BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Produksi cabai di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, telah mencapai sekitar 60,4 persen dari target tahunan pada semester pertama 2026.
Capaian tersebut menjadi modal bagi pemerintah daerah untuk mengejar sasaran produksi hingga akhir tahun sekaligus menjaga ketersediaan cabai di pasar lokal.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Selatan, Luhung Amin Firdaus mengatakan, produksi cabai merah keriting pada semester pertama mencapai 13 ton dari luas tanam 23,32 hektare. Sementara produksi cabai rawit telah mencapai 37,70 ton dari luas tanam 33,41 hektare. Jika kedua komoditas tersebut digabungkan, produksi sementara mencapai 50,70 ton dari total luas tanam 56,73 hektare.
“Untuk cabai merah keriting produksinya sudah 13 ton dengan luas tanam 23,32 hektare, kemudian cabai rawit sudah 37,70 ton dari luas tanam 33,41 hektare,” ujar Luhung Amin Firdaus kepada Bangkapos.com, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya dengan total produksi 50,70 ton, capaian semester pertama telah mencapai sekitar 60,4 persen dari target produksi 84 ton sepanjang 2026. Pemerintah masih memiliki target tambahan produksi sekitar 33,30 ton untuk memenuhi sasaran hingga akhir tahun. Untuk mengejar target tersebut, luas tanam cabai juga ditargetkan meningkat dari 56,73 hektare menjadi sedikitnya 70 hektare.
Adapun budidaya cabai saat ini dilakukan petani secara perorangan maupun melalui kelompok. Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan memberikan dukungan berupa sarana produksi pertanian serta penanggulangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Dari pemerintah pusat, daerah telah mengusulkan pengembangan kawasan cabai seluas lima hektare, sedangkan melalui APBD disiapkan intervensi seluas 20 hektare untuk mendukung penanganan inflasi.
“Dari Pemkab Bangka Selatan ada dukungan saprodi dan penanggulangan OPT, kemudian dari pusat kita baru mengusulkan lima hektare untuk kawasan cabai dan 20 hektare untuk intervensi melalui APBD,” jelas Luhung.
Hasil produksi cabai petani pertama-tama diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Toboali. Sebagian produksi dari lokasi yang lebih dekat dengan ibu kota provinsi juga dipasarkan ke Kota Pangkalpinang dan Kota Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Pola pemasaran tersebut dilakukan agar hasil panen dapat terserap pasar sekaligus menjaga ketersediaan cabai di wilayah Bangka Selatan dan sekitarnya.
Kebutuhan cabai di Kabupaten Bangka Selatan berdasarkan perkiraan tahunan berada di angka 84 ton. Pemerintah mencoba mengarahkan produksi lokal agar mampu memenuhi kebutuhan tersebut melalui peningkatan luas tanam dan pengembangan kawasan baru. Permintaan cabai juga masih cenderung meningkat meski pertumbuhannya relatif terbatas dibandingkan bawang merah.
“Kalau kebutuhan berdasarkan prognosis itu di angka 84 ton per tahun, jadi kita mencoba memproduksi sesuai dengan kebutuhan pada angka 84 ton per tahun,” ujarnya.
Hingga kini kata Luhung, kenaikan permintaan cabai diperkirakan berada pada kisaran 1 hingga 3 persen karena kebutuhan komoditas tersebut untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak sebesar bawang merah. Untuk memperkuat produksi, pemerintah mulai memperluas budidaya di luar sentra yang selama ini berkembang di Kecamatan Airgegas dan Kecamatan Toboali. Kecamatan Tukak Sadai, mulai dari Desa Bukit Terap, dan Desa Pasir Putih kini diarahkan menjadi wilayah pengembangan baru budidaya cabai.
“Permintaan cabai memang cenderung meningkat, walaupun tidak sebesar bawang merah karena kebutuhan untuk MBG tidak sebanyak itu, rata-rata sekitar 1 sampai 3 persen,” ucap Luhung. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)