Timbul Khawatir Tak Bisa Biayai Kuliah Anak Lantaran Desilnya Naik Tiba-tiba dari 1 ke 9
Hari Susmayanti August 25, 2026 05:04 PM

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Desil atau pembagian kelompok masyarakat berdasarkan tingkat sosial dan ekonomi kini tengah menjadi polemik.

Pasalnya, warga yang sebelumnya berada di desil rendah dan bisa menerima bantuan pemerintah, tiba-tiba naik ke desil tinggi.

Salah satunya dialami oleh Timbul, warga Padukuhan Nglatiyan I, Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah. Desilnya naik drastis dari yang awalnya desil 1 kini menjadi desil 9.

"Saya tahunya dari kalurahan, saat anak hendak mengusulkan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP)," katanya ditemui di rumah peninggalan orang tuanya pada Selasa (25/08/2026).

Anak Timbul yang bungsu baru saja diterima Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai mahasiswa di sana.

Namun karena keterbatasan biaya, ia coba mengusulkan agar putranya itu bisa berkuliah mengandalkan bantuan pemerintah.

Harapan itu kandas seketika begitu diketahui bahwa desilnya naik drastis dari 1 ke 9 usai dicek.

Timbul langsung melaporkan masalah itu ke lurah, yang kemudian meneruskan informasi itu ke Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-PPPA) Kulon Progo.

"Sebab karena desilnya naik, anak saya tidak bisa pakai KIP karena dianggap mampu," ujar Timbul.

Baca juga: Data Desil DTSEN Tak Akurat, Dewan Sebut Warga Rentan Miskin di Jogja Terancam Kehilangan Bansos

Padahal, pria kelahiran tahun 1977 ini sehari-harinya berprofesi sebagai penarik becak motor (betor) di kawasan Malioboro.

Penghasilan yang didapat berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu, itu pun didapat hanya saat akhir pekan.

Timbul setiap hari berangkat dari rumah menuju tempat penitipan becak sekitar pukul 16.00 WIB sore.

Lalu ia akan membawa becak ke Malioboro dan mencari penumpang hingga jelang tengah malam, lalu kembali ke rumah.

"Kalau akhir pekan biasanya saya nginep, karena paling banyak dapatnya di saat itu, sedangkan di hari biasa saya nyaris tidak mendapat penumpang sama sekali," ungkapnya.

Demi menambah penghasilan, Timbul juga berjualan ayam kampung hidup ke pasar.

Namun penghasilan dari 2 sumber mata pencaharian itu tetap tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan.

Timbul juga belum punya rumah sendiri, dan saat ini memilih tinggal di rumah milik orang tuanya bersama 2 anaknya.

Ia terdaftar sebagai penerima sejumlah bantuan, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK).

"Terakhir saya masih dapat bantuan PKH sekitar 3 atau 4 bulan lalu, ini katanya ada bantuan lagi tapi saya tidak bisa ambil karena desilnya naik," jelas Timbul.

Ia pun berharap masalah desil yang dihadapinya ini bisa menjadi evaluasi bagi pemerintah pusat. Sebab tidak hanya dirinya, tapi ada cukup banyak warga yang merasakan hal serupa.

Seperti Ismayanti, yang masih kerabat dengan Timbul. Keluarganya diketahui masuk dalam desil 3, namun tiba-tiba naik jadi desil 8 dan baru tahu saat akan mengusulkan bantuan KIP untuk anaknya yang akan kuliah.

"Padahal pendapatan juga tidak tentu, kadang dapat Rp 50 ribu, kadang tidak dapat sama sekali," kata ibu rumah tangga ini.

Suami Ismayanti bekerja sebagai buruh tambang pasir Sungai Progo sehingga penghasilannya jauh dari layak. Rumah yang ditempati pun juga milik orang tua dan ia hanya menumpang di sana.

Padahal anaknya yang hendak kuliah ini sudah dinyatakan lolos untuk menjadi penerima KIP. Namun karena status desilnya naik jadi 8, status penerima KIP itu bisa terancam dicabut.

"Saya khawatir adiknya juga tidak dapat KIP karena masalah ini, makanya saya berharap desilnya bisa balik seperti dulu lagi," ujar Ismayanti yang juga tinggal di Padukuhan Nglatiyan I.(alx)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.