TRIBUNNEWS.COM - Masalah pendengaran sering kali dianggap sepele, terutama jika gangguan yang dirasakan belum terlalu menghambat aktivitas sehari-hari.
Padahal, gangguan telinga atau pendengaran yang tidak segera diperiksa dapat menimbulkan berbagai dampak, mulai dari menurunnya prestasi anak hingga mengganggu pekerjaan dan kehidupan sosial orang dewasa.
Dokter Spesialis THT-KL RSUD Fatmawati-Soekarno, dr. Netty Widiandari, Sp. THT-KL, menjelaskan bahwa gangguan pendengaran yang terlambat ditangani dapat memberikan dampak berbeda pada anak-anak dan orang dewasa.
Pada anak-anak, kemampuan mendengar sangat berkaitan dengan proses belajar dan berkomunikasi di lingkungan sekolah.
Ketika anak mengalami gangguan pendengaran tetapi tidak segera mendapatkan penanganan, informasi yang disampaikan guru bisa tidak diterima dengan baik.
Akibatnya, anak dapat mengalami kesulitan mengikuti pelajaran dan prestasinya pun berpotensi menurun.
Menurut dr. Netty, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi masalah lain dalam pendidikan anak.
Ia mencontohkan, anak yang tidak memahami pelajaran dengan baik dapat memperoleh nilai yang rendah dan mengalami berbagai kesulitan di sekolah.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan jika anak mulai sering meminta pengulangan, tidak merespons ketika dipanggil, atau mengalami kesulitan memahami percakapan.
Baca juga: Tanda Awal Gangguan Pendengaran yang Sering Diabaikan, Apa Saja?
Dampak gangguan pendengaran juga dapat dirasakan ketika seseorang sudah dewasa, terutama dalam pekerjaan.
Kesulitan mendengar instruksi atau percakapan dapat menyebabkan seseorang salah memahami perintah.
Jika terjadi berulang kali, kondisi tersebut bahkan dapat menimbulkan teguran atau masalah dalam pekerjaan.
"Kalau perintahnya selalu salah, jadi akan dapat hukuman, dapat punishment, dapat teguran," jelas dr. Netty kepada jurnalis TribunHealth.com, Melia Istighfaroh, dalam wawancara program MOMSPIRATION di Kantor Tribunnews Solo, Klodran, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Senin (2/3/2026).
Padahal, kesalahan tersebut belum tentu terjadi karena seseorang tidak memperhatikan atau sengaja mengabaikan instruksi.
Bisa saja ia memang mengalami kesulitan mendengar tetapi belum menyadarinya atau belum berani memeriksakan diri.
Tidak hanya pendidikan dan pekerjaan, gangguan pendengaran yang tidak ditangani juga dapat membuat seseorang kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Misalnya, seseorang tidak dapat mengikuti pembicaraan ketika berada dalam rapat atau berkumpul bersama tetangga.
Lambat laun, kondisi ini dapat membuatnya memilih untuk menghindari berbagai kegiatan sosial.
Dr. Netty mengatakan, dampaknya dapat meluas menjadi gangguan psikososial.
"Jadi gangguan sosial, terus gangguan ya macam-macam tadi, gangguan depresi yang paling berat karena memang dia merasa tidak nyaman kemudian merasa sendirian," ujarnya.
Salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang mulai menarik diri dari lingkungan.
Orang yang mengalami gangguan pendengaran mungkin merasa tidak nyaman berada di tempat ramai karena kesulitan memahami apa yang sedang dibicarakan.
Akibatnya, ia dapat memilih untuk lebih banyak berada di rumah dan mengurangi interaksi dengan orang lain.
Menurut dr. Netty, seseorang bahkan bisa merasa terasing meskipun berada di tengah banyak orang.
"Merasa dirinya sendirian. Itu yang loneliness itu yang sangat mengganggu," katanya.
Kondisi tersebut dapat semakin berat apabila berlangsung lama dan tidak mendapatkan perhatian maupun penanganan yang tepat.
Perubahan perilaku seseorang juga sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai sikap antisosial atau tidak mau bersosialisasi.
Seseorang yang sebelumnya aktif berkumpul tetapi kemudian mulai jarang menghadiri kegiatan masyarakat, pergi ke tempat ibadah, atau bertemu tetangga mungkin sedang menghadapi masalah yang tidak terlihat.
Dr. Netty mengingatkan bahwa gangguan pendengaran bisa menjadi salah satu penyebabnya.
"Jangan orang depresi di pojokan itu dibiarin. Kadang-kadang, 'ya sudah, orang salah dia sendiri enggak mau bergaul'. Sebenarnya ada sebabnya, loh. Dia enggak mau bergaul itu mungkin iya, enggak pede karena dia enggak mendengar," jelasnya.
Keluarga, teman, dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam mengenali perubahan tersebut.
Jika seseorang mulai jarang berinteraksi atau menarik diri, sebaiknya jangan langsung menghakimi.
Cobalah bertanya dengan cara yang baik mengenai alasan perubahan perilakunya.
Jika terdapat tanda-tanda kesulitan mendengar, orang tersebut dapat disarankan untuk memeriksakan kondisi pendengarannya kepada dokter.
"Perlu perhatian, perlu peduli," tegas dr. Netty.
Ia menekankan bahwa perhatian dari orang-orang terdekat dan pemeriksaan yang tepat, gangguan pendengaran dapat lebih cepat diketahui sehingga penanganan dapat dilakukan sesuai penyebabnya.
Jangan sampai masalah telinga yang awalnya terlihat sederhana justru berkembang hingga mengganggu pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, bahkan kesehatan psikologis seseorang.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)