Ini Rute Demo 11 Perguruan Tinggi Semarang Raya, Warga Diimbau Sesuaikan Rute Perjalanan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Rabu (26/8/2026) siang ini, sekitar 1.000 mahasiswa dari 10 hingga 11 perguruan tinggi di Semarang Raya akan menggelar demosntrasi.
Mereka membawa lima tuntutan yang disebut panca tuntutan rakyat atau Pantura.
Menanggapi hal tersebut, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah mengimbau masyarakat Kota Semarang mengantisipasi potensi kepadatan arus lalu lintas.
Baca juga: Isi Pantura, 5 Tuntutan Mahasiswa 11 Perguruan Tinggi Semarang Raya yang Demo Siang Ini
Berdasarkan rencana pergerakan yang diterima pihak kepolisian, massa aksi akan berkumpul di sekitar Kantor Pos.
Kemudian, mereka bergerak melintasi kawasan Tugu Muda dan area parkir Pleburan, hingga menuju Gedung DPRD Jawa Tengah untuk menggelar orasi dan panggung bebas.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Yuliyanto, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum terverifikasi.
“Kami menyampaikan informasi ini agar masyarakat dapat mengetahui adanya kegiatan penyampaian aspirasi yang direncanakan berlangsung di Kota Semarang."
"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, serta mengikuti informasi resmi,” ujar Yuliyanto, Rabu (26/8/2026).
Mengingat aksi ini melintasi sejumlah ruas jalan protokol, kepolisian meminta para pengendara yang beraktivitas di sekitar jalur perlintasan massa untuk menyesuaikan rute perjalanan.
"Bagi masyarakat yang memiliki aktivitas di sekitar lokasi maupun jalur yang akan dilalui massa, kami mengimbau untuk menyesuaikan rute perjalanan dan mengikuti arahan petugas agar aktivitas masyarakat tetap berjalan lancar,” tambahnya.
Di sisi lain, Yuliyanto menegaskan bahwa pihak kepolisian tetap menghormati kebebasan berpendapat dan mengajak peserta aksi menjaga ketertiban umum selama unjuk rasa berlangsung.
Polda Jateng berharap seluruh elemen masyarakat dan mahasiswa dapat bekerja sama menjaga suasana Kota Semarang tetap aman dan kondusif sehingga penyampaian aspirasi tidak mengganggu kelancaran aktivitas publik secara luas.
“Kami menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Pada saat yang sama, kami mengajak seluruh peserta aksi untuk menyampaikan aspirasi secara damai, tertib, dan bertanggung jawab serta menghormati hak masyarakat lainnya,” ujarnya.
Koordinator Pusat BEM Semarang Raya, Nur Majid Taufiqurrahman, mengatakan bahwa massa aksi mengusung lima poin tuntutan utama yang dirangkum dalam Panca Tuntutan Rakyat (Pantura).
Isu tersebut merupakan kelanjutan dari aspirasi yang telah disuarakan sejak beberapa bulan lalu.
"Sebenarnya kami ada lima tuntutan atau yang disebut sebagai Panca Tuntutan Rakyat yang disingkat Pantura. Isu atau tuntutan ini sudah kami bawa dari Juni kemarin," kata Majid saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu.
Majid juga membeberkan lima tuntutan tersebut mencakup berbagai persoalan krusial di masyarakat.
"Pertama, turunkan harga bahan pokok dan BBM. Kedua, kembalikan TNI dan Polri ke fungsi utama. Ketiga, evaluasi total MBG dan hentikan program KDMP."
"Keempat, kembalikan kepemilikan tanah ke rakyat dan revitalisasi segera wilayah terdampak bencana. Kelima, hentikan praktik KKN di lingkungan pemerintahan," ungkapnya.
Terkait kekhawatiran adanya provokator, BEM Semarang Raya menerapkan aturan penggunaan atribut resmi dari masing-masing kampus sebagai tanda pengenal massa aksi.
"Tiap perguruan tinggi punya dress code sendiri, misal pakai almamater. Setiap kampus juga punya lambang tersendiri, misal pakai pita untuk menandakan memang dari kampus atau fakultas yang sama," beber Majid.
Ia pun menegaskan komitmen seluruh elemen mahasiswa untuk menjaga jalannya aksi tetap kondusif tanpa kekerasan.
"Pada intinya demo kami hari ini demo non-violence, tidak menggunakan kekerasan apa pun. Semisal ada gesekan sedikit akan langsung kami tindak di situ. Kesepakatan kami tidak seperti itu, jadi kalau ada yang anarkistis bisa dipastikan bagian dari provokator," pungkasnya. (Kompas.com)