026).
Baca juga: Sapi Tercebur ke Empang di Kembangbahu Lamongan, Petugas Damkar Lakukan Ini
Menurutnya, keterbatasan stok sapi di tingkat peternak menjadi salah satu faktor utama kenaikan harga.
Sapi yang tersedia untuk disembelih guna memenuhi kebutuhan konsumsi pun semakin terbatas.
Kondisi serupa juga pernah terjadi saat momentum Idulfitri 2026.
Harga daging sapi ketika itu sempat menyentuh Rp135 ribu per kilogram sebelum kembali turun menjadi sekitar Rp130 ribu setelah Lebaran.
Meski harga naik, Ridwan menyebut penjualan daging sapi miliknya tidak mengalami perubahan signifikan.
Dalam kondisi normal, ia mampu menjual sekitar 60 kilogram daging sapi per hari.
"Hari-hari biasa ya cuma laku 60 kilogram, beda pas Idulfitri itu bisa terjual tiga ekor sapi atau tiga kuintal," jelas warga Kecamatan Kepanjen tersebut.
Artinya, kenaikan harga belum serta-merta membuat seluruh pelanggan berhenti membeli daging sapi.
Namun, kondisi penjualan di pasar tetap dipengaruhi oleh daya beli masyarakat.
Kenaikan harga juga dirasakan Komariyah, pedagang daging sapi lainnya di Pasar Kepanjen.
Ia saat ini menjual daging sapi dengan harga Rp135 ribu per kilogram. Menurutnya, harga tersebut mengikuti kenaikan biaya pembelian sapi atau daging dari pemasok.
"Penyebabnya ya stok sapi nggak ada, terus dari kulakan juga sudah mahal," ujar Komariyah.
Pedagang asal Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, itu mengatakan dirinya memperoleh pasokan dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kecamatan Kepanjen. Kenaikan harga disebut sudah terjadi sejak awal Agustus.
Dalam kondisi normal, Komariyah rata-rata menjual sekitar 10 kilogram daging sapi per hari.
Ketika momentum tertentu, penjualannya bisa meningkat hingga 20 kilogram.
Namun, ia mengaku kondisi pasar belakangan justru cenderung sepi.
"Biasa aja, justru penjualan ini makin sepi. Lalu, rata-rata warga sini itu belinya daging ayam," ungkap perempuan yang telah berjualan daging sapi selama 15 tahun tersebut.
Kenaikan harga daging sapi di Malang juga mendapat perhatian pemerintah pusat.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan kenaikan harga daging sapi bukan hanya terjadi di Indonesia.
Menurutnya, kondisi pasar daging sapi global turut mengalami tekanan akibat keterbatasan pasokan di sejumlah negara.
"Kenaikan ini sudah menjadi isu global, bisa dilihat, Amerika sekarang sangat kekurangan daging sapi. Sehingga yang awalnya tidak impor dari Australia sekarang mereka impor dari sana. Dan kenaikan ini sudah menjadi tren global," kata Agung saat berkunjung ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari beberapa hari lalu.
Agung mengatakan masyarakat perlu menyikapi kenaikan harga daging sapi secara bijak. Salah satu alternatif sumber protein hewani yang dapat dipilih adalah daging domba dan kambing.
Menurutnya, komoditas tersebut masih memiliki ketersediaan cukup dan harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan daging sapi.
Di sisi lain, pemerintah bersama peternak juga terus berupaya menjaga ketersediaan sapi lokal.
"Pada prinsipnya setiap kenaikan atau penurunan harga itu karena komoditas yang sangat fluktuatif. Tentu pemerintah juga mengambil langkah bersama dengan peternak untuk menyediakan sapi lokal," pungkas Agung. (Lu'lu'ul Isnainiyah)