Refleksi Maulid Nabi: Mencintai Rasulullah, Membuktikannya dengan Amal
Mawaddatul Husna August 25, 2026 03:54 PM

Oleh: Mahbub Fauzie SAg MPd *)

Mencintai Rasulullah SAW jangan berhenti pada ucapan dan perasaan.

Jangan pula hanya ramai ketika Rabiul Awal tiba, memperbanyak shalawat dan memperingati Maulid, tetapi setelah itu kehidupan kita berjalan tanpa perubahan.

Cinta kepada Rasulullah harus dibuktikan dengan mengamalkan ajarannya.

Allah berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31)

Ayat ini menegaskan bahwa cinta memiliki konsekuensi. Jika benar mencintai Rasulullah SAW, maka kita berusaha mengikuti petunjuk dan sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, tegakkan shalat lima waktu.

Shalat bukan sekadar kewajiban yang kita kerjakan ketika sempat. Shalat adalah kewajiban utama yang tidak boleh ditinggalkan.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk menjaga shalat, tepat waktu, dan melaksanakannya dengan penuh kesungguhan.

Di sinilah cinta kepada Rasulullah diuji. Jangan sampai kita mengaku mencintai Nabi, tetapi panggilan azan kita abaikan.

Kita juga harus memahami dengan baik mana yang wajib dan mana yang sunnah. Yang wajib jangan ditinggalkan demi mengejar yang sunnah.

Jangan sibuk memperbanyak amalan tambahan, tetapi kewajiban pokok justru diabaikan.

Zakat bagi yang wajib mengeluarkannya, puasa Ramadan, menunaikan haji bagi yang mampu, berbakti kepada orang tua.

Menjaga amanah, mencari nafkah yang halal, serta meninggalkan segala yang diharamkan semuanya merupakan bagian dari ketaatan.

Setelah yang wajib tertunaikan, kita sempurnakan dengan amalan-amalan sunnah antaranya shalat sunnah, puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah dan memperbanyak shalawat.

Kedua, meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Rasulullah dikenal memiliki sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Shiddiq berarti benar dan jujur. Maka seorang Muslim tidak boleh membiasakan dusta, manipulasi, kepalsuan, apalagi menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Amanah berarti dapat dipercaya. Jabatan adalah amanah. Pekerjaan adalah amanah. Harta adalah amanah.

Keluarga adalah amanah. Bahkan waktu dan kesempatan hidup juga merupakan amanah dari Allah.

Tabligh berarti menyampaikan kebenaran. Apa yang baik disampaikan dengan cara yang baik. Ilmu tidak hanya disimpan untuk diri sendiri, tetapi dibagikan untuk kemaslahatan.

Fathanah berarti cerdas dan bijaksana. Seorang Muslim tidak boleh malas berpikir.

Ia harus belajar, meningkatkan kemampuan, bekerja secara profesional, mampu menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang.

Ketiga, disiplin dalam bekerja dan bertanggung jawab terhadap tugas.

Ini juga bagian dari pengamalan ajaran Rasulullah SAW.

Jangan menganggap ibadah hanya berada di masjid. Bekerja dengan sungguh-sungguh juga bagian dari amanah.

Datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tidak bermalas-malasan, tidak menyalahgunakan fasilitas.

Kemudian tidak mengambil hak orang lain, serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat adalah bentuk akhlak Islam.

Seorang pegawai yang disiplin, guru yang sungguh-sungguh mendidik, pedagang yang jujur, petani yang tekun mengolah tanah, pemimpin yang adil dan orang tua yang bertanggung jawab terhadap keluarganya semuanya sedang menerjemahkan nilai-nilai ajaran Rasulullah dalam kehidupan nyata.

Keempat, menjaga lisan dan hubungan dengan sesama.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berkata baik atau diam.

Maka jangan mudah mencaci, memfitnah, menghina, menggunjing, menyebarkan kebencian, apalagi memutuskan persaudaraan hanya karena perbedaan pilihan, kelompok, organisasi, suku atau kepentingan.

Kalau Rasulullah SAW benar-benar kita cintai, maka seharusnya kehadiran kita membuat orang lain merasa aman, bukan takut, merasa dihargai, bukan direndahkan; merasa ditolong, bukan disakiti. Inilah cinta yang hidup.

Cinta kepada Rasulullah SAW bukan sekadar tulisan di spanduk. Bukan sekadar lantunan shalawat. Bukan sekadar acara seremonial.

Cinta itu harus terlihat dalam shalat kita, kejujuran kita, amanah kita, disiplin kita, pekerjaan kita, keluarga kita, cara kita berbicara, dan cara kita memperlakukan sesama.

Mari kita jadikan momentum mengingat Rasulullah SAW sebagai momentum memperbaiki diri.

Jika selama ini shalat kita masih sering terlambat, mari kita perbaiki. Jika masih sering meninggalkan kewajiban, mari kita tunaikan.

Jika masih kurang disiplin, mari kita berubah. Jika masih sering berkata kasar, mari kita jaga lisan.

Jika masih belum amanah, mari kita perbaiki tanggung jawab. Jika masih suka berbohong, mari kita belajar menjadi shiddiq.

Jika masih malas bekerja, mari kita tumbuhkan etos kerja. Jika ilmu kita masih sedikit, mari kita belajar menjadi pribadi yang fathanah.

Karena mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan banyak menyebut namanya, tetapi dengan berusaha menghadirkan ajarannya dalam seluruh kehidupan kita.

Semoga kita termasuk umat yang benar-benar mencintai Rasulullah SAW, mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, mengamalkan ajarannya, dan kelak mendapatkan pertolongan serta syafaat beliau dengan izin Allah.

Shalawat kita lantunkan, sunnah kita hidupkan, akhlaknya kita teladani, ajarannya kita amalkan. Itulah tanda cinta kepada Rasulullah SAW yang sesungguhnya.

*) Penulis adalah Penghulu Ahli Madya dan Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Baca juga: Bupati Bener Meriah Dijadwalkan Hadiri Maulid Nabi di Masjid Al-Falah Pondok Baru

Baca juga: Menjelang Maulid Nabi, Permintaan Kelapa di Gayo Lues Meningkat Drastis

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.