TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Meski di tengah tantangan global, penanaman Modal Asing (PMA) di Kabupaten Sleman pada triwulan II Tahun 2026 menunjukkan geliat positif.
Singapura masih memimpin sebagai negara penyumbang investasi asing terbesar di Bumi Sembada dengan nilai investasi mencapai Rp120,03 miliar.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sleman, Triana Wahyuningsih menyampaikan, total realisasi investasi keseluruhan di Sleman pada pertengahan tahun ini telah menembus Rp931,7 miliar.
Realisasi angka tersebut, berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp806 miliar sementara Rp125,7 miliar lainnya berasal dari penanaman Modal Asing (PMA).
"Nilai investasi tersebut berasal dari 2.449 proyek investasi dan berhasil menyerap 2.448 tenaga kerja baru," kata Nana, panggilan Triana, Selasa (25/8/2026).
Berdasarkan data, Singapura menduduki peringkat pertama negara asal investor dengan nilai investasi di Kabupaten Sleman mencapai Rp120,03 miliar pada triwulan II Tahun 2026 ini.
Posisi Negeri Singa ini kemudian diikuti oleh beberapa negara lain, seperti Republik Rakyat Tiongkok dengan nilai investasi Rp1,22 miliar, Amerika Serikat Rp1,15 miliar, Korea Selatan Rp652,54 juta dan terakhir Jerman dengan realisasi investasi Rp614,86 juta.
Nana mengungkapkan, kehadiran para investor asing dari berbagai belahan dunia ini mencerminkan bahwa kepercayaan internasional terhadap perekonomian Kabupaten Sleman tetap terjaga dengan baik.
Baca juga: Gelar Operasi Cipta Kondisi, Polres Bantul Sita 357 Botol Miras Ilegal
Meskipun dunia masih menghadapi berbagai tantangan akibat ketidakpastian ekonomi serta dinamika geopolitik global.
"Stabilitas daerah, potensi ekonomi yang terus berkembang, serta kemudahan dalam berusaha menjadi faktor penting yang mendukung keberlanjutan investasi di Kabupaten Sleman," ujar Nana.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen untuk terus menjaga momentum ini melalui penyederhanaan proses perizinan berusaha, penguatan ekosistem investasi yang kondusif, serta peningkatan kualitas pelayanan.
Upaya strategis ini diharapkan mampu mendongkrak daya saing Sleman di kancah internasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Adapun dari sisi kontribusi terbesar realisasi investasi di Sleman, menurut Nana, berasal dari sektor listrik, gas, dan air dengan nilai investasi sebesar Rp318,43 miliar.
Selanjutnya diikuti sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar Rp267,28 miliar. Perdagangan dan reparasi menyumbang Rp159,24 miliar, sementara sektor jasa lainnya sebesar Rp87,69 miliar.
Untuk sektor hotel dan restoran yang menjadi kekuatan penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) realisasi investasinya sebesar Rp27,34 miliar.
Menurut Nana, dominasi sektor-sektor tersebut mencerminkan terus berkembangnya infrastruktur, layanan, serta aktivitas ekonomi yang menjadi penopang pertumbuhan investasi di Kabupaten Sleman.
Listrik, gas dan air menjadi realisasi nilai investasi tersebut pada triwulan kedua ini.
"Karena ini merupakan realisasi Kegiatan usaha pembangkit, transmisi, distribusi dan penjualan tenaga listrik dalam satu kesatuan usaha dari PT PLN," terang dia.
Lebih lanjut, Nana mengungkapkan, saat ini pihaknya juga tengah melakukan pendampingan sejumlah proyek investasi di Sleman sisi utara maupun sisi timur.
Di sisi utara, ada investor yang telah mengelola Celosia di Kabupaten Malang, berencana membuka taman bunga serupa di Padukuhan Boyong, Harjobinangun, Pakem.
Proyek ini digadang dapat memiliki nilai tambah ekologis karena akan menggunakan lahan perorangan yang merupakan bekas tambang ilegal.
Sementara sisi timur, investor tertarik membangun proyek kereta gantung di wilayah Prambanan. Nilai investasi proyek ambisius ini diperkirakan mencapai Rp 200 miliar.
"Kereta gantung (progresnya) proses izin TKD-nya. Sedangkan taman bunga masih proses di OSS di BPN. (Kedua proyek ini ) masih proses lanjut,"kata Nana.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya telah mengungkapkan bahwa kereta gantung di Prambanan ini bukan sekadar wahana rekreasi, melainkan satu di antara strategi untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pajak hiburan.
Ia optimis wahana di Sleman bagian timur ini akan menjadi ikon wisata baru di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menarik wisatawan dalam skala besar. Sebab belum banyak ditemukan atraksi serupa di Indonesia.
"Pajak hiburannya kali sekian persen, kali omzet, berapa nilainya?. Itu (kami targetkan) akan sebanding pendapatannya dengan (capaian) BPHTB yang kami targetkan Rp 400 miliar per tahun," ujar Harda.(*)