DPLH Pesawaran Tunggu Hasil Lab Ungkap Penyebab Matinya Puluhan Mangrove di Petengoran
Reny Fitriani August 26, 2026 02:19 PM

Tribunlampung.co.id, Pesawaran – Dinas Pertanahan dan Lingkungan Hidup (DPLH) Kabupaten Pesawaran masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab matinya puluhan mangrove di kawasan Petengoran pesisir Desa Gebang, Kecamatan Teluk Pandan.

Baca Juga: Mangrove di Petengoran Mati, Warga Minta Kasus Dikawal hingga Hasil Laboratorium Keluar

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DPLH Pesawaran, Andre mengatakan, pihaknya telah turun ke lokasi bersama Dinas Lingkungan Hidup Lampung dan tim penegakan hukum (Gakkum).

“Kita sudah turun bersama DLH Provinsi, Gakkum, dan juga OPT pada 20 Agustus kemarin” kata Andre kepada Tribun Lampung, Rabu (26/8/2026).

Menurut Andre, dari hasil peninjauan di lapangan, jumlah mangrove yang mengalami kerusakan diperkirakan mencapai puluhan batang, bukan ratusan.

Sementara luas area mangrove yang mengalami kerusakan diperkirakan sekitar 170 meter persegi.

Untuk memastikan penyebab kematian mangrove, tim telah mengambil sampel tanah di lokasi. 

Saat ini sampel tersebut masih dalam proses pemeriksaan di laboratorium.

“Jadi hasil sampel tanahnya sementara masih di lab. Mungkin hasilnya nanti baru diketahui penyebabnya, kematian itu nanti,” ujarnya.

Andre mengatakan, kondisi di sekitar lokasi juga perlu diperhatikan karena kawasan mangrove berada dekat dengan muara.

Menurut dia, kondisi cuaca yang sedang kemarau menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. 

Selain itu, air pasang disebut tidak masuk langsung ke area mangrove karena alirannya melewati sisi kawasan tersebut.

Di sekitar lokasi juga terdapat aktivitas tambak udang. 

Andre menyebut terdapat dua tambak yang berada di kawasan tersebut.

Selain aktivitas tambak, Andre mengatakan tim juga menemukan indikasi adanya aktivitas penimbunan atau pengolahan bahan bakar minyak (BBM) di bagian depan kawasan tambak.

Menurutnya, berbagai aliran air dari kawasan sekitar pada akhirnya mengarah ke sungai yang berada di sekitar lokasi mangrove yang mengalami kerusakan.

“Semua aliran sungainya mengarah ke situ. Ada lewat samping tambak udang,” katanya.

Andre mengatakan aliran tersebut juga berasal dari kawasan permukiman warga yang berada di bagian atas sebelum menuju ke hilir.

Karena itu, pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian mangrove hanya berdasarkan kondisi di lapangan. 

Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengetahui kondisi sampel yang telah diambil.

Andre memperkirakan hasil pemeriksaan laboratorium dapat diketahui dalam waktu sekitar 12 hingga 14 hari sejak sampel dan dokumentasi lapangan diserahkan untuk pemeriksaan.

“Kalau hasilnya tinggal tunggu dari UPT,” ujarnya.

Ia menegaskan, hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab kematian mangrove di pesisir Desa Gebang dan menentukan tindak lanjut terhadap persoalan tersebut.

(Tribunlampung.co.id/Okyindrajaya)

 

--

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.