Aktivitas Warga Anambas Tetap Normal Usai Tim Gabungan Sergap Kapal Bawa Barang Terlarang
Septyan Mulia Rohman August 25, 2026 05:07 PM


TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS -
Aktivitas masyarakat di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tetap berjalan normal pascapenangkapan kapal kargo yang diduga membawa narkotika berskala besar.

Kapal tersebut diketahui bernama Fuchangxing 1 berbendera Komoro.

Kapal kargo diamankan tim gabungan yang terdiri dari Bareskrim Polri, TNI, Bea Cukai dan BNN di perairan Pulau Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, Minggu (23/8/2026). 

Penangkapan kapal tersebut sempat menjadi perhatian masyarakat karena dilakukan di wilayah perairan Anambas.  

Kapal tersebut kini berada di Dermaga Bea Cukai Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji, Kota Batam, masih di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Jika menartik garis lurus (penerbangan) antara Pulau Jemaja di Kepulauan Anambas dan Batam adalah sekitar 274 kilometer hingga 296 kilometer, yang setara dengan sekitar 148 mil laut hingga 160 mil laut.

Dengan kecepatan standar kapal kargo sekitar 8–12 knot, perjalanan laut dari perairan Jemaja menuju Tanjung Uncang memakan waktu sekitar 12 hingga 18 jam.

Namun, hingga Selasa (25/8/2026), tidak terlihat adanya perubahan berarti terhadap rutinitas warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Pantauan TribunBatam.id, kawasan Pasar Tarempa yang menjadi salah satu pusat pergerakan ekonomi masyarakat tetap terlihat ramai.

Baca juga: Diamankan di Perairan Anambas Kepri, Kapal Fuchangxing 1 Sempat Lima Kali Ganti Nama

Sejak pagi, aktivitas pedagang dan pembeli berlangsung seperti biasa. 

Deretan kios dan lapak pedagang dipenuhi warga yang datang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  

Transaksi jual beli berlangsung di tengah suasana pasar yang sibuk, mulai dari pedagang kebutuhan pokok, ikan, sayur-mayur hingga berbagai kebutuhan rumah tangga. 

Aktivitas kendaraan dan masyarakat yang keluar masuk kawasan pasar juga terlihat normal.

Sebagian warga tampak membawa barang belanjaan, sementara pedagang tetap sibuk melayani pembeli tanpa menunjukkan kekhawatiran berlebihan terkait penangkapan kapal tersebut. 

Suasana serupa juga terlihat di sejumlah warung kopi yang menjadi tempat warga Anambas bersantai sekaligus bertukar informasi.  

Sejumlah warga duduk berkelompok sambil menikmati minuman dan membicarakan berbagai persoalan yang terjadi di daerah tersebut. 

Di tengah obrolan ringan itu, penangkapan Fuchangxing 1 sesekali menjadi topik pembicaraan.  

Baca juga: Kapal Fuchangxing 1 Sudah Dibawa ke Tanjung Uncang Batam, Untuk Pemeriksa Menyeluruh

Warga membahas bagaimana kapal berbendera asing tersebut bisa berada di perairan Anambas dan membawa barang yang diduga merupakan narkoba jenis ketamin. 

Perbincangan kemudian berkembang pada kondisi geografis Anambas yang sebagian besar wilayahnya merupakan lautan.  

Kondisi tersebut dinilai membuat pengawasan terhadap lalu lintas kapal menjadi tantangan tersendiri, terutama terhadap kapal yang melintas di jalur-jalur perairan yang jauh dari permukiman. 

Pemuda Anambas, Syaiful Bahari, mengaku terkejut mengetahui adanya kapal kargo yang diduga membawa ketamin dapat diamankan di perairan daerah tersebut.

Namun, ia juga mengapresiasi langkah aparat gabungan yang berhasil melakukan penindakan. 

"Jujur kami cukup terkejut. Selama ini masyarakat mungkin melihat perairan Anambas sebagai wilayah yang tenang, tetapi ternyata ada juga kapal yang diduga membawa narkoba dalam jumlah besar," ujar Syaiful. 

Menurut Syaiful, keberhasilan pengamanan kapal tersebut menjadi bukti bahwa pengawasan di wilayah perairan Anambas harus terus diperkuat.  

Baca juga: 10 ABK Myanmar Diamankan Dari Kapal Fuchangxing 1, Tim Gabungan Masih Geledah Muatan

Ia menilai kondisi geografis daerah kepulauan membuat pengawasan tidak cukup hanya mengandalkan pemantauan di darat. 

"Anambas ini karakteristiknya berbeda. Wilayah kita didominasi lautan dan banyak pulau yang tersebar. Karena itu, kekuatan armada TNI dan Polri sangat penting untuk melakukan patroli secara rutin," katanya. 

Ia berharap penangkapan Fuchangxing 1 menjadi momentum untuk meningkatkan patroli di perairan Anambas, khususnya di jalur-jalur yang berpotensi dimanfaatkan untuk aktivitas penyelundupan. 

Syaiful juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan sekitar dengan melaporkan aktivitas kapal atau orang yang dianggap mencurigakan kepada aparat.  

Menurutnya, pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat keamanan, tetapi juga membutuhkan peran masyarakat. 

"Kalau patroli diperkuat dan masyarakat juga aktif memberikan informasi, saya yakin ruang gerak pelaku penyelundupan akan semakin sempit. Jangan sampai Anambas dimanfaatkan karena wilayahnya luas dan pengawasannya sulit," ujarnya. 

Meski penangkapan kapal Fuchangxing 1 menjadi perhatian, aktivitas warga Anambas hingga kini tetap berlangsung normal.  

Masyarakat tetap menjalankan kegiatan ekonomi, berkumpul di warung kopi dan menjalani rutinitas sehari-hari.

Sembari berharap pengawasan di wilayah perairan semakin diperketat agar Anambas tetap aman dari ancaman peredaran narkoba. (TribunBatam.id/Ihsan Imaduddin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.