Wawancara Eksklusif Rekan Wendri Saputra, Pria di Batam Ditemukan Tinggal Kerangka di Hutan Sei Ladi
Septyan Mulia Rohman August 25, 2026 05:07 PM

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Kurang lebih dua bulan meninggalkan pondok tempat tinggalnya, Wendri Saputra (52) ditemukan sudah menjadi tengkorak di kawasan hutan Sei Ladi, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Semasa hidup, Wendri tinggal di sebuah pondok sederhana di dalam kebun dekat Simpang Jam atau kawasan yang kini dikenal sebagai Simpang Fly Over Laluan Madani.

Selama kurang lebih tiga tahun, Wendri tinggal bersama sejumlah rekannya, yakni Agus Tulus Wibowo, Regar, Acai dan Iwan.

Tiga rekannya bekerja sebagai pemulung, sementara Wendri diketahui menjalani berbagai pekerjaan serabutan.

Namun, beberapa bulan sebelum menghilang, Wendri Saputra jarang mendapatkan pekerjaan, dan terakhir diketahui sempat bekerja di salah satu tempat pengumpulan besi tua di kawasan Pelita.

Kondisi kesehatan Wendri juga disebut mulai menurun, tubuhnya semakin kurus dan bagian kakinya sempat mengalami pembengkakan. 

Rekannya juga mengetahui Wendri mengalami sesak napas dan memiliki penyakit asma.

Agus Tulus Wibowo, salah seorang rekan almarhum, saat ditemui di pondok tempat mereka tinggal, menceritakan keseharian Wendri hingga pertemuan terakhir sebelum pria 52 tahun itu ditemukan tinggal kerangka.

Berikut perbincangan Tribun Batam bersama Agus Tulus Wibowo.

Tribun: Almarhum Wendri Saputra yang ditemukan tinggal kerangka di kawasan Sei Ladi itu memang pernah tinggal di sini?

Agus: Tiga tahun sudah dia tinggal di sini.

Tribun: Sebelumnya tinggal di mana?

Agus: Tadinya dia di ruli Blok 2. Dia kontrak di sana, terus pindah ke sini.

Tribun: Selama tinggal di sini, apa pekerjaannya?

Agus: Dia ikut-ikut kawan kerja. Kalau ada yang ajak, dia ikut. Pindah-pindah tempat.

Tribun: Jadi memang selama tinggal di sini dia masih bekerja?

Agus: Iya, kalau ada kawan yang ajak kerja. Tapi belakangan sudah lama tidak ada yang ajak dia kerja. Jadi dia keliling-keliling saja.

Tribun: Setelah tidak punya pekerjaan, bagaimana kehidupannya?

Agus: Dia habis jual motor. Uangnya juga sudah habis. HP-nya disuruh jual, tapi tidak mau.

Tribun: Dia terakhir bekerja di mana sebelum menghilang?

Agus: Dia sempat kerja di tempat besi tua, di tempat Ahli Yong, daerah arah Pelita. Katanya cuma sehari di sana. Kawan-kawan sempat datang dan tanya ke sana. Katanya dia memang sempat tinggal dan bekerja di situ, tapi cuma sebentar.

Tribun: Lalu kapan terakhir kali Wendri terlihat masih hidup?

Agus: Yang terakhir nampak itu kawan kami, Darmawan. Dia jumpa Wendri sedang duduk di pinggir jalan dekat Danau Sei Ladi.

Tribun: Kondisinya seperti apa saat itu?

Agus: Sudah kurus sekali. Kakinya juga bengkak. Saat jumpa terakhir Almarhum  minta air minum. Dia bilang minta air minum, tapi kawan kami waktu itu tidak bawa.

Tribun: Setelah itu bagaimana?

Agus: Kawan juga balik dari jalan Sei Ladi, tetapi tidak jumpa dengan Wendri, dan kawan kami tidak curiga dan dipikir sudah balik. Tapi sampai dipondok Wendri tidak ada. Tapi kami tidak ada curiga karena selama ini kami memeng suka keliling.

Tribun: Berapa lama dari terakhir kali terlihat sampai akhirnya ditemukan tinggal kerangka?

Agus: Kurang sedikit dua bulan. Mau dekat dua bulan.

Tribun: Berarti selama hampir dua bulan itu tidak ada yang tahu keberadaannya?

Agus: Tidak ada. Ditanya ke tempat besi tua juga sudah tidak ada. Kami tidak tahu dia pergi ke mana.

