40 Hektare Sawah di Bukitremis Aceh Tamiang belum Tersentuh Program Bantuan Pascabanjir
Nurul Hayati August 25, 2026 07:25 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Areal persawahan seluas hampir 40 hektare di kawasan Bukitremis, perbatasan Kampung Pangkalan dengan Kampung Tanjungmancang, Aceh Tamiang, terbengkalai hingga Selasa (25/8/2026).

Sembilan bulan pasca-banjir bandang akhir 2025 lalu, lahan pertanian ini belum tersentuh bantuan rehabilitasi.

Kondisi tanah sawah terlihat mengering keras dengan endapan lumpur tersisa sekitar satu jengkal.

Saluran irigasi dan parit yang menjadi pilar pengairan sawah juga tampak rata tertimbun endapan material banjir.

Salah satu pemilik sawah, M Yusuf, mengungkapkan para petani tidak mampu lagi mengolah lahan secara mandiri.

Menurutnya, tekstur tanah yang mengeras akibat endapan lumpur tidak bisa ditangani menggunakan mesin traktor biasa.

"Semenjak banjir bandang 2025 itu kami tidak bisa ke sawah lagi. Kondisi tanahnya kering dan mengeras, permukaannya jadi lebih tinggi karena endapan lumpur. Ada petani yang coba sewa traktor tapi tidak mempan. Kalau mau sewa alat berat, kami tidak punya uang," ujar M Yusuf.

Baca juga: Kawanan Gajah Liar Rusak Sawah Warga di Woyla Timur, Tim WRU Dikerahkan

Yusuf menambahkan, masalah utama yang mendesak untuk diperbaiki adalah pembersihan saluran air dan pengerukan lahan.

Ia menyebut sejauh ini belum ada pihak yang turun meninjau lokasi.

"Parit-parit penampung air sudah rata tertimbun. Kami berharap pemerintah turun melakukan rehabilitasi, pengerukan parit, dan pemerataan tanah menggunakan traktor besar. Kalau dikerjakan petani sendirian jelas tidak sanggup," katanya.

Kondisi ini makin mengkhawatirkan karena jadwal masa tanam dijadwalkan mulai pada Oktober mendatang.

Waktu yang tersisa tinggal satu bulan sebelum musim tanam tiba.

Pemilik sawah lainnya, Muhammad Ali, menyatakan keberadaan sawah tersebut merupakan sumber penghasilan utama bagi warga setempat.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata di lapangan.

"Sawah ini satu-satunya mata pencaharian kami. Kalau tidak bisa ditanami lagi, kami tidak tahu harus kerja apa untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pemerintah harus turun langsung melihat kondisi kami," kata Muhammad Ali menimpali. (*) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.