Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto
TRIBUNFLORES.COM,MAUMERE - Filomena Piliana, bersama anak Maria Agustina Jein yang masih berusia 7 tahun harus mengungsi di tenda darurat didepan rumah di Desa Meken Detun, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mereka mengungsi karena rumah mereka rusak akibat gempa Flores, Sabtu 15 Agustus 2026 lalu.
Tak sendirian, keduanya ditemani Aluysia (65) yang merupakan ibu dari Filomena.
Rumah berdinding batu merah yang sebelumnya mereka tempati, kini ambruk pada beberapa bagian dan beberapa bagian bangunan itu mengalami keretakan, sehingga mereka tidak berani masuk kedalam rumah.
Baca juga: Cerita Ega, Relawan dari Manado Hadir Pulihkan Trauma Anak Korban Gempa Nagekeo
Ditanda darurat beratapkan terpal dan beralaskan terpal itu, Filomena merawat anaknya.
Sedangkan suaminya saat ini sedang merantau ke Kalimantan.
Didalam tenda itu, selain untuk tidur, mereka menjadiakan tempat untuk mengamankan pakian, peralatan dapur untuk memasak dan surat-surat berharga.
Disaat malam hari, mereka harus menutup dinding tenda itu, agar bisa tidur dengan aman, namun karena cuaca dingin dan tidur ditempat terbuka.
Beberapa hari lalu, sang anak mengalami batuk pilek.
Karena khawatir, Filomena membawa sang anak ke Puskesmas Waipare dengan jarak kurang lebih 9 Kilometer dari Desa Meken Detun.
Di Puskesmas Waipare, Maria mendapatkan penanganan medis. Namun, karena belum memiliki kartu BPJS, Filomena harus membayar Rp. 14.500 untuk mendapatkan obat batuk pilek.
Baca juga: Peduli Korban Gempa Nagekeo, Lima Perusahaan Tambang Kalimantan Beri Layanan Kesehatan Gratis
Menurut Filomena, anak pertamanya itu mengalami batuk pilek karena tidur diluar rumah beralaskan terpal dan beratapkan terpal, apalagi cuaca dingin saat malam hari.
"Kesehatannya terganggu karena malamnya dingin, kemarin saya ada bawa ke puskesmas , di belum ada BPJS jadi saya bayar 14.500,di puskesmas Waipare, dikasih obat, mungkin karena dingin, sehingga dia batuk pilek, karena ini kan masih terbuka, malam nya dingin sekali, "ujar Filomena Rabu 26 Agustus 2026.
Selain kedinginan di malam hari, Bayi 7 bulan itu pun kepanasan di dalam tenda, Filomena harus membuat kipas angin darurat dari kardus bekas. Agar anaknya bisa nyaman.
Meski demikian, Filomena masih bersyukur karena seluruh anggota keluarganya selamat dan bisa berkumpul bersama meski dibawah tenda darurat.
Tenda darurat mereka persis berada di ketinggian sehingga, angin kencang sering melanda tenda darurat mereka yang dibangun menggunakan beberapa batang bambu dan ditutup terpal. (awk)