- Beredar rekaman suara pengakuan sejumlah sopir bus di Pati Jawa Tengah yang diduga dihalangi untuk membawa massa jelang aksi demo pada Kamis (27/8/2026).
Dalam rekaman suara, sejumlah pengemudi mengaku ditekan oleh oknum polisi setempat hingga tak berani mengantarkan massa warga Pati menuju ke Jakarta.
Dalam pengakuannya, mereka bahkan mendapatkan teror hingga rumahnya didatangi petugas kepolisian.
Kedatangan aparat ini lantaran mereka sempat tidak merespons panggilan dari pihak berwajib.
"Semua bos PO ini ditelepon polisi Om, tidak berani ini om, DP nya mau dikembalikan aja ini om," tegasnya.
"Ini bis Jepara dan bis Pati, udah ditelepon polisi, juragan saya juga sama, intinya tidak boleh ikut demo, yang Jepara sebagian ada yang ditelepon, yang sudah ditelepon sama polisi juragannya," paparnya.
Kondisi tekanan tersebut memaksa pengusaha dan sopir otobus untuk mengembalikan uang muka (DP) kepada calon penyewa dari massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB).
Saat dikonfirmasi, Koordinator AMPB, Supriyono alias Botok, membenarkan isi rekaman tersebut.
Ia juga membenarkan kondisi pembatalan mendadak ini menimpa armada bus di wilayah Pati, Jepara, hingga Grobogan.
Meski rekaman suara pengakuan sopir tersebut telah beredar luas dan memicu tekanan publik, pihak kepolisian hingga kini belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan intimidasi armada bus tersebut.
Tak hanya itu, bus yang membawa sejumlah warga Pati menuju Jakarta juga sempat mengalami kendala di perjalanan.
Bus yang membawa rombongan dilempari batu oleh orang tak dikenal di Tol Karawang Senin (24/8/2026) siang.
Kaca depan bus disebut pecah akibat lemparan tersebut. Serpihan kaca juga disebut mengenai sejumlah penumpang.
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dijadwalkan menggelar aksi di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Kamis (27/8/2026).
Dalam aksi tersebut, massa membawa dua tuntutan, yakni mendesak pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati bagi koruptor.