Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Senin (24/8/2026) petang, dua pelajar yang mewakili Provinsi Bengkulu sebagai Paskibraka Nasional 2026 tiba di kantor TribunBengkulu.com.
Mereka adalah M. Aryo Wira Zandhyka Y, siswa SMA Negeri 7 Kota Bengkulu, dan Nadine Permata Vanza, siswi SMA Negeri 2 Kota Bengkulu.
Nadine datang ditemani ibunya, sedangkan Aryo ditemani kakak perempuannya.
Keduanya terlebih dahulu disambut Content Manager TribunBengkulu.com, M Syah Beni, sebelum masuk ke studio untuk menjadi tamu dalam Podcast Bincang Tribun.
Di dalam studio, Aryo dan Nadine duduk berdampingan berhadapan dengan wartawan TribunBengkulu.com, Beta Misutra.
Keduanya mengenakan jaket bercorak senada.
Nadine duduk mengenakan hijab putih, sementara Aryo berada di sebelahnya.
Mikrofon terpasang mengarah kepada masing-masing pembicara.
Dari ruang itulah, Aryo dan Nadine kembali mengingat perjalanan yang baru saja mereka lalui sebagai Paskibraka Nasional 2026.
Mulai dari berlatih di sekolah, menjalani seleksi berjenjang, berlatih bersama peserta dari 38 provinsi, hingga menjalani 40 hari tanpa memegang ponsel dan jauh dari orang tua.
Perjalanan itu akhirnya membawa dua pelajar asal Kota Bengkulu tersebut menuju Istana.
Aryo dipercaya menjadi pembentang bendera Merah Putih dalam upacara HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2026.
Sementara Nadine tergabung dalam Pasukan 17 dan berada di posisi saf keempat sebelah kiri.
Memulai Perjalanan dari Sekolah
Perjalanan Aryo menuju Paskibraka Nasional bermula ketika dirinya duduk di kelas 1 SMA.
Ia mengingat bagaimana awalnya belum menguasai Peraturan Baris-Berbaris (PBB), hingga kemudian terus berlatih dan meningkatkan kemampuan fisiknya.
"Kalau yang saya ingat sih, Kak, dari awal latihan di sekolah sih, Kak. Awal latihan di sekolah, dari nggak bisa PBB sampai akhirnya bisa PBB, dan fisik itu dari lemah sampai bisa menjadi kuatlah fisiknya," kata Aryo dalam Podcast Bincang Tribun.
Menjelang seleksi, Aryo juga mengikuti latihan fisik, PBB, serta mempersiapkan diri menghadapi TWK/TIU.
Ketekunannya selama menjalani latihan juga terlihat dalam kesehariannya di SMA Negeri 7 Kota Bengkulu.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 7 Kota Bengkulu, Salmeri Asrianengsi, sebelumnya mengatakan Aryo rutin mengikuti latihan Paskib dengan jadwal yang cukup padat.
Latihan bahkan berlangsung setiap hari hingga sekitar pukul 18.30 WIB.
"Dia memang tekun. Walaupun capek karena latihan, akademiknya juga masih bisa mengimbangi," kata Salmeri.
Sementara itu, perjalanan Nadine memiliki cerita berbeda.
Nadine baru mengenal Paskibra ketika masuk SMA karena saat SMP tidak terdapat kegiatan Paskibra di sekolahnya.
Ketertarikannya muncul ketika melihat demonstrasi ekstrakurikuler Paskibra saat masuk SMA.
"Sebenarnya itu bukan belum tertarik, Kak. Tapi memang dari SMP itu di sekolah saya tidak ada Paskibra. Jadinya pas masuk SMA itu kan ada upacara. Nah, di sana itu pihak sekolah menampilkan demo ekskul. Jadi, di situ saya melihat Paskibra. Dari situ saya tertarik," tutur Nadine.
Nadine pun harus memulai latihan PBB dari nol.
Pelatih Paskibraka Nadine di SMAN 2 Kota Bengkulu, Ghinaa, sebelumnya mengatakan Nadine bahkan mendapatkan latihan tambahan untuk mengejar kemampuan teman-temannya yang telah mengenal Paskibra sejak SMP.
Meski harus berlatih lebih banyak, Nadine disebut tidak pernah mengeluh dan konsisten mengikuti latihan.
"Dia tidak pernah izin. Selama kami latihan, apalagi kalau mau lomba dan hampir setiap hari latihan, dia selalu mengikuti latihan," kata Ghinaa.
Seleksi dari Kota hingga Tingkat Nasional
Perjalanan keduanya kemudian berlanjut melalui tahapan seleksi Paskibraka.
Nadine menceritakan, setelah mengikuti seleksi tingkat kota dan dinyatakan lolos, dirinya melanjutkan seleksi di tingkat provinsi.
Dari tingkat provinsi, enam orang kemudian dikirim untuk mengikuti seleksi di tingkat pusat dan hanya satu pasang yang terpilih.