Tribun: Sebelum menghilang, Wendri memang sedang sakit?

Agus: Saya pernah dengar dia sesak napas. Sepertinya asma. Tapi dua bulan terakhir itu badannya sudah kurus. Kakinya juga bengkak.

Tribun: Selama sakit, apakah dia pernah minta dibelikan obat atau meminta bantuan?

Agus: Sepengetahuan saya tidak pernah. Saya tidak tahu kalau sama kawan-kawan lain, tapi kalau sama saya di sini dia tidak pernah minta.

Tribun: Selama tinggal bersama di sini, apakah Wendri pernah bercerita tentang keluarganya?

Agus: Tidak pernah. Orangnya memang tertutup. Kampungnya saja dia tidak pernah cerita jelas, apalagi soal keluarganya.

Tribun: Tapi pernah ada cerita soal masalah di kampung?

Agus: Pernah dia cerita sedikit. Katanya ada masalah lama soal jual sapi, tanah atau warisan. Itu saja yang pernah dia ceritakan.

Tribun: Karena masalah itu dia tidak mau pulang?

Agus: Katanya begitu. Dia pernah bilang tidak berani pulang ke kampung.Sudah lama sekali. Puluhan tahun mungkin. Tapi dia memang pernah cerita soal itu.

Tribun: Barang-barang Wendri masih ada di pondok ini?

Agus: Masih. Ada barang-barangnya, alat masak dan barang lain.

Tribun: Wendri dulu tidur di bagian mana?

Agus: Di sini. Selama tiga tahun dia tinggal dan tidur di pondok ini.

Tribun: Helmnya juga masih ada?

Agus: Masih ada. Ini helm dia. Barang-barangnya masih banyak yang tertinggal.

Tribun: Ada juga tempat air minumnya?

Agus: Ada. Makanya kami juga heran. Dia terakhir minta air minum, padahal biasanya kalau pergi jauh dia membawa air minum.

Tribun: Apakah dia memang tidak punya uang saat terakhir pergi?

Agus: Uangnya sudah habis. Habis jual motor juga.

Tribun: Motor itu dijual berapa?

Agus: Sekitar Rp3 juta lebih.

Tribun: Setelah uangnya habis, dia sering berjalan kaki?

Agus: Iya, keliling-keliling jalan.

Tribun: Tapi HP-nya tidak mau dijual?

Agus: Tidak mau. Kawan kami, Regar, pernah menyuruh dia jual HP kalau memang butuh uang, tapi dia tidak mau.

Tribun: Dia pernah bilang apa?

Agus: Dia pernah bilang, "Aku tak akan balik ke kampung ini."

Tribun: Ada kabar sebelum Wendri ditemukan bahwa salah satu rekannya sempat memimpikan almarhum?

Agus: Ada. Siregar katanya mimpi Wendri.

Tribun: Setelah mimpi itu apa yang dilakukan?

Agus: Dia bangun lalu datang ke sini, cari-cari Wendri, tapi tidak ada.

Tribun: Berapa hari kemudian kerangka Wendri ditemukan?

Agus: Sekitar lima atau enam hari kemudian.

Tribun: Bagaimana cerita Wendri ditemukan?

Agus: Yang menemukan anak-anak sekolah, masih remaja. Mereka mau mancing.

Tribun: Mereka memang mencari Wendri?

Agus: Tidak. Mereka cari lokasi memancing. Iseng masuk ke kawasan itu.

Tribun: Lalu mereka menemukan kerangka?

Agus: Dua orang. Yang pertama lihat tengkorak langsung lari karena takut. Kawannya kemudian lihat lagi dan memang ada tengkorak.

Tribun: Ada barang lain yang ditemukan?

Agus: Katanya ada tiga HP milik korban.

Tribun: HP itu diambil?

Agus: Tidak. Anak-anak itu tidak mengambilnya. Barang itu diserahkan ke Polsek Batam Kota sebagai barang bukti.

Tribun: Kampung Wendri sebenarnya di mana?

Agus: Tidak pernah jelas. Ada yang pernah bilang Solo, tapi saya sendiri tidak tahu pasti.

Tribun: Berarti selama tiga tahun tinggal bersama, dia memang sangat tertutup?

Agus: Iya. Kampungnya saja kami tidak tahu pasti, apalagi keluarganya. Dia jarang cerita soal kehidupan pribadinya. (TribunBatam.id/Pertanian Sitanggang)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.