SERAMBINEWS.COM – Iran mengeluarkan peringatan keras di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Teheran mengisyaratkan kemungkinan perubahan sikap terkait senjata nuklir sekaligus memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak ikut dalam upaya Washington mengisolasi Iran secara ekonomi.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan agresi Amerika Serikat justru mendorong negara-negara di dunia untuk mempertimbangkan kepemilikan senjata nuklir sebagai alat pencegah.
Pernyataan tersebut disampaikan Rezaei dalam wawancara dengan televisi Iran, Sabtu malam, 22 Agustus 2026, sebagaimana dilaporkan Al-Araby Al-Jadeed.
Baca juga: Trump Siapkan 5 Opsi untuk Melumpuhkan Ekonomi Iran
Menurut Rezaei, kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran telah menciptakan kondisi yang membuat perjanjian internasional dan keanggotaan dalam lembaga nuklir internasional dinilai tidak lagi cukup untuk menjamin keamanan suatu negara.
Ia menilai serangan terhadap Iran menunjukkan bahwa kepemilikan senjata nuklir dapat dipandang sebagai pencegah yang lebih efektif dibandingkan mengandalkan persenjataan konvensional buatan Amerika Serikat.
“Trump mendorong dunia, melalui kebodohannya dan agresinya terhadap Iran, untuk berpikir tentang memiliki bom nuklir,” kata Rezaei.
Rezaei juga menegaskan posisi Iran terkait Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu pintu utama perdagangan minyak dunia.
Ia menyatakan Iran tetap menganggap Selat Hormuz tertutup dan tidak akan membuka jalur tersebut sebelum Amerika Serikat memenuhi komitmen yang disebut telah disepakati dalam nota kesepahaman pada Juni lalu.
Iran, kata Rezaei, memiliki posisi strategis dalam pengelolaan selat tersebut karena menguasai lebih dari separuh garis pantai Teluk.
Rezaei juga menyebut adanya kesepakatan dengan Oman mengenai jalur tengah pelayaran di Selat Hormuz. Namun, menurut dia, kesepakatan tersebut belum dapat berjalan efektif selama Amerika Serikat dinilai tidak memenuhi komitmennya.
Ancaman Iran tidak hanya diarahkan kepada Washington.
Rezaei memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak ikut dalam kampanye tekanan ekonomi Amerika Serikat terhadap Teheran.
Ia mengatakan Iran akan menganggap negara yang berpartisipasi dalam perang ekonomi tersebut sebagai musuh.
Teheran, lanjutnya, akan terlebih dahulu melakukan komunikasi dengan negara-negara tersebut untuk mencegah mereka mengambil langkah yang merugikan Iran.
Namun, jika tekanan itu tetap dilanjutkan, Rezaei mengancam Iran tidak akan membiarkan minyak mengalir dari kawasan Teluk, baik melalui Selat Hormuz maupun jalur lainnya.
Ia bahkan memperingatkan bahwa kepentingan negara-negara di sekitar Iran dapat menjadi sasaran apabila mereka terlibat dalam perang ekonomi yang dipimpin Amerika Serikat.
Rezaei mengklaim Iran sejauh ini mampu menghadapi tekanan ekonomi dan dalam dua bulan terakhir telah mengekspor sekitar 70 juta barel minyak.
Rezaei juga mengungkapkan bahwa pengalaman Iran dalam konflik dan negosiasi dengan Amerika Serikat mendorong Teheran untuk mengubah strategi perang dan diplomasi.
Ia mengatakan perang berikutnya tidak akan dikelola dengan cara yang sama seperti konflik sebelumnya.
Menurut dia, Iran telah belajar dari pengalaman selama perang Juni 2026, termasuk dari sejumlah proses negosiasi dengan Washington yang menurutnya berulang kali berakhir dengan pelanggaran kesepakatan oleh Amerika Serikat.
“Kita perlu segera melakukan reformasi dalam perilaku diplomatik kita,” ujarnya.
Perubahan itu, kata Rezaei, tidak hanya menyangkut operasi militer, tetapi juga diplomasi, kebijakan politik, dan pengelolaan kondisi sosial di dalam negeri.
Ia menegaskan Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan ekonomi maupun militer.
Selama konflik sebelumnya, Rezaei mengatakan Iran hanya menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dan berusaha menghindari serangan terhadap kepentingan ekonomi.
Namun, pendekatan tersebut dapat berubah jika Washington terus memperluas perang ekonomi terhadap Teheran.
Rezaei memperingatkan bahwa kepentingan minyak dan ekonomi Amerika Serikat, termasuk perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan, dapat menjadi sasaran.
Ia juga menyatakan setiap pangkalan Amerika yang menerima pasukan tambahan atau lokasi yang digunakan untuk pertemuan antara Amerika Serikat dengan kelompok yang menentang pemerintah Iran akan dianggap sebagai target langsung.
Di dalam negeri, Rezaei mengklaim rakyat dan pemerintah Iran tetap berada di belakang angkatan bersenjata.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan situasi politik di Amerika Serikat yang menurutnya menghadapi perbedaan pandangan terkait perang.
Rezaei juga menilai strategi tekanan ekonomi Amerika Serikat tidak akan mampu memaksa Iran menyerah.
Ia mengklaim Washington telah kehilangan harapan terhadap keberhasilan operasi militer dan kini mencoba menggunakan blokade ekonomi untuk menciptakan tekanan dari dalam Iran.
Untuk menghadapi tekanan tersebut, Sekretariat Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran disebut tengah menyusun “dokumen keamanan ekonomi”.
Dokumen itu ditujukan untuk memberikan ruang bagi perusahaan dan sektor swasta Iran agar tetap dapat menjalankan kegiatan ekonomi secara stabil meski berada di bawah tekanan sanksi.
Rezaei juga menyerang kelompok-kelompok oposisi Iran yang berharap perubahan rezim akan membawa masa depan lebih baik bagi negara tersebut.
Ia menyinggung kondisi Suriah sebagai contoh dan memperingatkan bahwa upaya mengganti pemerintahan Iran dapat menyebabkan perpecahan negara.
Terkait kemungkinan kembalinya monarki Pahlavi, Rezaei mengatakan mereka yang menganggap kembalinya rezim tersebut akan menjadikan Iran sebagai “surga” seharusnya melihat perkembangan di negara-negara kawasan.
Di akhir pernyataannya, Rezaei menegaskan Iran tidak akan menyerah.
Ia bersumpah akan mempertahankan Iran “sampai titik darah penghabisan” dan tidak akan membiarkan musuh menginjakkan kaki di wilayah Iran.
Pernyataan tersebut menandai semakin kerasnya retorika Teheran di tengah ketegangan dengan Washington, terutama terkait tekanan ekonomi, keamanan kawasan, serta masa depan Selat Hormuz.(*)