Bagi Nadine, salah satu tahapan paling menentukan adalah TWK/TIU.
"Cuma di tahap awal itu ada yang namanya TWK/TIU. Jadi itu tuh penentuan buat kita. Kalau misalnya kita nggak lolos di TWK, otomatis kita gagal. Jadi kita nggak bisa lanjutin tes," ujar Nadine.
Untuk mempersiapkan diri, Nadine belajar bersama teman-temannya dan mencari soal-soal dari tahun sebelumnya.
Sementara bagi Aryo, tes jasmani menjadi salah satu bagian tersulit dalam proses seleksi.
"Menurut saya sih yang susah itu di jasmani sih, Kak. Karena harus nge-push jasmani di lari, push-up, sit-up, sama shuttle run," kata Aryo.
Menunggu hasil seleksi juga menjadi pengalaman tersendiri bagi keduanya.
Aryo mengaku sempat merasa khawatir tidak terpilih.
"Sebelum pengumuman deg-degan aja sih, Kak. Karena takut nggak kepilih, tapi ya terus berdoa aja sih, Kak," ujarnya.
Nadine bahkan mengaku tidak menyangka akhirnya terpilih.
Sebab, peserta yang menjadi pesaingnya dalam verifikasi tingkat pusat merupakan teman-teman yang telah bersama-sama menjalani proses seleksi.
"Jadinya itu kayak kalau misalnya saya lolos berarti teman saya nggak lolos. Jadi itu kayak ada perasaan sedih sama bangga juga sih, Kak," tutur Nadine.
Ketika akhirnya dinyatakan terpilih mewakili Bengkulu, Nadine mengaku terharu sekaligus bangga.
Aryo juga merasakan hal serupa.
Bagi Aryo, keberhasilannya sekaligus melanjutkan perjalanan kakak tingkatnya dari SMA Negeri 7 Kota Bengkulu yang lebih dahulu menjadi Paskibraka Nasional pada tahun sebelumnya.
Berlatih Bersama Paskibraka dari 38 Provinsi
Setelah terpilih, Aryo dan Nadine berangkat dan bergabung dengan Paskibraka dari seluruh Indonesia.
Pertemuan dengan peserta dari 38 provinsi memberikan pengalaman baru bagi keduanya.
Aryo dapat melihat perbedaan pola latihan PBB yang diterapkan di daerah lain.
Meski demikian, ia mengaku tidak merasa minder ketika berlatih bersama peserta lainnya.
"Perasaan minder sih nggak juga sih. Karena kan di situ kami juga sebenarnya bisa PBB, cuma yang membedakan itu dari ajaran dari daerah-daerahnya," kata Aryo.
Nadine juga harus menyesuaikan diri dengan peserta dari berbagai daerah.
Perbedaan pola latihan membuat mereka harus kembali menyamakan gerakan ketika menjalani pelatihan di pusat.
"Jadi, di latihan di Desa Bahagia itu benar-benar kita harus mulai semuanya dari nol. Jadi, apa yang disampaikan dari pelatih itu memang benar-benar harus kita ingat, Kak," ujar Nadine.
Salah satu perbedaan yang dirasakannya adalah tempo PBB.
Menurut Nadine, tempo yang digunakan di Bengkulu berada pada kisaran 80-90, sedangkan saat pelatihan di pusat menjadi 114-116.
Aryo Alergi Obat Sehari Sebelum Bertugas
Di tengah perjalanan tersebut, Aryo mengalami kejadian yang membuatnya khawatir tidak dapat menjalankan tugas di Istana.
Kejadian itu berlangsung pada malam 16 Agustus 2026, hanya sehari sebelum upacara HUT ke-81 RI.
Saat itu, Aryo mengalami diare dan kemudian diberikan obat yang disebutnya sebagai kotri.
Aryo mengatakan dirinya memiliki alergi terhadap obat tersebut.
Setelah meminumnya dan sempat tidur, ia terbangun dengan kondisi wajah membengkak.
"Saya itu kebetulan alergi obat kotri, Kak. Jadinya setelah saya minum itu, saya tidur sebentar, terus sudah magrib saya bangun lagi, itu muka saya bengkak, Kak. Saya langsung ke klinik, terus langsung ditangani oleh dokternya," cerita Aryo.
Waktu yang tersisa sebelum pelaksanaan upacara membuat Aryo khawatir.
Ia menjalani penanganan di klinik hingga kondisinya berangsur membaik.
Aryo bahkan mengaku sempat menangis karena takut tidak dapat menjalankan tugas keesokan harinya.
"Saya sempat nangis juga di klinik itu, takut nggak bisa ngibar besok," ujarnya.
Pada pagi 17 Agustus 2026, ketika anggota lainnya telah berkumpul di wisma, Aryo masih harus menunggu untuk mendapatkan suntikan.
