SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap elite militer Iran.
Departemen Luar Negeri AS melalui program Rewards for Justice (RFJ) menawarkan hadiah hingga US$10 juta, atau sekitar Rp160 miliar, bagi informasi yang dapat membantu mengidentifikasi atau menemukan lima tokoh senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC).
Lima tokoh tersebut merupakan pejabat yang memimpin sejumlah struktur penting di dalam IRGC, mulai dari komando militer, pertahanan udara dan drone, operasi siber, hingga intelijen.
Program RFJ menyebut mereka sebagai pemimpin yang memiliki peran dalam mengarahkan berbagai unsur IRGC.
Kelima nama yang menjadi sasaran tersebut adalah Ahmad Vahidi, Ali Abdollahi, Sa'id Aghajani, Hamidreza Lashgarian, dan Majid Khademi.
1. Ahmad Vahidi
Ahmad Vahidi disebut sebagai komandan IRGC.
Namanya bukan sosok baru dalam daftar pejabat keamanan Iran yang menjadi perhatian Washington.
Posisi tersebut menempatkannya sebagai salah satu figur penting dalam struktur komando Garda Revolusi Iran.
2. Ali Abdollahi
Ali Abdollahi merupakan kepala Khatam al-Anbiya Central Headquarters (KCHQ), salah satu pusat komando strategis Iran.
KCHQ memiliki peran penting dalam koordinasi pertahanan dan operasi militer Iran.
3. Sa'id Aghajani
Sa'id Aghajani disebut sebagai komandan unit pesawat nirawak atau UAV pada Angkatan Dirgantara IRGC.
Peran ini menjadi semakin strategis karena Iran terus mengembangkan dan menggunakan teknologi drone dalam kemampuan militernya.
4. Hamidreza Lashgarian
Hamidreza Lashgarian merupakan kepala IRGC Cyber-Electronic Command, struktur yang berkaitan dengan kemampuan siber dan elektronik Garda Revolusi.
Washington menempatkan aktivitas siber Iran sebagai salah satu ancaman yang perlu dihadapi, terutama ketika operasi tersebut menyasar infrastruktur atau kepentingan AS.
5. Majid Khademi
Majid Khademi disebut sebagai komandan IRGC Intelligence Office, sehingga berada di sektor intelijen yang memiliki fungsi penting dalam pengumpulan dan pengelolaan informasi bagi Garda Revolusi.
Baca juga: Geger! Netanyahu Ungkap Iran Diduga Ingin Bunuh Putranya di Tengah Perang Israel-Iran
Departemen Luar Negeri AS melalui RFJ menawarkan hingga US$10 juta untuk informasi yang dapat membantu mengidentifikasi atau menemukan para tokoh tersebut.
Nilai hadiah tersebut dapat mencapai sekitar Rp160 miliar, tergantung pada kurs dolar AS terhadap rupiah.
Selain imbalan uang, pihak yang memberikan informasi yang memenuhi syarat juga dapat memperoleh bantuan relokasi, menurut program Rewards for Justice.
Program tersebut merupakan mekanisme pemerintah AS untuk memperoleh informasi dari masyarakat mengenai individu atau jaringan yang dianggap mengancam kepentingan dan keamanan Amerika Serikat.
Dalam keterangannya, Rewards for Justice menyatakan bahwa para tokoh tersebut memimpin dan mengarahkan berbagai elemen IRGC.
Pemerintah AS menuduh IRGC terlibat dalam aktivitas yang Washington kategorikan sebagai terorisme serta operasi yang mengancam personel dan fasilitas Amerika Serikat.
AS secara resmi menetapkan IRGC sebagai Foreign Terrorist Organization (FTO) pada April 2019.
Sebelumnya, Departemen Keuangan AS juga telah memasukkan IRGC dalam daftar sanksi terkait aktivitas terorisme.
Washington menilai IRGC memiliki pengaruh besar dalam kebijakan luar negeri dan keamanan Iran.
Organisasi tersebut juga memiliki jaringan dan hubungan dengan berbagai kelompok bersenjata yang didukung Iran di kawasan Timur Tengah.
Pengumuman hadiah ini muncul di tengah hubungan Washington dan Teheran yang masih sangat tegang.
Dalam beberapa tahun terakhir, AS berulang kali menggunakan sanksi, penindakan hukum, dan program penghargaan untuk membatasi kemampuan IRGC serta mencari informasi mengenai para pejabat dan jaringan yang dikaitkan dengan organisasi tersebut.
Tekanan terhadap IRGC juga mencakup isu siber. Departemen Kehakiman AS pada Agustus 2026 mengumumkan dakwaan terhadap 17 warga Iran yang dituduh terlibat dalam kampanye pencurian data dan kekayaan intelektual berskala besar.
Menurut jaksa AS, aktivitas tersebut antara lain dilakukan untuk kepentingan IRGC dan entitas Iran lainnya.
Dengan hadiah hingga US$10 juta, Washington kini berusaha mendorong masuknya informasi mengenai lima pejabat senior IRGC yang dianggap memiliki peran penting dalam struktur militer, drone, siber-elektronik, dan intelijen Iran.
Bagi Amerika Serikat, langkah tersebut bukan sekadar upaya mencari individu, tetapi juga bagian dari strategi untuk menekan jaringan komando dan kemampuan operasional IRGC yang selama ini menjadi salah satu instrumen utama kekuatan militer dan keamanan Iran.