TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sebanyak 68 peristiwa kebakaran terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sepanjang Agustus 2026.
Data Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar menunjukkan jumlah tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dua bulan sebelumnya.
Pada Juli 2026 tercatat 47 kejadian, sedangkan Juni sebanyak 31 kejadian.
Jumlah kebakaran Agustus meningkat 21 kejadian dibanding Juli dan 37 kejadian dibanding Juni.
"Peristiwa kebakaran pada Agustus ini cukup drastis peningkatannya, salah satu penyebabnya juga karena kemarau,"ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Makassar, Fadly Wellang, Rabu (26/8/2026).
Kemarau melanda daerah berpenduduk sekitar 1,48 juta terjadi sejak Mei 2026.
Mantan Camat Mamajang itu menyebut penyebab kebakaran disebabkan sampah, alang-alang, dan sejenisnya sebanyak 48 kejadian.
Penyebab lainnya tercatat 13 kejadian.
Baca juga: Tallasa City Pastikan Kebakaran Lahan Kosong Tak Ganggu Aktivitas Warga
Sementara kebakaran akibat faktor listrik sebanyak enam kejadian dan tabung gas atau kompor satu kejadian.
Adapun kebakaran yang disebabkan lilin atau obat nyamuk tidak tercatat pada Agustus 2026.
Sementara rumah tinggal menjadi objek terbanyak dengan 63 kejadian.
Selain rumah tinggal, kebakaran juga tercatat melanda toko/kios/cafe.
Total sebanyak delapan kejadian dan industri/perusahaan satu kejadian.
Kebakaran pada objek sampah, alang-alang dan sejenisnya juga cukup tinggi, yakni 55 kejadian.
"Ini yang patut diwaspadai juga, karena kemarau, jadi potensi terbakarnya alang-alang itu cukup tinggi," ujar alumni SMAN 1 Makassar.
Dominannya sampah dan alang-alang sebagai penyebab kebakaran menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian, terutama di tengah kondisi lingkungan yang mudah terbakar.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu api.
Termasuk memastikan instalasi listrik aman, penggunaan kompor terkontrol, serta tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan.
Dari rentetan peristiwa tersebut, Damkarmat mencatat satu orang meninggal dunia.
Korban meninggal dunia berada di Jalan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Kamis (21/8/2026) malam.
Ia terjebak di dalam rumah semi permanen.
Dampak kebakaran juga tercatat terhadap 122 kepala keluarga (KK).
Total luas area yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 3.150 meter persegi.
Pemerintah Kota Makassar memperkirakan total kerugian mencapai Rp3,205 miliar.
Angka kerugian pada Agustus menjadi yang tertinggi dibanding dua bulan sebelumnya.
Pada Juli, kerugian ditaksir sekitar Rp2,012 miliar, sedangkan pada Juni mencapai Rp1,672 miliar.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengajak warga untuk memperkuat kepedulian dan kewaspadaan terhadap berbagai potensi dampak musim kemarau.
Munafri mengajak masyarakat untuk saling menjaga lingkungan dan meningkatkan kehati-hatian dalam aktivitas sehari-hari.
Termasuk memastikan api, kompor, puntung rokok, hingga instalasi listrik tidak menjadi pemicu kebakaran.
"Lebih baik kita mencegah daripada mengobati. Di musim kemarau seperti sekarang, api bisa dengan cepat menjalar. Karena itu mari kita sama-sama menjaga rumah dan lingkungan kita," ujar alumni Fakultas Hukum Unhas.
Munafri juga meminta jajaran pemerintah di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk memperhatikan kondisi kesehatan masyarakar.
Termasuk dengan mendorong pelaksanaan pemeriksaan kesehatan bagi warga. (*)