TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bali terus memperketat kewaspadaan dan imbauan keselamatan bagi seluruh pengelola desa wisata di Bali.
Langkah ini diambil guna mencegah terjadinya musibah kebakaran, terutama di tengah kondisi iklim cuaca ekstrem seperti angin kencang dan musim kemarau panjang yang berpotensi memicu potensi kebakaran, sebagaimana insiden yang baru-baru ini menimpa Desa Wisata Sade di Lombok.
Saat ini, berdasarkan data pembaruan per 5 Mei 2026, Provinsi Bali mencatat total 246 Desa Wisata yang tersebar di berbagai tingkatan klasifikasi di antaranya Kategori Berkembang sejumlah 126 desa atau 51,22 persen, Kategori Rintisan sejumlah 92 desa atau 37,40 persen, Kategori Maju sejumlah 24 desa atau 9,76 persen dan Kategori Mandiri sejumlah 4 desa atau 1,63 persen.
Baca juga: 5 Kebakaran Lahan Terjadi di Jembrana Bali dalam Sepekan, Warga Diminta Waspada Saat Kemarau Ekstrem
Sebagian besar desa wisata di Bali saat ini mendominasi di tahap berkembang dan rintisan, yang mencakup lebih dari 88 persen dari total keseluruhan.
Sementara itu, kelompok pamungkas dengan tingkat pengelolaan terbaik mencakup 24 desa kategori maju dan 4 desa yang berhasil mencapai tingkatan tertinggi sebagai desa wisata mandiri.
Mengingat besarnya jumlah desa wisata tersebut, faktor keamanan dan keselamatan aset pariwisata berbasis masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Baca juga: Ditinggal Berangkat Kerja, Rumah Dayu Sutareni Kebakaran, Kerugian Ditaksir Capai Rp200 Juta
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, menegaskan bahwa upaya pencegahan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana sejatinya telah menjadi agenda rutin yang selalu ditekankan kepada para pengelola desa wisata.
"Kewaspadaan terhadap bencana sudah secara rutin di pertemuan-pertemuan sudah kita bahas," ujar Sumarajaya saat dikonfirmasi, Selasa 25 Agustus 2026.
Sumarajaya menambahkan, kesadaran akan mitigasi bencana sangat krusial karena jaminan keamanan merupakan fondasi utama dalam menjaga reputasi dan keberlanjutan sektor pariwisata di Bali.
"Karena kita menyadari bahwa keamanan dan kenyamanan hal yang sangat penting untuk keberlanjutan pariwisata yang berkualitas," tegasnya.
Melalui langkah imbauan dan sosialisasi yang berkelanjutan, Dispar Bali berharap seluruh pengelola desa wisata dapat meningkatkan kesiapsiagaan mandiri, mengidentifikasi area rawan kebakaran, serta memastikan ketersediaan sarana mitigasi awal di wilayah masing-masing. (*)