Kisah Warga Menanti Bantuan Akibat Krisis Air Bersih di Paniki Dua Manado
Isvara Savitri August 25, 2026 05:22 PM

 

TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Yohana bersama sejumlah warga Lingkungan 1 Kelurahan Paniki Dua, Kecamatan Mapanget, Manado, Sulawesi Utara, menunggu kedatangan truk pengangkut air pada Selasa (25/8/2026) pagi.

Mereka memilih duduk di halaman rumah sambil memperhatikan kendaraan yang melintas di jalan menuju permukiman.

Setiap suara kendaraan yang terdengar membuat warga berharap itu adalah truk pembawa air.

"Kami menanti pembawa air," kata dia.

Itu adalah potret salah satu dampak musim kemarau panjang di Manado.

Berikut rangkumannya:

Persediaan air warga semakin menipis

Warga kini kesulitan mendapatkan air bersih karena seluruh perigi yang selama ini menjadi sumber air telah mengering.

Kondisi tersebut diperparah karena jaringan PDAM belum menjangkau permukiman mereka.

"Perigi kering," katanya.

Yohana kemudian memperlihatkan perigi atau sumur di samping rumahnya.

Setelah penutup digeser, terlihat lubang dengan dasar yang sudah dipenuhi tanah.

"Perigi ini dalamnya empat meter, kami tutup terus agar bisa ada air, tapi akhirnya kering juga," kata dia.

Bantuan truk air belum datang secara rutin

Menurut Yohana, kedatangan truk pengangkut air belum memiliki jadwal yang pasti.

Dalam kondisi normal, bantuan tersebut hanya datang sekitar satu kali dalam sepekan.

Ketika truk tidak datang, warga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Harganya Rp 120 ribu per tong," katanya.

KRISIS AIR - Suasana kelurahan Paniki Dua Lingkungan 1 yang kekurangan air.
KRISIS AIR - Suasana kelurahan Paniki Dua Lingkungan 1 yang kekurangan air. (Tribun Manado/Arthur_Rompis)

Selain membeli air, warga juga sesekali meminta pasokan dari SPPG yang berada di sekitar permukiman.

Air di tempat tersebut berasal dari sumur bor.

Namun, bantuan itu tidak bisa diandalkan setiap saat karena SPPG tidak selalu beroperasi atau terbuka untuk warga.

Warga berharap bantuan air diperbanyak

Yohana berharap distribusi air bersih ke wilayah tersebut bisa dilakukan lebih sering.

Kekurangan air sudah sangat menyulitkan kehidupan warga.

Ia bahkan berharap hujan segera turun sehingga perigi kembali terisi.

"Kami juga berdoa kepada Tuhan agar segera menurunkan hujan, agar perigi kami kembali penuh," kata dia.
Awan hitam sempat memberi harapan

Warga lainnya, Mayer, mengatakan dirinya kerap merasa senang ketika melihat awan hitam muncul di langit.

Beberapa hari sebelumnya, awan tebal sempat terlihat di kawasan tersebut.

Namun, harapan warga kembali pupus karena hujan tak kunjung turun.

"Namun hujan belum juga turun," kata dia.

Kekurangan air membuat warga harus mengubah kebiasaan sehari-hari.

Mayer mengatakan, penggunaan air untuk mandi maupun mencuci dilakukan dengan sangat hemat.

Untuk mandi, misalnya, satu orang hanya menggunakan sekitar tiga hingga empat gayung air.

"Begitu pun untuk mencuci," katanya.

Baca juga: Lirik Lagu Mati Rasa - Ichan Ohoiledyaan, Seandainya Ko Juga Rasa yang Sa Rasakan

Baca juga: BMKG Deteksi Gempa Bumi di Ruteng Nusa Tenggara Timur, Selasa 25 Agustus 2026

Warga saling berbagi air

Di tengah keterbatasan, warga berusaha membantu satu sama lain.

Mereka yang mendapatkan air lebih banyak akan membagikannya kepada tetangga yang persediaannya lebih sedikit.

"Kadang tetangga yang dapat banyak air membagi ke yang sedikit," katanya.

Seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan jumlah air yang dibawa truk terkadang tidak sebanding dengan banyaknya warga yang membutuhkan.

Ia bahkan pernah hanya mendapatkan satu ember air.

"Mungkin ini harus ditambah airnya, karena banyak warga disini yang betul betul menderita karena kekurangan air," katanya.(*)

(Tribunmanado.com/Arthur Rompis)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.