TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Ahmad Doli Kurnia Tandjung mengunjungi anak korban kekerasan di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan, Selasa (25/8/2026).
Diketahui, Anak korban kekerasan ini berasal dari Dairi. Video korban yang mengalami kekerasan sempat viral dan mencuri perhatian banyak masyarakat.
Menurut Ahmad, dari hasil tinjauannya kondisi anak tersebut cukup mengenaskan. Sekujur tubuhnya mengalami luka berat.
Ahmad mengatakan, meski sekujur tubuh anak tersebut mengalami luka yang mengenaskan, kini sudah ditangani dengan baik oleh pihak rumah sakit.
"Yang luar biasanya tadi, saya lihat sangat mengenaskan ya. Jadi, seluruh apa, kepalanya itu bengkak karena dibenturkan ke tembok berkali-kali katanya. Terus kemudian, sejujurnya tubuhnya itu, termasuk bibirnya itu ada bekas luka bakar disulut mancis, ya. Terus bagian tubuh sensitifnya juga begitu. badannya semua itu seperti ada dipukul dengan benda tajam dan, besi panas,"ucapnya usai melihat kondisi korban kekerasan.
Dikatakannnya, korban tersebut bernama Alfi. Dia memiliki dua adik kembar. Dan sering mengalami kekerasan.
"Kehadiran saya di sini pertama untuk memastikan bahwa anak ini aman, ya. Alfi dan kedua adiknya kita tahu keberadaannya dan mendapat penanganan khusus. Tadi saya langsung telepon Direktur Rumah Sakit Haji ini supaya apa semua yang dibutuhkan terpenuhi. Karena itu tangannya patah juga,"ucapnya.
Ia pun membeberkan kronologi kejadian yang akhirnya Alfi mendapatkan pertolongan dan perawatan di rumah sakit.
"Ya, saya cerita kronologis dulu lah ya. Saya tiga hari yang lalu dapat WA dari anggota masyarakat biasa. Mungkin mereka sering melihat media sosial saya yang sering menangani masalah anak-anak yang mengalami masalah kekerasan ya, terutama kekerasan seksual,"ucapnya.
Mendapat pesan tersebut, ia pun langsung mencari tahu hingga akhirnya menghubungi Bupati dan kepala dinas setempat.
"Jadi, mereka sampaikan ada anak yang ditemukan. Ternyata saya tadi konfirmasi lagi dia sengan mengais-ngais makanan di tempat sampah, ya. Berusaha kabur dari rumah. Kalau tidak salah mereka, dititipin orang tuanya Mereka itu kakak beradik bertiga. Jadi, si Alfi namanya, terus adiknya kembar, laki-laki sama perempuan. Ternyata mendapatkan siksaan yang luar biasa,"jelasnya.
Setelah berkoordinasi dengan pihak pemerintah setempat, lanjutnya, adik ini langsung dirujuk ke rumah sakit.
Dikatakannya, saai ini ada 6 dokter yang menangani anak korban kekerasan tersebut.
"Jadi selain dokter anak, ada sekitar 5–6 dokter yang menangani saking parahnya, ya. Ada dokter anak, ada dokter ortopedi, kemudian ada konseling apa namanya, psikis. Ada enam," ucapnya.
Ahmad meminta, agar pihak rumah sakit membantu Alfi untuk pulih kembali. Kemudian nanti akak ditanganin ke psikolo
"Saya sudah minta tadi Rumah Sakit Haji supaya menanganinya dengan sebaik-baiknya. Saya minta agar Alfi ini kembali normal seperti semula fisiknya dulu. Nanti baru kita tangani masalah apa namanya, psikologisnya supaya traumanya hilang, dan nanti kita pikirkan sampai sekolahnya harus terus berlangsung,"ucapnya.
Doli juga berterima kasih kepada seluruh pemerintah setempat karena cepat tanggap dalamm persoalan kasus anak.
"Alhamdulillah, saya terima kasih sekaligus dalam kesempatan ini menyampaikan kepada Pemerintah Daerah Dairi, ya, Pak Bupati, Ketua DPR, dan kemudian Bapak Kepala Dinas yang sudah menangani begitu cepat kasus ini dan sampai sekarang mereka kawal. Jadi nanti kita koordinasi. Selama ini yang menangani, yang banyak membantu adalah Pemerintah Daerah Dairi,"ucapnya.
Sementara itu, iai meminta agar aparat hukum lebih peka, dan cepat tanggap dalam menyelesaikan kasus persoalan anak baik di Sumut atau Indonesia.
"Ini di Sumatera Utara saja saya sudah menangani lima. Dan saya kira ini seperti gejala gunung es ya, kayak api dalam sekam. Mungkin bisa jadi banyak kejadian-kejadian di seluruh Indonesia. Dan bagi kepolisian yang sekarang sudah menangani beberapa kasus ini, ya, tolong diselesaikan dengan cepat, sejauh ini, saya cek ada beberapa kasus anak yang belum selesai di Pengadilan,"ucapnya.
Doli berharap, pihak aparat hukum bisa bekerja sama dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak.
"Nah, jadi Bapak-Bapak aparat penegak hukum polisi, kejaksaan, dan pengadilan, tolong bisa bekerja sangat serius, sungguh-sungguh untuk menangani kasus ini, dan jangan lama-lama. Tidak ada toleransi. Tegakkan hukum dengan setegak-tegaknya sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku,"jelasnya.
Diketahui, video yang viral memperlihatkan AGP (7) dengan wajah penuh luka, bibir pecah, dan kaki lebam.
Dalam rekaman, AGP mengaku ayahnya di penjara karena narkoba, sementara ibunya tidak diketahui keberadaannya. “Aku disiksa di sini,” ucapnya lirih.
Petugas Unit PPA Sat Reskrim Polres Dairi bersama Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak segera mengevakuasi AGP.
Proses sempat dihalangi RS, namun setelah petugas menunjukkan identitas resmi, korban berhasil dibawa ke RSUD Sidikalang untuk perawatan medis dan visum.
Hasil pemeriksaan menunjukkan AGP mengalami: Luka di bibir, Lebam di tangan kiri, Luka bernanah di kaki, Pembengkakan di kedua kaki, serta Luka goresan di pelipis kanan dan kiri.
Polres Dairi telah resmi menetapkan RS (52) sebagai tersangka penganiayaan terhadap dua bocah laki-laki di Kecamatan Sidikalang.
Kasi Humas Polres Dairi, AKP Syahril Ramadhan, menjelaskan RS ditangkap pada Jumat (21/8/2026) dan langsung ditahan.
“Sudah berstatus tersangka, dan ditahan sejak kemarin,” ujarnya.
(Cr5/tribun-medan.com)