Setelah itu, barulah ia bergabung bersama anggota lainnya.
Aryo akhirnya dapat menjalankan tugas sebagai pembentang bendera Merah Putih di Istana Merdeka.
"Sudah lega, Kak," kata Aryo mengenang perasaannya setelah tugas tersebut selesai.
Nadine Deg-degan Bertugas di Pasukan 17
Sementara itu, Nadine mendapat tugas sebagai bagian dari Pasukan 17.
Ketika hari pelaksanaan tiba, rasa gugup masih dirasakan Nadine.
Menurutnya, kekompakan seluruh anggota menjadi penting karena kesalahan seorang anggota dapat berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas pasukan.
"Jadi walaupun Pasukan 17 maupun Pasukan 8, itu kan sama-sama harus tetap kompak. Kalau misalnya salah satu aja salah, itu kan bisa fatal, Kak," ujar Nadine.
Bagi Nadine, salah satu pengalaman paling berkesan selama berada di tingkat nasional adalah ketika mengikuti pengukuhan.
Ia dan anggota Paskibraka Nasional 2026 dikukuhkan Presiden Prabowo.
Nadine juga mengingat kesempatan bertemu dengan sejumlah menteri serta kembali bertemu Presiden setelah pelaksanaan upacara 17 Agustus.
"Dan waktu sesudah 17 Agustus itu kita diundang sama Pak Prabowo buat makan-makan. Jadi di situ kita bisa ketemu langsung, melihat langsung, ngobrol langsung sama Pak Prabowo, Kak," tuturnya.
Sementara bagi Aryo, selain bertemu Presiden, kesempatan berjumpa dengan teman-teman dari 38 provinsi menjadi pengalaman yang tidak kalah berkesan.
Mereka dapat bertukar pikiran hingga saling memberikan cendera mata.
40 Hari Tanpa Ponsel dan Jauh dari Orang Tua
Namun, perjalanan sebagai Paskibraka Nasional bukan hanya tentang latihan dan tugas di Istana.
Ada satu tantangan yang sama-sama dirasakan Aryo dan Nadine, yakni menjalani 40 hari tanpa memegang ponsel dan jauh dari keluarga.
Bagi Aryo, bagian itulah yang justru terasa berat.
"Itu jauh dari orang tua sama nggak megang HP sama sekali selama 40 hari itu," katanya.
Aryo mengaku tidak sampai menangis karena merindukan orang tuanya, tetapi rasa rindu tersebut tetap terasa berat.
Hal serupa dirasakan Nadine.
Selama 40 hari, mereka tidak berkomunikasi menggunakan ponsel dengan keluarga maupun teman-temannya.
"Jadi kita di sana tuh kan memang benar-benar jauh dari orang tua sama teman-teman juga, kan. 40 hari nggak megang HP, nggak kontakan, kayak benar-benar lost contact. Jadi kita nggak tahu kabar teman-teman kita di sana bagaimana, Kak," tutur Nadine.
Namun, selama menjalani masa tersebut, mereka memiliki pamong yang menjadi pengganti orang tua.
Selain pamong, terdapat pula dokter, klinik, dan pelatih yang mendampingi mereka.
"Jadi kita memiliki keluarga baru," kata Nadine.
Pesan untuk Pelajar Bengkulu
Setelah melewati rangkaian seleksi, latihan, hingga akhirnya menjalankan tugas di Istana, Aryo dan Nadine membawa pulang pengalaman tersebut ke Bengkulu.
Aryo berpesan kepada pelajar Bengkulu yang ingin mengikuti seleksi Paskibraka pada tahun berikutnya agar mempersiapkan diri sejak jauh hari.
Persiapan tersebut meliputi fisik, PBB, hingga TWK/TIU.
"Untuk yang tahun depan, semangat menjalani tesnya. Kalau bisa, persiapkan itu dari jauh-jauh sebelum tes. Untuk fisik sama PBB, terus TWK/TIU itu harus dipersiapkan benar-benar, Kak," pesan Aryo.
Nadine juga meminta calon peserta tidak merasa minder ketika berhadapan dengan peserta lain.
"Kalau untuk teman-teman yang mau mengikuti seleksi Paskibraka, pesan saya tetap semangat, jangan pantang menyerah. Pokoknya harus tetap semangat, jangan minder sama teman-teman yang lain," ujar Nadine.
Perjalanan keduanya menuju Istana memang berangkat dari titik yang berbeda.
Aryo menjalani latihan rutin sembari menjaga aktivitas akademiknya, sementara Nadine harus mengejar kemampuan PBB setelah baru mengenal Paskibra ketika SMA.
Keduanya kemudian melewati seleksi, latihan bersama peserta dari seluruh Indonesia, serta 40 hari tanpa ponsel dan jauh dari keluarga sebelum akhirnya menjalankan tugas sebagai Paskibraka Nasional 2026 mewakili Provinsi Bengkulu.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini