TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Pengoperasian 11 armada bus listrik di Bali dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat layanan transportasi umum sekaligus menekan emisi karbon.
WRI Indonesia mencatat pengoperasian angkutan umum berbasis baterai ini berpotensi menghemat biaya operasional energi hingga puluhan persen dibandingkan armada berbahan bakar fosil.
Electric Mobility Program Lead WRI Indonesia, Arya Putra, menyatakan hadirnya armada baru ini memegang peranan penting dalam perbaikan performa layanan transportasi publik di wilayah perkotaan.
Baca juga: Disembunyikan di Bagasi Bus, Penyelundupan 284 Burung Ilegal Berhasil Digagalkan di Bali
"Beroperasinya bus ini dapat memperkuat layanan transportasi umum perkotaan. Dengan bertambahnya armada, headway Trans Sarbagita berpotensi untuk dikurangi sehingga waktu tunggu penumpang dapat berkurang dan kualitas layanan kepada masyarakat dapat meningkat," ujar Arya pada, Selasa 25 Agustus 2026.
Selain memangkas waktu tunggu, efisiensi operasional menjadi nilai tambah utama dari elektrifikasi armada ini.
"Dari sisi operasional, biaya energi (listrik) berpotensi lebih hemat hingga 65 persen dibandingkan dengan bus diesel, dan dapat lebih hemat lagi apabila dibandingkan dengan bus yang menggunakan BBM non-subsidi," tambahnya.
Baca juga: Sopir Ngantuk, Bus Seruduk Pemotor Hingga Luka Berat di Jembrana Bali, Masuk Pekarangan Rumah Warga
Langkah ini juga sejalan dengan target Rencana Aksi Daerah Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) serta mendukung pencapaian visi Bali Emisi Nol Bersih 2045.
Menanggapi kesesuaian armada dengan infrastruktur jalan di Pulau Dewata, Arya menilai karakteristik koridor yang dipilih saat ini sudah memadai. Kendala kontur maupun lebar jalan dapat disiasati dengan penyesuaian spesifikasi kendaraan di setiap rute.
"Secara umum masih sesuai. Koridor angkutan umum perkotaan yang dipilih saat ini cukup untuk mendukung manuver bus listrik yang digunakan. Memang terdapat beberapa ruas jalan di Bali yang lebarnya kurang sesuai untuk bus berukuran besar."
"Karena itu, pemilihan spesifikasi armada perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing koridor. Misalnya, untuk ruas jalan perkotaan yang lebih sempit, dapat digunakan layanan feeder dengan spesifikasi minibus," jelasnya.
Uji coba bus listrik di Bali sendiri bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, uji coba pernah berlangsung saat penyelenggaraan KTT G20 tahun 2022 menggunakan bus produksi INKA, serta pada Bali Climate Week (BCW) 2025 di Koridor 6 oleh ITDC menggunakan bus dari Kalista.
Guna mendukung keberlanjutan operasional skala besar ke depan, WRI Indonesia mengingatkan pentingnya peningkatan ketersediaan dan kapasitas fasilitas pengisian daya (charging station) di seluruh wilayah operasi. (*)