Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hanif Manshuri
TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Petani di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur mendapat kabar baik saat memasuki masa panen musim tanam kedua (MT II).
Harga gabah di tingkat petani kini mencapai sekitar Rp8.275 per kilogram. Harga tersebut dirasakan petani di sejumlah wilayah yang menjadi sentra pertanian Lamongan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan, Mugito, mengatakan harga gabah cukup tinggi tersebut terjadi di sekitar 13 kecamatan.
Wilayah tersebut mayoritas berada di kawasan yang memiliki dukungan sumber air cukup besar untuk kebutuhan pertanian.
"Kurang lebih ada 13 kecamatan yang harga gabahnya cukup tinggi. Wilayahnya berada di kanan kiri Bengawan Solo, dekat dengan tandon besar air baku pertanian, di bawah waduk besar dan kawasan Bengawan Jero," ujar Mugito saat konfirmasi TribunJatim.com, Rabu (26/8/2026).
Baca juga: Dorong Anak Muda Terjun ke Pertanian, Kota Batu Kembali Gelar Petani Muda BerJaya Class
Adapun 13 kecamatan tersebut meliputi Babat, Sekaran, Maduran, Laren, Kalitengah, Karanggeneng, Karangbinangun, Turi, Deket, Sugio, Sukodadi, Kedungpring dan Pucuk.
Menurut Mugito, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting yang mendukung keberlangsungan budidaya padi di wilayah tersebut.
Dengan pasokan air yang relatif memadai, petani dapat mempertahankan aktivitas tanam hingga memasuki masa panen MT II.
Selain produktivitas, harga jual gabah menjadi faktor penting bagi pendapatan petani.
Harga Rp8.275 per kilogram dinilai memberikan nilai ekonomi yang cukup baik bagi hasil panen yang diperoleh petani.
Baca juga: Harga Gabah di Lamongan Tembus Rp8.200 per Kilogram, Petani Nikmati Hasil Panen yang Menguntungkan
"Dengan harga mencapai Rp 8.275 per kilogram, hasil panen yang diperoleh petani memiliki nilai ekonomi yang lebih baik, " tambah Mugito.
Kondisi tersebut menjadi angin segar bagi petani setelah melalui rangkaian proses budidaya, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, perawatan hingga panen.
Terlebih, biaya produksi pertanian yang harus ditanggung petani cukup besar. Karena itu, harga gabah yang menguntungkan dapat membantu meningkatkan pendapatan setelah dikurangi biaya produksi.
Mugito menegaskan, wilayah yang mendapatkan dukungan sumber air besar memiliki keunggulan dalam menjaga produktivitas pertanian.
Aliran air dari kawasan Bengawan Solo, waduk maupun kawasan Bengawan Jero menjadi bagian penting dalam mendukung kebutuhan irigasi lahan pertanian.
"Wilayahnya dekat dengan tandon besar air baku pertanian, kanan kiri Bengawan Solo, dekat di bawah waduk besar dan area Bengawan Jero," jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga keberlanjutan sistem irigasi pertanian di Lamongan.
Ketersediaan air tidak hanya berpengaruh terhadap keberhasilan tanam, tetapi juga menentukan produktivitas dan keberlanjutan usaha tani.
Dengan hasil panen yang terserap pasar dan harga yang dinilai menguntungkan, petani di 13 kecamatan tersebut kini memiliki alasan untuk lebih optimistis menghadapi musim tanam berikutnya.