Krisis Air Bersih di Mahakam Ulu dan Ancaman Merkuri saat Kemarau
Budi Susilo August 26, 2026 12:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG - Persoalan air bersih kembali membayangi masyarakat Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur, saat musim kemarau.

Ketika sumur warga mulai mengering atau kualitas air menurun, sungai menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun pemanfaatannya juga menghadapi persoalan kualitas air, terutama di wilayah yang terdapat aktivitas pendulangan emas.

Dalam pengolahan emas menggunakan metode amalgamasi, merkuri dapat digunakan untuk mengikat emas dan menghasilkan sisa pengolahan atau tailing yang berpotensi membawa merkuri ke lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, sungai yang menjadi sumber air masyarakat tidak cukup hanya dilihat dari ketersediaannya, tetapi juga perlu dipastikan kualitas dan keamanannya melalui pemeriksaan air dan sedimen.

Baca juga: Kemarau Kian Mengancam Paser, 313 Hektar Lahan Terbakar dan Desa Mulai Kekurangan Air

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan air di Mahulu bukan sekadar kekurangan debit saat kemarau, tetapi juga menyangkut ketahanan dan keamanan sumber air masyarakat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mahulu Didik Subagya mengakui sumber air baku yang digunakan saat ini belum mampu menopang kebutuhan ketika debit sungai turun.

“Debit yang kami punya memang tidak mampu. Makanya sekarang kalau kemarau sedikit, seminggu sudah tidak tahan airnya. Itu persoalannya,” kata Didik saat dikonfirmasi, Selasa (25/8/2026).

Menurut Didik, pemerintah daerah sudah menyiapkan desain pengembangan sumber air baku dengan menggabungkan sumber dari Aguan dan Long Melaham (Lome).

Jika kedua sumber tersebut terhubung, kapasitas air baku diperkirakan mencapai sekitar 47 liter per detik, sedangkan kebutuhan air di wilayah Ujoh Bilang dan sekitarnya diproyeksikan sekitar 37 liter per detik dengan asumsi pertumbuhan kebutuhan enam persen.

“Kalau yang di Lome sudah terbangun dan digabung, air bakunya cukup. Kajian kami kebutuhan Ujoh Bilang dan sekitarnya dengan pertumbuhan enam persen lebih itu kebutuhannya sekitar 37 liter per detik. Sementara kemampuan dua sumber kalau digabung sekitar 47 liter per detik,” jelasnya.

Rencana tersebut disiapkan untuk mengurangi ketergantungan sistem penyediaan air bersih terhadap Sungai Mahakam.

Air dari sumber Lome nantinya ditampung terlebih dahulu pada bak penampungan sebelum dialirkan ke jaringan distribusi, sehingga sistem tidak sepenuhnya bergantung pada pompa.

“Air yang diambil nanti air permukaan, bukan air tanah. Setelah tertampung, baru didistribusikan dengan gravitasi. Jadi tidak menggunakan pompa,” sebut Didik.

Sumber air Lome juga direncanakan dikoneksikan dengan jaringan distribusi lama di Ujoh Bilang.

Dengan sistem yang terintegrasi, air dari sumber baru dapat masuk ke jaringan yang sudah tersedia dan cakupan pelayanan kepada masyarakat dapat diperluas.

Namun, pembangunan sumber air baku Lome hingga kini belum terealisasi karena keterbatasan anggaran.

Baca juga: Warga Mahakam Ulu Antre BBM di Pengecer Akibat Stok SPBU Kosong

Pemotongan anggaran turut memengaruhi rencana pembangunan yang dinilai PUPR menjadi salah satu kebutuhan mendesak untuk memperkuat sistem air bersih Mahulu.

“Kalau yang di Lome sudah terbangun, cukup. Itu saja persoalannya. Kalau sudah tersambung dan terkoneksi, kebutuhan air baku kita bisa terpenuhi,” ujar Didik.

Persoalan tersebut telah disampaikan PUPR dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRD Mahulu.

Pemerintah daerah meminta pembangunan sumber air baku Lome menjadi salah satu prioritas karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

“Di RDP Dewan sudah saya minta, karena ini menjadi prioritas,” pungkasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.