Renungan Harian Katolik Rabu 26 Agustus 2026, Tantangan Menjadi Pelayan Tuhan yang Tak Pantas
Oby Lewanmeru August 26, 2026 11:19 AM

Oleh : Pater Frans Funan Banusu SVD

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Rabu Pekan Biasa XXI/A/II, 26 Agustus 2026 dari Pater Frans Funan Banusu SVD berjudul Tantangan Menjadi Pelayan Tuhan yang Tak Pantas.

Renungan Harian Katolik dari Pater Frans Funan Banusu SVD merujuk pada bacaan (2Tes. 3:6-10.16-18; Mzm. 128:1-2.4-5; Mat. 23:27-32).

"Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kalian orang-orang munafik, sebab kalian itu seperti kuburan yang dlabur putih." (Mat. 23:

Kelakuan menentukan gambaran model diri dan bentuk hidup yang sesungguhnya. Fakta selalu berbicara apa adanya tentang hidup yang hendak kita bangun seturut perbuatan yang kita tampilkan itu.

Baca juga: Renungan Harian Katolik 25 Agustus 2026, Jangan Hanya Terlihat Baik, Tetapi Benar di Hadapan Allah

Mengimpikan hidup itu terberkati, namun perbuatan tak menunjang harapan itu. Kita umumnya mau supaya rezeki yang pantas itu selalu tersedia, namun kita malas bekerja. Hidup itu harus bermartabat, berwibawa dan penuh keharuman, namun fakta membuktikannya seperti kuburan. 

Yesus dalam Injil tak segan-segan mengecam para Farisi dan ahli Taurat yang tampak luar begitu indah, namun bagian dalam memuakkan dan busuk karena hidup dalam kemunafikkan dan kedurjanaan.

Hidup tampak suci padahal tidak religius karena motivasi tidak murni dan mencemarkan diri. Kerendahan hati, kejujuran  dan kesetiaan di dalam menjalankan tugas panggilan hidup sebagai umat beriman, penganut Tuhan itu yang terpenting. Godaan akan kesombongan untuk meruntuhkan rencana indah Tuhan dalam hidup sebagai pelayan selalu terbuka lebar.

Ketersesatan bisa saja terjadi. Kejelian pengendalian diri dari beragam pencobaan adalah tindakan mawas diri. Kita tak bisa menyembunyikan kelemahan manusiawi yang kadang muncul entah spontan atau pun melalui niat dan kelalaian.

Kejujuran berkomunikasi intens dengan diri untuk bertobat, membarui diri dan hati, dari keadaan ketakteraturan hidup membantu kita untuk tinggal dalam rahmat Tuhan. Tuhan menuntut upaya yang kuat untuk menjadi pelayan-Nya yang membutuhkan kuasa-Nya dan bukan kekuatan diri sendiri.

Tuhan membimbing kita dengan kuasa Ilahi-Nya agar melalui pertobatan, hati benar dan hidup dengan adil. 

Santo Paulus menasihati umat Tesalonika agar hidup tertib, teratur,  santun dan rajin kerja. Bagi sesama yang hidup tidak tertib dan tidak bekerja sebaiknya dihindari, lalu menolong mereka dengan berdoa agar mereka pun mendapat berkat Tuhan, tandas Paulus. "Barang siapa tidak bekerja, janganlah ia makan." (2Tes. 3:10). Bekerja membantu untuk memiliki sikap rendah, menolong dan memberi teladan serta menjadikan diri kita baik. Hendaknya berkat pertongan Tuhan kita rajin bekerja.

Pemazmur menanggapi dalam madahnya, "Berbahagialah orang yang takwa pada Tujan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu." (Mzm. 128:1-2). 


Hikmat yang dapat kita petik:

Meneliti diri sebagai  pelayan Tuhan yang rapuh akan menguatkan dan mendorong kita untuk giat berbenah.

Dengan giat bekerja Tuhan mendesak kita untuk melakukan kebaikan pada saat ada kesempatan. Sebab tanggung jawab atas hidup tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi yang lain.

Kita adalah alat Tuhan untuk melakukan misi-Nya. Sadar bahwa kita lemah, maka upaya membarui diri perlu agar sanggup melayani Dia dalam diri sesama dan bukan kepentingan diri sendiri. 

Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Rabu/Pekan Biasa XXI/A/II, 260826). (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.