Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kekhawatiran soal vaksin Human Papillomavirus (HPV) kembali muncul, terutama ketika vaksinasi mulai menyasar anak laki-laki.
Sejumlah klaim beredar mengenai efek vaksin HPV, mulai dari tudingan menyebabkan kerusakan saraf, penyakit autoimun, kemandulan hingga penuaan dini.
Baca juga: Bulan Imunisasi Anak Sekolah Dimulai, Siswa SD Darunnajah Jaksel Terima Imunisasi Rubella hingga HPV
Klaim tersebut tentu dapat membuat orang tua ragu ketika anak mendapatkan vaksin HPV.
Namun, pakar kesehatan Dicky Budiman mengatakan klaim tersebut tidak didukung bukti kredibel.
Dicky yang merupakan dokter, ahli kesehatan masyarakat, epidemiolog sekaligus ahli lingkungan dari Griffith University. Ia juga memiliki gelar PhD bidang Global Health Security dan merupakan peneliti vaksin di Indonesia maupun Australia.
Dicky menegaskan tidak ada bukti kredibel yang menunjukkan vaksin HPV menyebabkan kerusakan saraf, autoimun, kemandulan maupun penuaan dini.
"Benarkah vaksin HPV ini menyebabkan kerusankan saraf, autoimun, kemandulan atau penuaan dini? Nah ini tentu sekali lagi tidak ada bukti kredibel yang mendukung klaim atau persangkaan tersebut ya," kata Dicky pada Tribunnews, Senin (24/8/2026).
Baca juga: Dokter Spesialis Ginekologi: Infeksi HPV Sering Tanpa Gejala, Skrining Jadi Kunci Pencegahan
Menurut dia, berbagai riset telah dilakukan untuk melihat keamanan vaksin HPV.
Salah satunya melalui riset independen Vaksin Integrity Project di Amerika Serikat, University of Minnesota.
Dicky menyebut penelitian tersebut menghimpun banyak studi, bahkan mengevaluasi sekitar 274 studi hingga 2026.
Dari berbagai studi tersebut, menurut Dicky, tidak ditemukan bukti kredibel mengenai peningkatan risiko efek samping serius yang dikaitkan dengan vaksin HPV.
Termasuk dampak buruk terhadap kehamilan, sindrom Guillain-Barre, sindrom kelelahan kronis, encephalomyelitis myalgic syndrome, sindrom nyeri regional kompleks, infertilitas atau kemandulan hingga gagal ovarium prematur.
Tinjauan tersebut juga mengintegrasikan dua ulasan komprehensif Cochrane pada 2025 sebagai pembanding.
Dicky juga mengingatkan bahwa pembahasan mengenai keamanan vaksin HPV tidak bisa dilepaskan dari sejarah penggunaannya.
Vaksin HPV telah digunakan sejak 2006.
Artinya, pengalaman penggunaannya bukan baru berlangsung ketika program vaksinasi diperluas pada 2026.
Menurut Dicky, sistem surveillance pharmacovigilance di puluhan negara telah memantau penggunaan vaksin tersebut.
Ratusan juta dosis telah diberikan sejak 2006.
Karena itu, data agregat berskala besar tersebut menjadi bagian penting dalam melihat keamanan vaksin HPV.
Dicky mengatakan tidak ditemukan sinyal seperti kerusakan saraf, autoimun, kemandulan maupun penuaan dini dari data berskala besar tersebut.
Meski klaim mengenai penyakit serius tersebut tidak didukung bukti kredibel, bukan berarti vaksin HPV tidak memiliki efek samping.
Dicky menjelaskan, seperti vaksin lainnya, vaksin HPV juga dapat menimbulkan efek samping ringan hingga sedang.
Keluhan yang dapat muncul antara lain nyeri pada lokasi suntikan, demam ringan dan pusing.
Ada pula remaja yang dapat mengalami pingsan.
Menurut Dicky, pingsan tersebut dapat terjadi akibat respons vasovagal, terutama pada kelompok remaja.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan klaim mengenai kerusakan saraf, penyakit autoimun, kemandulan massal maupun penuaan dini.
Selain keamanan, Dicky menjelaskan cara kerja vaksin HPV.
Vaksin HPV yang digunakan saat ini menggunakan teknologi Virus Like Particle atau VLP.
VLP bukan virus hidup maupun virus yang dilemahkan.
Teknologi tersebut menggunakan cangkang protein kosong, yaitu protein L1, yang meniru bentuk luar HPV.
Cangkang tersebut tidak mengandung materi genetik virus.
Karena tidak memiliki DNA atau RNA virus, vaksin tersebut tidak dapat menyebabkan infeksi HPV.
Vaksin bekerja dengan memicu sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi yang dapat menetralkan virus.
Dicky juga menjelaskan bahwa Gardasil bukan satu-satunya vaksin HPV.
Ada tiga jenis vaksin HPV yang beredar secara komersial, yakni vaksin quadrivalent, bivalent dan nonavalent.
Vaksin quadrivalent atau Gardasil melindungi terhadap empat tipe HPV, yakni tipe 6, 11, 16 dan 18.
Vaksin bivalent atau Cervarix melindungi terhadap tipe 16 dan 18.
Sementara Gardasil 9 melindungi terhadap sembilan tipe HPV, yakni 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52 dan 58.
Dicky menjelaskan program imunisasi nasional Indonesia sejak 2022 menggunakan vaksin bivalent dan atau tetravalent yang diberikan gratis kepada anak sekolah dasar.
Sementara Gardasil 9 tersedia melalui jalur vaksinasi mandiri atau swasta.
Karena itu, Gardasil merupakan salah satu produk vaksin HPV, bukan satu-satunya vaksin HPV.
Vaksin HPV terutama mencegah kanker serviks
HPV memiliki kaitan dengan sejumlah jenis kanker.
Dicky menjelaskan HPV tipe 16 dan 18 mencakup hampir 70 persen kasus kanker serviks.
Selain kanker serviks, vaksin HPV juga berkaitan dengan pencegahan kutil kelamin dan kanker lain yang berkaitan dengan HPV.
Di antaranya kanker anus, orofaring, vulva, vagina dan penis.
Dengan demikian, vaksinasi HPV tidak semata-mata berkaitan dengan satu jenis penyakit.
Bagi orang tua, informasi mengenai kandungan vaksin, cara kerjanya dan bukti keamanannya menjadi penting sebelum mengambil keputusan.
Dicky menegaskan klaim mengenai vaksin HPV yang menyebabkan kerusakan saraf, autoimun, kemandulan dan penuaan dini tidak didukung bukti ilmiah berdasarkan data yang tersedia.