TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Isu dugaan upaya ‘culik-menculik’ atau intervensi terhadap delegasi mencuat di tengah pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Ketua Panitia Pusat Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meminta seluruh peserta tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum jelas kebenarannya. Ia juga memastikan tidak ada intervensi dalam pelaksanaan forum tertinggi NU tersebut.
Baca juga: Muktamar ke-35 NU Diharapkan Hadirkan Kepemimpinan PBNU yang Inovatif
"Percayakan saja sama peserta Muktamar," kata Gus Ipul.
Menurut Gus Ipul, para peserta Muktamar merupakan pengurus NU yang telah terlatih sehingga dinilai mampu memilah informasi yang beredar di tengah dinamika pelaksanaan Muktamar.
Baca juga: PLN Pasok Listrik dan Jaringan Wi-Fi di Arena Muktamar ke-35 NU Jombang
Ia menegaskan, panitia tidak menemukan adanya intervensi terhadap peserta.
"Saya pastikan tidak ada intervensi itu. Tidak ada," ungkapnya.
Gus Ipul menilai dinamika yang muncul dalam Muktamar merupakan hal yang wajar. Sebagai organisasi besar, NU memiliki banyak pihak yang ingin berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan organisasi.
Ia juga meyakini NU memiliki mekanisme internal untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul selama Muktamar berlangsung.
Di tengah isu tersebut, panitia Muktamar ke-35 NU memperkuat pengawasan di sekitar arena kegiatan dengan memanfaatkan teknologi digital.
Lebih dari 100 kamera pengawas telah dipasang di sejumlah titik strategis. Seluruh kamera tersebut terhubung dalam satu sistem pemantauan yang dikendalikan melalui command center.
Gus Ipul mengatakan kamera pengawas tidak hanya diarahkan ke lokasi persidangan. Pengawasan juga mencakup area akomodasi, tempat konsumsi, hingga sejumlah ruas jalan di sekitar arena Muktamar.
"Santri tapi paham teknologi, sehingga dari tempat ini kita bisa mengetahui semua yang terjadi di arena Muktamar," ujar Gus Ipul.
Sistem pemantauan tersebut juga dilengkapi mekanisme pelaporan dan tindak lanjut. Setiap persoalan yang muncul dapat dicatat, kemudian ditentukan petugas yang bertanggung jawab untuk menanganinya.
Dengan sistem itu, panitia berharap berbagai persoalan di lapangan dapat segera diketahui dan ditangani.
Baca juga: Pergerakan Laskar Santri Siap Kawal Kondusivitas Muktamar ke-35 NU di Jombang
Pengawasan tidak hanya dilakukan melalui kamera. Panitia juga menerapkan sistem digital dalam proses kepesertaan Muktamar.
Gus Ipul menjelaskan, data peserta telah disiapkan dan diverifikasi sebelum mereka tiba di lokasi. Sistem tersebut memungkinkan panitia mengetahui identitas peserta yang telah ditetapkan secara resmi sekaligus memastikan proses pendaftaran tercatat.
"Jadi tidak ada yang bisa main-main. Setiap pendaftaran kelihatan, sudah terekam semua," katanya.
Sistem tersebut menjadi bagian dari upaya panitia memastikan penyelenggaraan Muktamar berlangsung tertib, termasuk di tengah munculnya isu mengenai dugaan intervensi terhadap delegasi.
Gus Ipul menilai penggunaan teknologi dalam penyelenggaraan Muktamar menjadi salah satu terobosan baru yang patut diapresiasi.
Keberadaan command center diharapkan tidak hanya memperkuat pengawasan, tetapi juga mempercepat pelayanan dan penanganan persoalan yang muncul selama kegiatan berlangsung.
"Ini hal yang baru yang patut kita syukuri. Mudah-mudahan dengan adanya command center seperti ini, memudahkan layanan, cepat mengatasi masalah, dan sekaligus segera bisa mencarikan jalan keluar," ujarnya.
Selain teknologi, panitia juga terus menyempurnakan pelayanan bagi para peserta. Sumber daya manusia yang akan bertugas telah mengikuti bimbingan teknis dan mulai menjalani simulasi pelayanan.
Seluruh persiapan tersebut diarahkan untuk memastikan peserta Muktamar mendapatkan pelayanan yang baik selama berada di Jombang.