UPDATE Gempa di NTT: 103 Orang Meninggal Dunia, Nyawa Bayi Usia 2 Tahun Tak Tertolong di Pengungsian
Wahyu Aji August 25, 2026 07:23 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban jiwa dan pengungsi akibat gempa bumi M 7,7 yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) lalu masih terus bertambah.

Hingga Selasa (25/8/2026) pukul 16.00 WIB, BNPB mencatat korban meninggal dunia mencapai 103 orang.

Jumlah tersebut bertambah dari laporan sebelumnya 100 orang.

Korban meninggal dunia baik terdampak langsung maupun tidak langsung itu tersebar di kabupaten dengan rincian:

  • Manggarai 41 orang
  • Manggarai Timur 34 orang
  • Nagekeo 13 orang
  • Sikka 6 orang
  • Ngada 5 orang
  • Ende 3 orang
  • Manggarai Barat 1 orang

"Untuk jenis kelamin yang menjadi korban meninggal, laki-laki sebesar 45 persen sedangkan perempuan 55 persen," kata Berton saat konferensi pers secara daring pada Selasa (25/8/2026).

"Kelompok umur kami dapat katakan bahwa yang terbesar itu adalah lansia sebesar 45 persen, dewasa sebesar 37 persen, anak-anak dan remaja sebanyak 12 persen persen, sisanya adalah balita dan batita," imbuh dia.

BNPB juga mencatat total sebanyak 1.666 jiwa mengalami luka-luka dalam bencana tersebut.

Jumlah itu bertambah 63 jiwa dari laporan sebelumnya.

Dua kabupaten dengan jumlah korban luka tertinggi berada di Manggarai Timur dengan luka berat sebanyak 239 orang dan luka ringan sebanyak 404 orang serta Manggarai dengan luka berat sebanyak 58 orang dan luka ringan mencapai 474 orang.

BNPB juga mencatat penambahan jumlah pengungsi baru.

Hingga Selasa (25/8/2026) pukul 16.00 WIB, BNPB mencatat total pengungsi mencapai 185.131 jiwa baik pengungsi mandiri maupun pengungsi terpusat.

Jumlah itu bertambah sebanyak 4.804 jiwa dari laporan sebelumnya.

"Itu paling banyak di Kabupaten Manggarai (50.556 jiwa), Nagekeo (50.358 jiwa), Manggarai Timur (31.372 jiwa), Manggarai Barat (27.167 jiwa), dan selanjutnya ada di Sikka (18.833 jiwa), Ende (4.294 jiwa), dan Ngada (2.551 jiwa)," ucap Berton.

BMKG, kata Berton, mencatat sudah terjadi 7.092 kali gempa susulan sejak Sabtu 15 Agustus 2026 hingga Selasa 25 Agustus 2026.

Magnitudo terbesar tercatat M 6,2, dan yang terkecil 1,1.

"Gempa yang dapat dirasakan sebanyak 141 kali. Pola ini akan terus berlangsung, sampai empat sampai tiga minggu setelah gempa utama terjadi," pungkasnya.

Kronologi balita meninggal di pengungsian

Kisah pilu dialami seorang bocah berusia 2 tahun yang berada di pengungsian pascagempa bermagnitudo 7,7 di Kabupaten Nagekeo, NTT.

Bocah bernama Mario Calviano Guru itu meninggal dunia karena kedinginan.

Ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama dua hari, tetapi nyawanya tak tertolong.

Seorang relawan bernama Aldi mengonfirmasi kejadian tersebut.

Aldi menuturkan informasi mengenai Mario yang meninggal akibat kedinginan diperolehnya dari sesama relawan yang merupakan warga lokal di lokasi korban meninggal.

Awalnya Aldi tidak langsung mempercayai informasi tersebut. Ia kemudian mencari tahu kebenarannya.

"Saat informasi adik (korban) kita meninggal, saya sedang di jalan dari Pota di Kabupaten Manggarai Timur menuju Bajawa di Kabupaten Ngada."

"Saya tidak langsung percaya dengan informasi ini. Lantas saya cek dulu dari beberapa teman yang saya kenal, yang berada di lokasi."

"Mereka membalas, 'Benar, Bang Aldi,'" kata Aldi saat dihubungi Redaksi Tribunnews.com dari Kantor Tribun Solo di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (24/8/2026).

Aldi menambahkan, informasi mengenai penyebab korban meninggal akibat kedinginan tersebut juga telah dikonfirmasi oleh pihak keluarga.

"Benar, sudah terkonfirmasi dari keluarga korban dan relawan di lokasi," tandas dia.

Baca juga: BREAKING NEWS: Pengungsi Korban Gempa di Desa Kotagana NTT Meninggal, Sempat Dirawat di Puskesmas

Sementara itu, Kapolres Ngada AKBP Gede Harimbawa mengatakan korban sempat menjalani perawatan di rumah sakit di Kabupaten Nagekeo dan kemudian dirujuk ke Kabupaten Ngada.

"Betul, balita tersebut meninggal tanggal 20 Agustus 2026," kata Gede.

Gede mengungkapkan Mario sempat mengalami demam tinggi hingga kejang-kejang saat berada di pengungsian.

Warga bersama petugas kemudian membawa Mario ke rumah sakit terdekat di Kabupaten Nagekeo untuk mendapatkan pertolongan medis. 

Namun, kondisi Mario terus memburuk hingga akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bajawa, Kabupaten Ngada.

"Karena kondisinya tidak bagus, akhirnya dirujuk ke RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada. Namun, setelah mendapat perawatan, dia mengalami penurunan kondisi dan meninggal dunia," ujar Gede.

Sementara itu, Penanggung Jawab Posko Darurat Nagekeo, Johanes D. Kristianus, juga membenarkan informasi meninggalnya Mario.

Johanes mengatakan Mario merupakan warga Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Menurutnya, Mario bersama kedua orang tuanya mulai mengungsi di Bukit Puta sejak 15 Agustus 2026, setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores.

Selama berada di pengungsian, kondisi kesehatan Mario kemudian menurun hingga mengalami demam tinggi.

Johanes menyebut minimnya fasilitas di lokasi pengungsian juga menjadi perhatian. 

Saat itu tempat pengungsian tersebut belum dilengkapi tenda dan kelambu yang memadai.

Mario kemudian dibawa ke RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo untuk mendapatkan perawatan.

Akan tetapi, kondisi kesehatannya memburuk sehingga harus dirujuk ke RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada.

Setelah menjalani perawatan, kondisi Mario kembali menurun hingga meninggal dunia pada 20 Agustus 2026. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.